Materi Ceramah Agama Saat Pilkada Diatur Bawaslu
Oleh M Anwar pada hari Selasa, 13 Feb 2018 - 12:55:38 WIB

Bagikan Berita ini :

48M.-Syafii.jpg
Sumber foto : Dok Istimewa
Anggota Komisi III DPR Fraksi Partai Gerindra, Muhammad Syafi'i

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Anggota Komisi III DPR Fraksi Partai Gerindra, Muhammad Syafi'i tidak setuju dengan rencana Badan Pengawas Pemilu yang akan membuat peraturan tentang materi ceramah keagamaan di momentum Pilkada serentak 2018.

"Bawaslu kembali pada tupoksinnya, saja jangan abuse of power," kata Syafi'i di DPR, Jakarta, Rabu (13/2).

Syafi'i menilai Bawaslu tidak punya kapasitas untuk menilai isi materi ceramah keagamaan.

"Bawaslu punya pemahaman apa sih? Apa ada kriteria pemahaman agama untuk menjadi anggota Bawaslu? Kalau nggak ada jangan ikut campurlah," ujar Syafi'i.

Ia berharap, materi ceraman menjadi urusan internal pemeluk dan pemuka agama masing-masing.

"Itu jadi urusan internal Gereja dan Masjid dan yang lain. Biarkan saja yang penting di dalam kehidupn keseharian mereka tidak ada masalah," tutur Syafi'i.

Anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra mengatakan, mustahil jika Bawaslu mengatur materi khotbah keagamaan. Bahkan, jika pun Bawaslu meminta pendapat tokoh semua agama untuk mengatur hal itu, tetap tidak akan bisa dilakukan.

"Kenapa? Karena agama mengatur semua kehidupan apalagi hal-hal yang aktual, hal-hal yang terjadi di masyarakat," kata Syafi'i.

"Kalau di masyarakat sedang terjad mislanya persoalan narkoba pasti peng khotbah akan cerita narkoba, tentang kemiskinan di masyarakat dia berkhotbah tentang kemiskinan, masyarakat sedang Pemilu dia cerita Pemilu, kemudian apabila mereka dilarang itu terlalu mengada-ngada," tambah Syafi'i. (aim)

tag: #  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca teropongsenayan.com yth.

Polemik Ratna Sarumpaet, dalam waktu sekejap, membuka mata-telinga dan mengejutkan banyak kalangan. Termasuk mata dan telinga para politisi.

Setelah polisi membuktikan kebohongan Ratna, dan yang bersangkutan juga mengaku berbohong, polemik pun semakin kencang. Di sisi lain, beberapa kalangan menengarai polemik kebohongan Ratna berimplikasi terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019. Yakni Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Anda, seperti apa dampak dari implikasi tersebut:

  • 1. Berpengaruh positif terhadap Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2. Berpengaruh positif terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
  • 3. Tidak berpengaruh terhadap masing-masing paslon
LIHAT HASIL POLING