Laki-Laki di Bawah Payung (Menjawab Noorca M Massardi)
Oleh Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi III DPR RI) pada hari Rabu, 28 Des 2016 - 08:01:08 WIB

Bagikan Berita ini :

82KolomDjoked.jpg
Sumber foto : Ilustrasi oleh Kuat Santoso/TeropongSenayan
Kolom Bersama Djoko Edhi S Abdurrahman

Payung! The man under umbrella dibuat dalam satu garis yang tak putus, dengan satu goresan Sketsa Rembrandt.

Lebih mudah menangkap konsep imajinasi Noorca M Massardi dari sketsa Rembrant. Syahdan, sejak pena menggurat kanvas, tak kunjung putus hingga sketsa itu rampung paripurna. Tak ada yang tahu berapa juta titik yang bersambung menjadi garis, menjadi The Man Under Umbrella (Laki-Laki di Bawah Payung). Rembrandt memang jenius, melukis sketsa potret dirinya di bawah payung.

Tak ada bedanya dengan Noorca Massardi memotret dirinya di bawah payung. Subtansinya payung itu. Sebelum diberikan kata predikat dan kata keterangan. Menjadi tak penting toh.

Laki-laki itu, boleh saja kau kasih nama teater, 7 seni, atau apa saja. Payung itu juga, kau boleh kasih nama hukum, undang-undang. Asal ia tetap the man under umbrella yang menyatukan segala titik menjadi garis.

Lelaki di sketsa itu berteduh dari hujan di bawah payung hitam, di remang lampu kota yang berkilauan sambil bertanya. Mengapa ia berada di bawah payung itu? Payung itu bergoyang-goyang diterpa angin malam.

Apakah payung itu mampu melindungi aku dari hujan? Lelaki itu menangis. Airmatanya melompat jatuh ke ujung sepatu hitamnya yg berkilau. Rintik hujan juga menerpa ujung sepatunya.

Lelaki itu membantin, payung itu tak cukup melindunginya dari hujan dan airmata. Tapi ia tetap butuh payung, setidaknya untuk merenung, menyusun sublimasi potret diri, menyatukan titik sketsa rembrandt menjadi sebuah konsep obligation (kewajiban negara) dan rights (hak warga negara).(*)

tag: #  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Tidak ada Poling untuk saat ini