Lobi TSBerita TSZoom TSRagam TSKita TSNongkrong TSJakarta TSMitra TSGrafis TSTV
Jalan Tengah Ideologi Bangsa
Hantu Komunis dan Kapitalis Sang Pembunuh Senyap
Oleh Rezha Nata Suhandi (Peneliti Sang Gerilya Institut) - ( Senin, 25 Sep 2017 - 17:11:32 WIB ) di Rubrik TSKita

Bagikan Berita ini :

25IMG_20170925_170617.jpg
Rezha Nata Suhandi (Peneliti Sang Gerilya Institut)
Sumber foto : Istimewa

TSPol

Apakah yang Anda harapkan terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang baru dilantik?
Melanjutkan program Gubernur-Wakil Gubernur sebelumnya (termasuk reklamasi teluk Jakarta)
Menjalankan program 100 hari pertama sebagai Gubernur-Wakil Gubernur
Menjalankan komunikasi dan interaksi intetsif dengan warga ibukota

Lihat Hasil Poling

September, adalah bulan yang ceria menurut Vina Panduwinata berdasar judul lagu yang seringkali disenandungkannya. Namun, akhir-akhir ini keceriaan bulan September meredup seiring dengan isu pembahasan yang mengemuka pada ceruk informasi di media-media nasional lantas diperdebatkan pada dinding media-media sosial masyarakat Indonesia. Tentang PKI (Partai Komunis Indonesia), mengenai sejarah, pengkhianatan dan kekejiannya kala itu. Saya tak bisa menangkap hal lain diluar hal-hal yang disebutkan tadi, karena hal itu adalah dogma yang dapat saya pahami tentang bagaimana sepak terjang PKI di Indonesia. Dogma yang didapat dari konsistennya penguasa (Orde Baru) melakukan propaganda terhadap PKI.

Saya sebagai penulis artikel ini tak ingin percaya begitu saja, apalagi mengingat pembahasan mengenai PKI menukik tajam membelah rasa kemanusiaan kita terhadap ribuan korban yang mati sia-sia kala itu, tahun 1965. PKI dianggap sebagai momok bagi Indonesia yang baru saja merdeka, tumbalnya adalah kekuasaan Presiden Soekarno yang harus lengser keprabon akibat tak mampu membendung tuntutan rakyat soal pembubaran PKI. PKI juga dianggap aib dan beban sejarah yang sulit untuk dihapuskan. Pasalnya, anak-anak korban dari konflik 1965 dianggap masih memegang erat perasaan dendam kesumat yang tak habis tertelan zaman. Sulit dipercaya.

PKI pada masanya adalah partai besar, bahkan termasuk dalam 5 partai besar saat pemilu 1955. Bersama PNI, NU, Masyumi, dan Partai Syarikat Islam Indonesia, PKI menguasai parlemen dan banyak menduduki kursi kabinet di masa kepemimpinan Presiden Soekarno. PKI, partai berideologi komunis ini bak sempalan sejarah yang selalu menjadi hantu saat penghujung tahun hampir tiba, September.

Penulis tak ingin lebih jauh membahas soal PKI dan sejarahnya. Karena penulis tak ingin terjebak pada perspektif delutif dalam menafsirkan sejarah yang cenderung akan subjektif. Penulis hanya ingin membahas mengenai komunisme dan ideologi pasca reformasi. Apakah benar komunisme sekejam itu, lantas apa yang membawa keyakinan kepada para pengikutnya tentang cita-cita era kedepan sehingga dapat berbuat demikian? Lalu bagaimana dengan kapitalisme yang turut menjadi pesakitan ideologi pada bangsa Indonesia? Dan bagaimana pula Pancasila dapat bertahan terhadap himpitan ideologi-ideologi besar dunia?

Komunisme, Menggali Lubang Kuburnya Sendiri

Komunisme sebagai ideologi dikembangkan oleh 2 tokoh utamanya yaitu, Karl Marx dan Friedrich Engels. Komunisme dalam artian sempit bisa dimaknai sebagai paham yang tidak mengakui hak privat atau hak milik pribadi, komunisme menitik beratkan pada hak milik atau kepunyaan bersama.

