Masukan Kader Baru, Senior Golkar: Pelanggaran Berat AD/ART Partai
Oleh Sahlan Ake pada hari Senin, 22 Jan 2018 - 22:23:14 WIB

Bagikan Berita ini :

99golkar.jpg
Sumber foto : Istimewa
Pengurus Golkar

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Politikus senior Partai Golkar Yasril Ananta Baharuddin mempertayakan komposisi kepengurusan DPP Partai Golkar bentukan Airlangga Hartanto. Menurutnya, ada pengurus yang belum pantas masuk ke dalam jajaran pengurus Golkar karena belum 5 tahun menjadi kader.

"Bukankah itu pelanggaran berat dan mendasar terhadap AD/ART Partai Golkar. Lalu bagaimana keabsahan kepengurusan yang baru diumumkan tersebut? Apakah kita akan turut menanggung dosa terhadap pelanggaran fatal dimaksud dengan mendiamkannya," kata Yasril dalam pesan singkatnya, Senin (22/1/2018).

Ada beberapa nama yang masuk dalam kepengurusan DPP Partai Golkar yang belum mencapai lima tahun menjadi kader Golkar di antaranya Lodewijk Freidrich Paulus yang ditunjuk sebagai Sekjen Golkar.

Tak hanya itu ada Mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Ken Dwijugeastiadi. Dalam struktur kepengurusan DPP Golkar yang baru dan berlaku hingga 2019 ini, Ken menjabat sebagai Wakil Ketua Koordinator Bidang Ekonomi. Ia dipercaya untuk mendampingi Azis Syamsuddin sebagai Ketua Koordinator Bidang Ekonomi.

Sebelumnya, Airlangga menyebut dirinya merampingkan kepengurusan Partai Golkar baru dibanding saat dipimpin Setya Novanto dari sekitar 305 pengurus menjadi 251 pengurus.

Kepengurusan Golkar saat ini dibentuk untuk fokus pada pemenangan Pemilu Serentak 2019. Golkar menargetkan dapat meraup suara 16-18 persen di Pemilu Serentak. (icl)

 

tag: #partai-golkar  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca teropongsenayan.com yth.

Polemik Ratna Sarumpaet, dalam waktu sekejap, membuka mata-telinga dan mengejutkan banyak kalangan. Termasuk mata dan telinga para politisi.

Setelah polisi membuktikan kebohongan Ratna, dan yang bersangkutan juga mengaku berbohong, polemik pun semakin kencang. Di sisi lain, beberapa kalangan menengarai polemik kebohongan Ratna berimplikasi terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019. Yakni Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Anda, seperti apa dampak dari implikasi tersebut:

  • 1. Berpengaruh positif terhadap Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2. Berpengaruh positif terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
  • 3. Tidak berpengaruh terhadap masing-masing paslon
LIHAT HASIL POLING