Berkorban Demi Agama

Oleh M Rizal Fadillah (Mantan Aktivis HMI) pada hari Senin, 12 Agu 2019 - 15:49:09 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1565599749.jpg

Ilustrasi (Sumber foto : Ist)

Hari nahar dan hari tasyrik adalah hari hari memotong hewan kurban. Kurban atau qurban berakar kata "qoroba-yaqrobu" yakni mendekat. Dalam fiqh qurban disebut "udhiya" sembelihan. Memang menyembelih hewan tiada lain adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sejarahnya adalah perintah Allah kepada Ibrahim As untuk menyembelih puteranya Ismail As.

Ada tiga makna sederhana, yaitu :

Pertama, taat perintah dengan mematuhi syari"at-Nya. Kepatuhan menjalankan agama untuk merebut ridha dan cinta Allah SWT. 

Kedua, menumpahkan darah adalah wujud keberanian dan siap berkorban sebagai bagian dari perjuangan. 

Ketiga, sabar dan melawan bisikan setan merupakan kewajiban insan untuk menjaga kemuliaan diri dan derajat tinggi dihadapan Ilahi. 

Ibrahim berkorban demi Allah atau demi agama dan  harus bertarung batin melawan pertimbangan duniawi atau manusiawi. Akhirnya sukses dan menanglah cinta Ilahi atas cinta thabi"i.

Kini masyarakat melalaikan makna. Kurban selain dan sekedar kewajiban semata. Ada uang beli hewan dan menjadi rutinitas yang datang pada saat Panitia mengingatkan. 
Mestinya spirit pengorbanan yang ditumbuhkan. Mengorbankan watak hewani yang melekat seperti rakus, berfikir pendek, sok kuasa, membangun rivalitas serta hanya mencari "apa dan siapa" yang bisa dimakan.

Berkorban untuk anak istri, masyarakat, bangsa dan negara adalah bagus, tapi itu tidak cukup. Tanpa keterkaitan agama menjadi sia sia atau bodoh. Menisbahkan pada agama adalah kesempurnaan dan puncaknya adalah membela kepentingan agama. Agama yang dilecehkan, disalahmaknakan, atau dikecilkan adalah tantangan yang mesti dilawan. 

Agama yang diputarbalikkan porsi dan fungsinya seolah agama itu radikal, intoleran, fundamental bahkan ekstrim adalah kejahatan menyerang agama. Betapa manusia telah mendustakan Allah dengan predikat-predikat zalim tersebut. Beragama harus moderat, sekuler, taat pemimpin apapun, jangan menihilkan hiburan, atau mengabdi pada budaya lokal adalah penyesatan yang nyata.

Agama di bawah kekuasaan politik dan ekonomi, agama dibawah ideologi negara, agama dikendalikan kemauan global, agama dipinggirkan demi investasi dan kesejahteraan, ataupun agama yang hanya jadi komplemen pembangunan infrastruktur merupakan bentuk kejahiliyahan baru yang mesti disembelih. Dikorbankan. 

Bagi orang yang yakin pada kehidupan setelah kematian ia akan rela berkorban demi agama. Karena itu jalan yang dipuji dan jaminan untuk meraih kemuliaan hakiki di tengah pergaulan insani dan dihadapan Allahu Rabbi. Masa kini kebrutalan mengacak acak agama semakin meningkat, karenanya bekerja dan berbuat dalam berkorban untuk membela agama adalah misi suci. 
Menyembelih hewan qurban adalah keberanian menumpahkan darah untuk menunaikan misi suci itu. Tabarakallah.

11 Dzulhijjah 1440 H/12 Agustus 2019 (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #  

Bagikan Berita ini :