Cita-cita komunisme melalui paradigma berfikirnya mencoba untuk menghilangkan kelas-kelas sosial pada manusia. Terutama kelas yang terbentuk akibat disparitas atau kesenjangan ekonomi. Akibat yang ditimbulkan dari perbedaan kelas itu adalah diskriminasi atau perbedaan mendasar pada hak yang seharusnya dimiliki oleh warga negara. Tentu kita mengenal kelas Proletariat atau kaum pekerja dan Borjuis atau kaum pemilik modal yang menggerakkan roda ekonomi. Dan kita seringkali menyaksikan tentang bagaimana kaum ‘papa’ senantiasa menderita dalam kehidupannya sementara kaum borjuis bergelimang dengan materi. Ini menyalahi satu sistem yang dinamakan keadilan bahkan lebih jauh dicitakan bahwa kondisi sosial masyarakat yang demikian adanya butuh pemerataan sosial ekonomi sehingga tak ada lagi ketimpangan atau struktur kelas sosial.

Dalam bukunya, Dialectical and Historical Materialism (New York: Inter, Publisher, 1950) Joseph Stalin mengungkapkan perjuangan kelas dan tindakan revolusioner. Dianalogikan bahwa kehidupan manusia seperti air yang sedang dipanaskan, pada satu titik, perubahan tak dapat dielakkan lagi. Wujud air yang terus menerus dipanaskan lalu menjadi uap panas dan terjadilah perubahan keadaan yang seketika. Artinya perubahan kecil yang mendasari sebuah elemen kuantitatif pada satu masa mencapai titik puncaknya dan perubahan yang dilakukan menjadi penting dengan mengedepankan kualitas. Perubahan yang terjadi dianggap sebagai perubahan yang cepat dan mendadak. Inilah ide dasar revolusi dan perjuangan kelas. 

Komunisme sebagai ideologi mulai populer pada era pasca revolusi Prancis di tahun 1830. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, dimana mereka lebih mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh. Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan. Prinsipnya, semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Secara umum, komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama adalah racun yang membatasi rakyatnya dari pemikiran rasional dan realistis. Karena semangat komunisme yang mengacu pada gerak revolusi manusia berdasarkan daya fikir dan menjauhkan mistisme dari peradaban yang kala itu dianggap sebagai biang keladi kerusakan manusia di Eropa terutama negara-negara yang mengalami revolusi industri, selain faktor lain yang bersinggungan dengan kemunculan agama pada abad pertengahan.

Jika menilik prinsip dasar paham komunisme mungkin akan tampak serupa dengan paham sosialisme, bahkan kita seringkali memberikan identitas yang sama terhadap sosialisme dan komunisme, padahal kedua paham tersebut memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Sosialisme didasarkan pada prinsip soliditas satu kelompok sosial yang merasa termarjinalkan, dalam hal ini kaum buruh dan tani untuk memperjuangkan masyarakat yang egalitarian, pun dengan sistem ekonomi yang diterapkan, sehingga dapat melayani masyarakat secara komunal tanpa memandang status sosial, apalagi hanya mengutamakan segelintir elite pemilik kapital.

Sosialisme juga tak anti terhadap demokrasi, hal ini kontradiktif dengan apa yang harus dijalankan oleh komunisme sebagai sebuah ideologi. Pemaksaan kehendak yang cenderung menggunakan revolusi sosial untuk menghapus keberadaan struktur sosial, dan jika sudah berkuasa, paham komunis cenderung melanggengkan kekuasaan dengan cara diktator. Ada prinsip yang menjadi satu sempalan bagi sosialisme dan komunisme yakni mengenai sistem ekonomi. Sosialisme dan komunisme sama-sama memiliki anggapan jika alat produksi harus dikuasai oleh negara dan tidak boleh dikuasai oleh privat maupun swasta. Namun jalan yang ditempuh keduanya berbeda, komunisme beranggapan, untuk mencapai tujuan ini, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan adalah melalui gerakan revolusi kekerasan (Karl Marx, Diktatur Proletariat).

Sydney Webb menjelaskan dalam bukunya Fabian Esseys (1889), menganggap sosialisme sebagai hasil yang tidak dapat diletakkan dari keberhasilan demokrasi dengan kepastian yang datang secara bertahap (inevitability of gradualness). Dan dari pernyataan tersebut, sosialisme sungguh berbeda dengan pandangan Karl Marx mengenai kepastian revolusi. Persamaan keduanya adalah cita-cita komunisme dan sosialisme sebagai sebuah ideologi yang menitik beratkan peran terpusat negara dalam mendistribusi kemakmuran rakyat. Komunisme menggunakan sosialisme sebagai instrumen nilai dalam tataran ekonomi atau penguasaan kapital. Sementara sosialisme tidak menjadikan komunisme sebagai dasar dari segala ide atau paradigma berfikir para sosialis. 

