Dibanding Airlangga, Lebih Cocok Rizal Mallarangeng Calonkan Diri Tantang Bamsoet

Oleh Haris Rusly Moti (Pengamat Parpol) pada hari Rabu, 14 Agu 2019 - 21:36:54 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1565793414.jpeg

(Sumber foto : Istimewa)

Golkar adalah satu-satu nya Partai Politik di Indonesia yang paling dinamis. Kompetisi di Golkar sangat terbuka dan cukup bebas. Bisa dikatakan, hanya Partai Golkar yang di era reformasi berhasil melakukan revolusi demokrasi di dalam struktur Partai nya.

Dalam perhelatan nasional memilih Ketua Umum, di Golkar sangat terbuka dan bebas. Faksi-faksi oligarki di dalam tubuh Golkar dapat bersaing secara terbuka untuk merebut mahkota Ketua Umum. Bahkan katanya "setan" sekalipun, diberi kesempatan untuk berkompetisi.

Berbeda dengan sejumlah Parpol yang lahir era reformasi, era demokrasi ultra liberal, justru terjebak di dalam struktur dan kultur feodalistik. Perhelatan nasional dalam memilih Ketua Umum sangat tidak dinamis, cenderung beku. Tidak ada kompetisi yang bebas terbuka. Kita sudah tahu terlebih dahulu  siapa Ketua Umum terpilih jauh sebelum Kongres atau Munas digelar.

Kepemimpinan Parpol yang dilahir di era reformasi itu juga dikelola dan diwariskan secara turun-temurun berdasarkan garis darah. Hanya mereka yang "berdarah biru" yang berhak menjadi putra mahkota pewaris tahta Ketua Umum Parpol. Mereka yang "berdarah merah" atau "darah hitam" tidak punya hak mewarisi mahkota Ketua Umum Parpol.

Karena itu, menurut pendapat saya, Partai Golkar sebagai asset demokrasi,  semestinya dipimpin oleh politisi yang punya kemampuan dan talenta menyampaikan gagasan Partai ke rakyat.

Bukankah salah satu fungsi Ketua Umum Parpol adalah sebagai juru penerangan untuk menancapkan kehendak Partai ke dalam kesadaran rakyat. Fungsi Ketua Umum Parpol itu juga adalah penyambung lidah rakyat.

Jika seorang Ketua Umum Parpol nya jarang pidato di depan publik dan jarang berbicara di depan media, maka sulit bagi Partai itu tampil memimpin dan mengubah keadaan di dalam masyarakat. Parpol tersebut juga tidak bisa menjadi "penyambung lidah rakyat".

Saya berpendapat, Ketua Umum Golkar ke depan mestinya figur yang selain mempunyai kemampuan intelektual, juga punya kemampuan untuk menyampaikan gagasannya  secara lisan maupun tulisan.

Menurut pendapat saya, lebih cocok jika DR. Rizal Mallarangeng (Celi) yang didapuk untuk mencalonkan diri jadi Ketua Umum Golkar menantang Bambang Soesatyo. Keduanya adalah mantan aktivis mahasiswa di masa muda. Keduanya punya talenta berbicara di publik dan menulis.

"Daripada Rizal Mallarangeng menjadi "die hard" nya Airlangga, lebih baik tampil sendiri sebagai Calon Ketua Umum".

Sementara itu,  Airlangga Hartarto, yang habitatnya sebagai pengusaha, talentanya di dunia bisnis, selayaknya fokus saja menjadi Menteri nya Jokowi di bidang industri dan Investasi. Airlangga Hartarto tidak punya talenta sebagai Ketua Umum Parpol, yang menuntutnya untuk selalu tampil di media dan berbicara di publik.

Dengan adanya perubahan figur Ketua Umum, maka kita harapkan Golkar akan reborn, dan tampil kembali sebagai pemenang pada Pileg dan Pilpres akan datang.

Jakarta, 14 Agustus 2019

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #  

Bagikan Berita ini :