Revolusi Sunyi Para Nyai
Oleh Djoko Edhi Abdurrahman (Anggota Komisi Hukum DPR 2004 - 2009 dan Wakil Sekretaris Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU) pada hari Rabu, 03 Jan 2018 - 08:04:20 WIB

Bagikan Berita ini :

13SAVE_20160822_125409.jpg
Sumber foto : Ilustrasi oleh Kuat Santoso
Djoko Edhi Abdurrahman (Anggota Komisi Hukum DPR 2004 - 2009 dan Wakil Sekretaris Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU)

Hidup itu berkubu. Tak berkubu pasti bukan homo sapiens. Tiap homo ludens itu ya berkubu. Bahkan homo seksual. Parpol itu homo sapiens. Yang ingin dicegah adalah homo homini lupus.

Waktu pilgub Jatim lalu, orang Madura terbagi dua homo ludens. Homo pertama, para kyai. Lanang. Lakek. Lelaki. Homo kedua, para nyai. Babinik, perempuan, para isteri kyai. Yang lakek ikut kyai, yang binik ikut nyai. Habis, semua orang Madura adalah kyai. 

Kata para nyai, "Ajunan manut panjenengan, karena panjenengan adalah ulama. Begitu  jadi orang politik, ajunan dalem tak lagi manut" (Saya tunduk ke antum (suami), karena Antum adalah ulama. Begitu Antum jadi politik, saya tak lagi tunduk ke Antum). 

Issu  para nyai itu, melanda nyaris seluruh pesantren besar Madura. Saya ada di sana, dan  bertemu Khofifah di rumah singgah Pamekasan. Khofifah ngetop di kalangan para nyai. Gus Ipul ngetop di kalangan para kyai. Keduanya adalah homo politicon. Sunnatullahnya demokrasi ini Pak Bro.

Di sini, di kalangan para kyai, yang jadi tawaddu adalah frasa ulama, yang diagungkan, your highness. Because "ulama warisatul anbiyaa" (Ulama adalah pewaris nabi). Maka terpisahlah antara padi dan beras. Antara kyai dan ulama.

Para nyai mengacu dan merujuk legacy Islam itu. Begitu sang kyai berpolitik, ia telah menanggalkan ulamanya. Tersisa kyainya saja. Maka, berhentilah kewaijiban taklidiyah itu. 

Saya sempat usulkan ke tim sukses Khofifah agar meneliti dan menuliskan pemberontakan kaum nyai itu. Itulah sesungguhmya bentuk nyata revolusi sunyi yang dikemukakan Patricia Aburdene tahun 1990an dan Du Bois tahun 1960an, dan Jamaludin El Afghani dalam “Tahrir El Mar’ah” 400 tahun lalu. "Silent Revolution". 

Jika kubu kyai tak.curang, tak bakal Gus Ipul menang di Bangkalan yang ketika itu diperani Ra Fuad Amien. Di Sumenep dan Pamekasan, kubu nyai menang. Mereka asli memberontak dari para kyai yang notabene adalah para suami. Di Sampang, Khofifah mendapat dukungan kuat KH Fannan Hasyib, Wakil Bupati Sampang waktu itu, terakhir jadi Bupati Sampang.

Fannan menguasai 2/3 kecamatan se Sampang. Dan, yang bekerja para nyai. Saya lupa angka-angkanya. Besok saya minta anak-anak bongkar filenya di LBH DESA Pamekasan. 

Menjadi menarik ketika Yenni Wahid turun gunung. Gus Ipul segera megap-megap dikerubuti dua nyai. Jaringan Ra Fuad Amien adalah suara Gus Dur. Identitas ini, juga di jaringan tapal kuda yang jumlahnya jika tak salah 24 Dati II Jatim. Gus Dur telah bangkit dari kubur bersama pemberontakan para nyai. Subhanallah!(*) 

tag: #  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Tidak ada Poling untuk saat ini