Komunisme biasa juga disebut sebagai gerakan kiri atau sayap kiri. Istilah ini merujuk pada pengaturan tempat duduk para legislatif pada masa Revolusi Prancis. Saat itu, kaum Republik yang menentang Ancien Regime biasanya disebut sebagai kelompok kiri karena mereka duduk di sisi kiri dewan legislatif (Wikipedia).

Komunisme memiliki beberapa prinsip yang dianggap penting sebagai tata aturan nilai pemahaman mereka. Pertama, yang dimaksud ideologi komunisme adalah sistem sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan berdasarkan ajaran Marxisme-Leninisme. Kedua, ideologi komunis yang berasal dari pemikiran Marx memberikan ekspresi harapan. Ketiga, orang komunis percaya historical materialism, sebab mereka memandang soal-soal spiritual hanya sebagai efek sampingan hakikat dari keadaan perkembangan materi termasuk ekonomi. Agama muncul menurut Marx disebabkan adanya perbedaan kelas sosial. Agama menjadi produk perbedaan kelas. Agama juga dianggap sebagai perangkap yang dipasang kelas penguasa untuk menjerat kelas proletariat yang tertindas. Apabila perbedaan kelas itu hilang maka dengan sendirinya agama akan lenyap sebab pada saat itu perangkap agama tidak dibutuhkan lagi. (Ahmad Suhelmi. Pemikiran Politik Barat; Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan. Gramedia Pustaka Utama 2001)

Komunisme juga tidak menerima fikiran orang lain (distrust of other reasons), penyanggahan terhadap persamaan manusia (denial of human equality), dan interpretasi secara sistem ekonomi terhadap sejarah (economic interpretation of history). Oleh karena itu mereka tak segan-segan melakukan penipuan, pengkhianatan dan pembunuhan untuk melenyapkan lawan-lawannya meskipun dari anggota partainya sendiri. (Nur Sayyid Santoso Kristeva. Sejarah Ideologi Dunia. Lentera Kreasindo. 2015)

Atas dasar prinsip-prinsip tersebut komunisme di dunia hancur lebur akibat masalah yang paling fundamental bagi tokoh sentralnya, yakni keserakahan dan menihilkan nilai kemanusiaan. Komunisme di dunia internasional sudah tidak lagi mendapat panggung. Beberapa negara yang tersisa menggunakan komunisme sebagai ideologi negara menutup diri dari pergaulan dunia luar, kita bisa melihat bagaimana Laos atau Korea Utara dalam pergaulan internasional yang tak dapat tempat dan dianggap negara dunia ketiga bahkan kesekian jika menilik instrumen politik negara. Apalagi jika kita melihat bagaimana kedigdayaan negara-negara kapitalis dalam memainkan peran dan sistem di dunia Internasional. Komunisme sudah habis masanya.

Namun, apa yang dimiliki komunisme sesungguhnya memang menakutkan jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Hanya saja kita harus tetap adil sejak dalam fikiran, semua ideologi memiliki cita-cita yang hampir serupa tentang bagaimana cara memakmurkan rakyat dan menghilangkan diskriminasi diantara mereka. Komunisme menggunakan cara anarkistis dalam merengkuh kekuasaan, walaupun penularan ideologi antar orang per orang menggunakan pendekatan semangat sama nasib sama rasa. Komunisme era milenial bak hantu di siang bolong yang hanya muncul bila ada manusia berteriak, Awas Bahaya Laten Komunis!!!

Lantas mereka yang mendengarkan perlahan menggeruduk dan mulai melingkar untuk mengamankan diri dari anarkisme paham komunis. Phobia terhadap komunis memang tak bisa dihindari akibat kejadian masa lalu yang entah bagaimana ceritanya kader partai bisa menjadi pembunuh profesional. Namun jika terus saja ada yang membuka luka lama sambil berseru komunisme telah bangkit, di era milenial yang penuh dengan diktat persaingan rasa-rasanya sedang ada yang mencoba mengail di air keruh. Menjadikan komunisme dan embel-embelnya sebagai penjahat yang harus dimusnahkan oleh teriakan kewaspadaan ala superhero. Namun jika melihat apa yang dikatakan Marx soal revolusi kekerasan dan Stalin soal penghapusan kelas. Maka titik didih itu sedang dipanaskan kini dan tinggal menunggu lompatan kondisi yang berlangsung cepat bahkan dapat mengagetkan berbagai pihak. 

