Lobi TSBerita TSZoom TSRagam TSKita TSNongkrong TSJakarta TSMitra TSGrafis TSTV
Anak Tokoh Korban PKI, DI/TII, PKI Bhakti Sosial Bareng, Begini Suasananya
Oleh M Anwar - ( Jumat, 19 Mei 2017 - 20:58:41 WIB ) di Rubrik TSBerita

Bagikan Berita ini :

48IMG_20170519_205117.jpg
Foto bersama Silaturahmi dan Bhakti Sosial FSAB ke Yayasan Suffah 47, dari kiri ke kanan Catherine (Putri D.I. Panjaitan/Pahlawan Revolusi), Sarjono (Putra SM Kartosuwiryo/Imam DI/TII), Suryo Susilo (Ketua FSAB), Poppy (Keponakan DN Aidit/Tokoh PKI) di Malangbong, Garut, Selasa (16/5/2017)
Sumber foto : Istimewa

GARUT (TEROPONGSENAYAN)--Tak ingin mewarisi konflik maupun dendam, anak dan keturunan tokoh yang dulunya berseberangan kini memilih bergandengan tangan membentuk Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Bahkan mereka melakukan aksi bhakti sosial di Garut, Jawa Barat lokasi yang pernah menjadi markas DI/TII.

Itulah yang dilakukan rombongan FSAB yang terdiri dari Catherine (putri almarhum DI Panjaitan, Pahlawan Revolusi), Poppy Anasari (putri Murad Aidit, adik DN Aidit, tokoh PKI), Martinus Johan Mosi (keturunan Tionghoa, korban kerusuhan Mei '98), dll. Mereka mengunjungi Yayasan Suffah 47 di Malangbong, Garut, Selasa (16/5/2017).

Yayasan Suffah 47 dipimpin oleh Sarjono (putra Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, tokoh DI/TII), di Malangbong, Garut, Jawa Barat. Mereka terlihat sangat akrab pada acara silaturahim dan bhakti sosial itu. Padahal dulu orang tua mereka dan pengikutnya konflik, bahkan saling membunuh.

"Kalau kami bisa, mengapa masyarakat Indonesia tidak bisa?," papar Suryo Susilo, Ketua FSAB di sela-sela acara Silaturahmi dan Bhakti Sosial FSAB kepada Yayasan "Suffah 47" di Malangbong, Garut, Jawa Barat, Selasa (16/5/2017).

Suryo mengungkapkan anak para tokoh yang bergabung di FSAB memiliki alasan yang kuat untuk memiliki perasaan benci dan ingin membalas dendam. Namun dengan kegiatan silaturahmi dan dialog yang berkali-kali, akhirnya sepakat untuk 'berhenti mewariskan konflik, dan tidak membuat konflik baru'.

Menurut Djoko Purwongemboro, salah satu pendiri FSAB, mereka yang tergabung FSAB berasal dari keluarga yang dulu bersebrangan ideologi kini telah menjadi sahabat yang akrab. Tak hanya itu mereka meyakini bahwa Pancasila adalah ideologi yang tepat untuk bangsa Indonesia, bukan ideologi yang lain.

"Teman-teman FSAB juga mendukung pasangan yang berbeda waktu Pilkada DKI Jakarta, tapi setelah Pilkada selesai, tidak ada lagi pertentangan diantara mereka," kata Faisal Saleh, salah satu pengurus FSAB.

Sedang Martin, koordinator kegiatan siturahmi dan Bhakti Sosial dan Silaturahmi FSAB ke Yayasan Suffah 47 mengatakan, sebagai orang Tionghoa dan non muslim, mengaku terharu diterima dengan tangan terbuka oleh kang Jono (panggilan akrab Sarjono Kartosuwiryo-red). Dia mengungkapkan bicara panjang lebar dan dari hati ke hati dengan kang Joko.

"Jadi memang tidak ada masalah dan tidak perlu dibuat masalah mengenai perbedaan suku dan agama atau SARA di Indonesia, sejauh kita bisa saling menghormati dan mau bekerjasama," papar Martin.(dia)


Editor : Redaktur | teropongsenayan.com
tag: #  

Bagikan Berita ini :



Tanggapan Anda atas berita ini?

BeritaLainnya

36FB_IMG_1500735215106.jpg
61FB_IMG_1500734617916.jpg
4620170722_212738.jpg
52DPD-RI-Serap-Masukan-Sumut-Tentagn-RUU-Energi-Terbarukan (1).jpg
16-PRW-RIRI-OK.jpg
15syahrial-oesman.jpg