Lobi TSBerita TSZoom TSRagam TSKita TSNongkrong TSJakarta TSMitra TSGrafis TSTV
FPI Game Over
Oleh Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi Hukum DPR dan Wakil Sekretaris Pemimpin Pusat Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU) - ( Senin, 26 Jun 2017 - 06:23:29 WIB ) di Rubrik TSNongkrong

Bagikan Berita ini :

44SAVE_20160822_125409.jpg
Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi Hukum DPR dan Wakil Sekretaris Pemimpin Pusat Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU)
Sumber foto : Ilustrasi oleh Kuat Santoso

Bani Islam kalah. Bani Kotak menang. Bactiar Nasir sudah jinak. Apalagi? Puja-puji Nasir pun mengalir kayak air pancuran di Tapian Nauli. Salah satu yang terpuji adalah program ekonomi umat dari Presiden Jokowi yang tiga bulan lalu dideklarasikan di Hotel Sahid Jakarta. Program 86.

Sebelumnya, Rais Aam PBNU, Prof KH Makruf Amin meraih gelar profesor di UIN Malang untuk bidang Ilmu Ekonomi Keummatan. Sebuah cabang baru ilmu ekonomi di dunia ilmu ekonomi yang tengah saya pelajari. Maklum menyangkut Rois Aam saya di PBNU.

Dari tematik Ekonomi Keummatan itu, saya berkesimpulan bahwa Bani Islam kalah telak. Tadinya Bani Kotak kalah. Skornya 2:0. Yaitu, Ahok tumbang di pilkada DKI, dan masuk bui. Sejak temu pemimpin GMPF MUI kemarin, skornya 2:3. Bani Islam kalah.

Kalahnya di mana? Pertama, Bani Islam lempar handuk (menyerah). Ke Istana bersua Presiden Jokowi, dan kata berita, GNPF sudah mendukung Presiden Jokowi. Kalah.

Kedua, telah ada rekonsiliasi. Sebelumnya issu rekonsiliasi adalah pesan Habib Rizieq dari Saudi: "Rekonsiliasi atau Revolusi?". Lalu, Prof Yusril Izha Mahendra bicara proses rekonsiliasi. Jadi, jelas ide dan ushulnya dari Habib Rizieq cq GNPF. Kalah.

Ketiga, Ahok masuk bui, tokoh-tokoh Bani Islam juga masuk bui. Tak ada deal pembebasan. Lebih maju saya bersama Bursah Zarnubi ke Tito Karnavian, masih punya deal pembebasan aktivis yang dituduh makar. Alhasil, skor Bani Islam kalah 3. Sedang Bani Kotak cuma kalah 2.

Bagi Ghonimahnya, Bro

Kita sudah pengalaman yang begini di politik Indonesia. Sudah tabiat. Ilmu reman. Bagi sajalah 86 nya. Ormas Islamnya ada 18, dikali Rp 1 triliun, baru Rp 18 triliun. Kecillah itu, kata Anak Medan. Satu taypan, lebih dari cukup untuk covered. Kasihkan ke James Riyadi saja, ambilkan dari Meikarta. Jadi keliru pernyataan Habil Marati, karena tak bicara persentase 86. Coba dihitung! Duit 86 masuk kategori ghonimah (pampasan perang). LOL.

Dampak rekonsiliasi ghonimah itu, luar biasa. Hal itu, karena publik Bani Islam tahu, ini bukan laksana perjanjian Hudaibiyah, tapi perjanjian 86. Niscaya takkan ada lagi demo jutaan. Niscaya tak bakal ada lagi Demo Bela Islam ke depan. Keikhlasan mereka dicabut, expired, kembali ke rumah tuhannya. Mosok orang bersedia jalan kaki dari Cirebon ke Jakarta kalau tak ikhlas. Payah FPI.

Padahal saya sudah mengidolakan Habib Rizieq yang mampu berdakwah nahi mungkar. Sebab, tak mampu dilakukan oleh PBNU. PBNU hanya mampu berdakwah amal makruf (mengajak ke kebaikan), bukan dakwah nahi mungkar (melawan kejahatan). Kalau sama-sama amar makruf, di PBNU saja.

Luar Biasa Mukidi

Tak nyana Presiden Jokowi jenius. Mampu menjinakkan singa-singa Islam hanya dengan ghonimah Rp 18 T. Itu jika Rp 1 T per ormas Islam. Apalagi ke 18 ormas Islam itu kelak jadi timses pilpresnya. Kecil. Sangat kecil. Dengan ongkos ghonimah Rp 18 T, Presiden Jokowi melaju ke periode kedua Presiden RI, lus-mulus. Daripada bayar parpol yang pada akhirnya tetap saja ormas tadi yang bekerja.

Karena yang berjasa adalah Kapolri yang berhasil nakut-nakuti tokoh-tokoh GNPF, hampir pasti Tito Karnavian yang mendampingi Jokowi jadi Cawapres.(*)


Editor : Redaktur | teropongsenayan.com
tag: #  

Bagikan Berita ini :



Tanggapan Anda atas berita ini?

BeritaLainnya

50SAVE_20160822_125409.jpg
9obrolan pagi-1.jpg
86index.jpg
76SAVE_20160822_125409.jpg
35SAVE_20160822_125409.jpg
90obrolan pagi-1.jpg