Kapitalisme Pun Tak Kalah Jahat

Berbicara komunisme rasa-rasanya tak adil jika tak juga membicarakan kapitalisme. Apalagi Indonesia sebagai negara Pancasila yang berjiwa kapitalis dan seakan sedang dinina bobokan oleh nyanyian kenikmatan yang begitu bebas dari paham kapitalisme. Kita tak sadar dan tak pernah mau menyadari, apa-apa yang menjadi kebiasaan (usage) dan budaya kehidupan (culture of life) bangsa Indonesia sedang diinjak habis oleh kapitalisme. Saat era revolusi industri di Eropa, sebagian orang yang sadar, dengan kebanggaannya menggugat cara berfikir kapitalisme yang dianggap menimbulkan disparitas ekonomi secara signifikan. Gugatan itu menghasilkan nilai atau ideologi baru yang disebut sosialisme, komunisme, fasisme, anarkisme atau bahkan konservatisme. Kapitalisme digugat sedemikian rupa karena menimbulkan gejolak dan kerusakan akibat munculnya berbagai persoalan ketidak adilan. Secara fundamental, kapitalisme menyentuh hakekat dasar manusia sebagai makhluk bebas, ini berlangsung secara alamiah. Atas sebab itu, mereka yang sedang diradang kapitalisme sulit untuk sadar karena menikmati apa yang sudah disajikan kapitalisme walaupun nantinya akan ada resiko ancaman kehidupan yang musnah.

Kapitalisme berasal dari kata Capital yang berarti modal. Menurut Ayn Rand (1970) kapitalisme adalah “a social system based on a recognition of individual rights, including property rights, in which all property is privately owned”. Dapat diartikan jika kapitalisme adalah suatu sistem yang berbasiskan pada pengakuan hak milik pribadi. Berbanding terbalik dengan apa yang menjadi ide dari sosialis atau komunis dimana kedua ideologi itu tidak menghendaki adanya kepemilikan individu atas dasar kecenderungan melakukan penyelewengan atau kesewenangan. 

Ayn Rand dalam bukunya Capitalism (1970) menyebutkan terdapat 3 (tiga) asumsi dasar kapitalisme, yaitu; kebebasan individu, kepentingan diri (selfishness), dan pasar bebas (free market) dalam konteks ekonomi. Menurut Rand, manusia hidup pertama-tama untuk dirinya sendiri, bukan untuk kesejahteraan orang lain. Rand juga menolak kolektivisme, altruisme dan mistisme. Pandangan Rand dalam hal ini sungguh sangat memilukan, prinsip dasar yang dimiliki penganut kapitalisme jelas bertentangan dengan akar budaya bangsa Indonesia yang menganut nilai-nilai gotong royong, musyawarah, kerja sama dan nilai kolektifitas lainnya. Tak heran nilai asli yang dimiliki bangsa ini mulai tergusur oleh nilai yang mengedepankan keunggulan diri sendiri seperti materialism, narsisism, bahkan hedonism.

Jika kita lebih jauh melakukan rekonstruksi daya nalar kritis terhadap kapitalisme yang merupakan sebuah nilai, maka kapitalisme jelas bertentangan dengan pemahaman agama khususnya Islam yang menjadi agama mayoritas manusia Indonesia. Mengapa? Dalam Islam tak ada kebebasan mutlak bagi satu makhluk pun yang tinggal di bumi, termasuk manusia. Al-Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW sebagai syariat hukum yang harus dipatuhi tuntunannya memberikan batasan-batasan terhadap kebebasan absolut manusia di bumi. Pedoman hidup manusia sudah diejawantahkan sedemikian rupa oleh kitab Illahiah yang terlembaga bernama agama. Dalam essensi beragama, manusia pun senantiasa dituntut memiliki hubungan sosial yang baik dan meniadakan kepentingan diri atau ke-akuan. Jika kepentingan diri yang dikedepankan maka chaos atau kekacauan yang akan terjadi atas sebab bersinggungannya kepentingan diri antar individu. Lantas kapan Bangsa Indonesia berani menggugat kapitalisme dan berkata tidak untuk hegemoni modal yang menjadi parasit terhadap apa yang dimiliki bangsa ini?

