Kader: Golkar Sudah Saatnya Sasar Pemilih Muda dan Perempuan
Oleh Ferdiansyah pada hari Selasa, 14 Nov 2017 - 21:31:52 WIB

Bagikan Berita ini :

9Diskusi-Golkar.jpg
Sumber foto : M Sayyidi
Ketua DPD I Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena (tengah) dan pengamat politik M Qodari (kanan) dalam diskusi bertajuk 'Mengukur Peluang Calon Kepala Daerah Partai Golkar pada Kontestasi Pilkada 2018' di Kopi Oey, Jakarta Selatan, Selasa (14/11/2017)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Saat ini semua partai tengah fokus mempersiapkan diri menghadapi Pilkada serentak 2018. Namun situasi kurang menguntungkan menimpa intenal Partai Golkar. Hal itu yang diakui Ketua DPD I Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena.  

"Partai Golkar menatap pertarungan Pilkada Serentak 2018 dengan kondisi internal yang tidak terlalu bagus," kata Melki dalam diskusi bertajuk 'Mengukur Peluang Calon Kepala Daerah Partai Golkar pada Kontestasi Pilkada 2018' di Kopi Oey, Jakarta Selatan, Selasa (14/11/2017). Dalam diskusi yang diprakarsai aktivis Praja Muda Beringin tersebut, hadir juga pengamat politik M Qodari.

"Ketum kita Pak Novanto saat ini sedang sibuk mengurus masalah di KPK," tambah Melki.

Ia menyebut, kondisi tidak nyaman di internal partainya justru terjadi saat partai beringin ini berpotensi memenangkan Pilkada di banyak daerah, bahkan dapat mengusung calon tanpa perlu koalisi.

Menurutnya, dalam Pilkada 2018 di 171 daerah, sebanyak 29 daerah di antaranya Golkar bisa mengusung sendiri.

Guna menjaga potensi besar itu, Melki meminta DPP untuk mulai memperhitungkan suara-suara pemilih pemuda dan perempuan agar potensi yang ada tidak hilang sia-sia.

"Segmen anak muda dan perempuan ini harus mulai diperhitungkan," tukasnya.(yn)

tag: #partai-golkar  #pilkada-serentak-2018  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca teropongsenayan.com yth.

Polemik Ratna Sarumpaet, dalam waktu sekejap, membuka mata-telinga dan mengejutkan banyak kalangan. Termasuk mata dan telinga para politisi.

Setelah polisi membuktikan kebohongan Ratna, dan yang bersangkutan juga mengaku berbohong, polemik pun semakin kencang. Di sisi lain, beberapa kalangan menengarai polemik kebohongan Ratna berimplikasi terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019. Yakni Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Anda, seperti apa dampak dari implikasi tersebut:

  • 1. Berpengaruh positif terhadap Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2. Berpengaruh positif terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
  • 3. Tidak berpengaruh terhadap masing-masing paslon
LIHAT HASIL POLING