Lobi TSBerita TSZoom TSRagam TSKita TSNongkrong TSJakarta TSMitra TSGrafis TSTV
Pancasila dan Ironi Kesejahteraan Pribumi
Oleh Gde Siriana - ( Kamis, 18 Mei 2017 - 13:14:46 WIB ) di Rubrik TSKita

Bagikan Berita ini :

86IMG_20170515_144319.jpg
Gde Siriana
Sumber foto : Istimewa

Dalam dunia periklanan, sebelum performance utama ditayangkan, jauh sebelumnya sudah dikeluarkan iklan cuplikannya yang disebut teaser untuk membangun rasa penasaran public. Pertarungan Pilpres di 2019 sudah mengeluarkan teaser-teaser nya dalam Pilkada DKI 2017, yang akan diteruskan dengan teaser berikutnya di Pilkada 2018.

Tetapi apapun yang dihadirkan oleh pentas demokrasi Indonesia di atas panggung milik penguasa-penguasa ekonomi dunia dalam dua tahun ke depan, tidak akan memberikan makna fundamental yang menjadi harapan publik, terutama rakyat pribumi Indonesia.

Sejak jatuhnya rezim Orde baru, Indonesia telah sepenuhnya takluk pada hegemoni kapitalisme global. Outcomes yang dihasilkan dari proses produksi dan distribusi nasional, sebagian besar dinikmati oleh kapitalisme global bersama sel-sel implan yang telah ditanamkan dalam virus demokrasi liberal, sedangkan rakyat pribumi Indonesia hanya mendapat yang tersisa.

Bandul politik tidak pernah berada di tengah, yang menjadi ukuran bahwa elit bangsa sungguh-sungguh mengusahakan kesejahteraan kepada rakyat Indonesia yang masih miskin, dan mayoritas adalah pribumi. Bandul politik selalu bergerak ke arah kapitalisme global berada, dan sesekali bergerak ke arah di mana kelompok Islam berada hanya agar dapat kembali lagi ke arah kapitalisme dengan daya yang lebih besar lagi.

Dan selama proses itu berlangsung, yang sangat menyakitkan perasaan pribumi Indonesia, adalah Pancasila diteriakkan dengan lantang seakan-akan telah dijalankan demi mewujudkan keadilan sosial.
Tak satupun dari kita bisa menjawab siapa pemimpin bangsa yang sungguh-sungguh telah mengupayakan kesejahteraan ekonomi untuk pribumi Indonesia.

Benar kita dapat menyebutkan penemu atau bapak Pancasila. Tetapi kita tak mampu menyebut Bapak Pewujud Pancasila, setidaknya sampai hari ini. Karena kita telah hilang kemandirian sebagai sebuah bangsa dan Negara. Semua elit yang bertikai demi memperebutkan kekuasaan, dengan nama demokrasi liberal, tidak lebih hanya memainkan naskah dan arahan sutradara yaitu kapitalisme global.

Tak ada satupun elit bangsa yang sadar, bahwa sel-sel implan kapitalisme global dalam tubuh bangsa Indonesia sudah menyebar seperti sel kanker, yang suatu saat nanti sel-sel asli menjadi sel-sel mutan, bukan lagi memiliki sifat-sifat jatidiri bangsa Indonesia, dengan demikian jika itu terjadi maka dapat dipastikan Pancasila tidak akan dibutuhkan lagi, setidaknya sangat mungkin direvisi seperti amandemen UUD 1945, karena nilai-nilainya dianggap sudah tidak sesuai dengan cara hidup bangsa Indonesia mutan.

Jika hari ini ada elit bangsa yang menyadari apa yang akan terjadi pada bangsa Indonesia 10 atau 20 tahun ke depan, maka seharusnya memiliki keberanian untuk muncul dan menyatakan perang terhadap agenda-agenda kapitalisme global. Jika elit inging berperang, maka lakukanlah demi mewujudkan kesejahteraan ekonomi pribumi Indonesia.

Bukan menjadi tokoh antagonis, protagonist, tritagonis atau deutragonis nya sutradara kapitalisme global. Tentukanlah peranmu sendiri keluar dari naskah sutradara, itu namanya bangsa dan Negara mandiri.(*)


Editor : Redaktur | teropongsenayan.com
tag: #  

Bagikan Berita ini :



Tanggapan Anda atas berita ini?

BeritaLainnya

88IMG_20170201_194417.jpg
34IMG_20170201_194417.jpg
65IMG_20170918_105036.jpg
40IMG-20151012-WA0011.jpg
64IMG_20170709_155721.jpg
66IMG_20170916_135451.jpg