Jauh lebih dalam, penulis lebih membenci kapitalisme daripada komunisme apalagi sosialisme. Sebab setiap hari, korban-korban kapitalisme berjatuhan, saban hari di pinggir-pinggir jalan korban kapitalisme meminta belas kasihan. Belum lagi mereka yang harus tergusur dan tercerabut akar kehidupannya dari tanah yang selama ini dipijak karena persaingan kapitalistis atas kepemilikan tanah atau bangunan. Nantinya tanah atau bangunan itu akan disulap menjadi kumpulan struktur bangunan yang komersil, memaksa kita menjadi konsumtif, mengikuti sistem yang tanpa henti merongrong kita sebagai manusia dalam hal tenaga, fikiran dan lainnya. Kapitalisme memberikan cover atau sampul yang begitu mempesona bagi siapapun yang melihatnya, tapi tidakkah kita berkaca kepada kedalaman diri sendiri, bahwa kita lelah terus menerus mengikuti peradaban yang didesain berdasarkan gaya hidup yang materialistis oleh para kapitalis?

Menurut Karl Marx dalam karyanya yang berjudul Das Capital (1887) kapitalisme itu mempunyai ciri mutlak yakni borjuis dan eksploitasi. Oleh karenanya, menurut Marx dengan revolusi kekerasanlah pemerintahan sosialis harus didirikan. Demi terjaminnya sistem ini, maka ia harus dijaga oleh sistem kepemimpinan yang ‘diktator proletariat’. Penulis merasa wajar atas apa yang Karl Marx ungkapkan, bentuk buah fikir Marx yang demikian dipicu oleh apa yang Ia lihat disekelilingnya. Sebagai manusia merdeka dan mempunyai hati nurani, jelas Marx geram dengan kapitalisme yang menjamur menggerogoti sendi kemanusiaan pada kehidupan di bumi. Tak ada bicara keadilan, tak ada bicara kesentosaan apalagi bentuk masyarakat yang madani. Uang bak Tuhan bagi mereka para kapitalis. Mengejar kepentingan diri dan dibalut dalam kebebasan adalah bekal sempurna seorang manusia menjadi monster penghisap darah manusia lainnya. Atas nama kompetisi, persaingan, kehidupan dibuat bagaikan cendawan racun yang mematikan.

Era sekarang pun kaum yang tersadar akan geliat hitam kapitalisme di barat membuat agama kemanusiaan (religion of humanity) karena resah akan kedigdayaan kapitalis yang seolah memburamkan nilai moral dan etika. Hal ini juga akibat terpinggirkannya dan betapa frustasinya mereka menghadapi daya dobrak kapitalism dalam merusak kehidupan manusia. Manusia memiliki nafsu dan syahwat untuk menguasai, ketika tak diberi batasan atau dibiarkan bebas tanpa aturan, maka manusia akan sangat eksploitatif dan berusaha untuk menguasai apapun yang bisa dikuasai. Liberalisme lalu kapitalisme penulis sebut sebagai pembunuh berdarah dingin nan senyap, yang tanpa kita sadari dan ketahui, kita bisa mati karena kehabisan darah akibat dihisap seluruhnya oleh kapitalis.

Begitu kejamnya ideologi yang keluar dari kepala seorang manusia hingga dapat menjadi virus yang menjangkiti kehidupan manusia lainnya. Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan budaya, sejarah dan tata nilai seharusnya dapat lolos dari virus kapitalisme global. Namun apa hendak dikata, justru oknum yang buta terhadap kehidupan manusia lainnya menjadi agen kapitalis dan terus menerus menganggap kapitalisme sebagai jalan keluar dari kesengsaraan. Kita memiliki Pancasila, yang bukan saja merupakan sebuah simbol negara namun juga pedoman kehidupan bernegara. Lalu dimana peran Pancasila disaat negara dan bangsa sedang menghadapi degradasi kehidupan seperti sekarang?

Ideologi Jalan Tengah, Non Blok Terhadap Pemikiran

Pancasila hadir sebagai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika terjadi perang dingin dan pasca perang dunia ke-2, Soekarno dengan cerdas memproklamirkan Pancasila sebagai dasar negara. Soekarno tak lagi mengacu kepada kepentingan Soviet yang komunis ataupun Amerika yang liberal. Indonesia dianggap memiliki dan mampu mengembangkan tata nilai sendiri, Pancasila.

Jika kita mencermati butir-butir Pancasila maka nilai yang terkandung sangat sosialis. Pancasila merujuk pada 2 Ideologi besar dunia, dikombinasikan dengan kehidupan dan kebudayaan yang menjadi kebiasaan rakyat Indonesia.

Sila pertama, Ketuhanan yang maha Esa. Hal ini jelas Soekarno dan para perumus Pancasila seperti Moh. Yamin tak ingin dikatakan komunis dengan mengafirmasi keberadaan Tuhan dalam kehidupan bernegara. Walaupun kala itu jargon Nasakom juga sedang menjadi trend, kelihatannya Soekarno tetap ingin memainkan politik keseimbangan tanpa harus mendiskriminasi pihak manapun. Sila pertama dalam Pancasila juga menjadi peletak dasar Pan Islamisme yang didengungkan sebagian elemen politik berbasiskan agama seperti Masjumi dan Sjarekat Islam Indonesia.

Sila kedua terdengar sangat liberalis sebetulnya, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena nilai kemanusiaan saat itu menjadi keyakinan para kaum liberal dalam bernegara. Dengan mengusung Hak Asasi Manusia (HAM) maka nilai-nilai kemanusiaan menjadi urgent untuk diperjuangkan dan menjadi falsafah kehidupan bangsa Indonesia. Apalagi Indonesia yang baru saja terlepas dari penjajahan fisik selama berabad lamanya, maka perjuangan atas nilai kemanusiaan adalah sebuah keharusan yang wajib diperjuangkan. Sila ketiga adalah sebuah keniscayaan yang membuat Indonesia kuat, Persatuan Indonesia. Sila ini meneguhkan semangat persatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ribuan suku bangsa, ratusan kerajaan nusantara dan ragam lainnya yang terangkum dalam satu kata, bangsa Indonesia.

Sila keempat adalah cara hidup dan perangkuman terhadap nilai asli bangsa Indonesia. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Atas dasar sila tersebut Indonesia harus memperjuangkan suara rakyat secara komunal melalui jalan bermusyawarah untuk menemui kata mufakat. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak dulu, pendopo kadipaten, karisidenan atau bahkan puri kerajaan seringkali dijadikan tempat bermusyawarah antara petinggi daerah dengan rakyatnya atau perwakilan dari rakyatnya. Kebiasaan ini disambung oleh Soekarno sebagai sebuah tata nilai. Bahkan dalam beberapa kesempatan Soekarno menjadikan terminologi ‘rapat akbar’ pada pidato kenegaraan sebagai sebuah perwujudan dari bermusyawarah bersama rakyat.

Sila kelima adalah sila yang merangkum jalan ekonomi bangsa Indonesia kedepan. Sila yang mengandung nilai historis sekaligus menancapkan paradigma sosialis pada kalimatnya. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ini mengacu pada sistem ekonomi, karena acuan tentang kemanusiaan dan peradabannya sudah diafirmasi oleh sila kedua Pancasila. Sebab itu turunan dari sila kelima ini adalah UUD 1945 Pasal 33 tentang sumber daya ekonomi dan kesejahteraan yang harus dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

Atas sebab itu, Indonesia telah mampu merintis jalan tengah ideologi yang jauh dari cengkraman kapitalisme dan komunisme namun dekat dengan sosialisme sebagai sebuah tata nilai. Namun Indonesia pasca reformasi berubah 180°, menjadi liberal pada kehidupan sosialnya dan dengan amat terbuka menerima segala bentuk kerjasama kapitalis sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ditambah lagi phobia terhadap komunisme yang 32 tahun disebar bak spora pada kepala-kepala anak bangsa. Maka lengkaplah syarat untuk kita menghamba pada kapitalisme, menuhankan investasi sebagai satu-satunya jalan menuju pembangunan yang berkemajuan dan menjadikan pemilik modal sebagai tuan yang berhak merampas apapun milik kita asal ditukar dengan uang. Menyedihkan.

Lalu Pancasila hanya menjadi jargon dan instrumen politik narsisisme untuk pencitraan tanpa mau mengamalkan apalagi menjadikan Pancasila sebagai falsafah kehidupan. Belum selesai dengan masalah kapitalis dan komunis, Pancasila masih harus dihadapkan lagi pada ideologi trans nasional yang tak kalah radikal dibanding komunisme. Garuda Pancasila nyatanya semakin tersungkur babak belur dihantam dari berbagai sudut dan alur.(*)


Editor : Redaktur | teropongsenayan.com
tag: #  

Bagikan Berita ini :



Tanggapan Anda atas berita ini?

BeritaLainnya

32IMG_20171020_103002.jpg
46IMG_20171023_085302.jpg
3320171023_064345.jpg
62IMG_20171020_103002.jpg
75IMG_20171022_190123.jpg
21IMG_20170201_194417.jpg