Asep Solahuddin: Muazzin dari Ciputat
Oleh Eko Arisandi (Ketua Bidang Perkaderan HMI Cabang Ciputat 2010-2011, Koordinator MPKPC Ciputat 2011-2012, Wabendum PB HMI 2013-2015 pada hari Rabu, 21 Feb 2018 - 19:34:52 WIB

Bagikan Berita ini :

54HMI-Sayyidi.jpg
Sumber foto : M Sayyidi
Asep Solahuddin

“Asep (Solahuddin) bisa aktif kan?” kalimat ini penulis dengar langsung dari Mulyadi P. Tamsir di Sekretariat PB HMI sekitar Februari 2016. Ketua Umum PB HMI yang terpilih dalam Kongres ke-29 HMI di Pekanbaru ini mengeluhkan “anak-anak Ciputat” yang sering tidak aktif kalau menjadi pengurus PB HMI. Karena pertanyaan itu terlontar di tengah pembicaraan mengenai penerbitan buku, penulis menyudahinya dengan menjawab singkat, “kita lihat saja Bang!”.

Meski sampai hari ini percakapan itu tidak pernah disampaikan ke Asep, tetapi Ketua Bidang Perkaderan PB HMI tercatat melaksanakan Latihan Kader III di awal periode kepengurusan. Terakhir, Bidang PA PB tercatat menggulirkan Pusdiklatpim dan Workshop Naskah BDI (Basic Demand Indonesia). Apa mungkin pelantikan Pengurus PB HMI Periode 2016-18 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, cara Asep dan rekannya dari Ciputat menunjukkan kesungguhan untuk lebih aktif di PB HMI?

Percakapan sekilas penulis dengan Ketum Mulyadi dua tahun itu menjadi relevan di tengah berlangsungnya Kongres ke-30 di Ambon, Maluku. Mengingat Asep Sholahuddin menjadi salah seorang kandidat Ketua Umum PB HMI. Pertanyaan senada juga diajukan Direktur LAMPI PB HMI Muhammad Sofa dalam tulisannya “Mengapa Harus Asep Solahuddin?” (Kumparan.com, 17 Februari 2018).

Berkader di Ciputat

Terpaut angkat, secara pribadi penulis tidak dekat dengan Asep Solahuddin. Penulis mengenal Asep justru dari dua seniornya, Asep Jubaidillah dan Rahardiatno Putro. Kedua berturut-turut adalah Ketua Umum Komfaksy (Komisariat Fakultas Syariah) Cabang Ciputat yang kemudian dilanjutkan Asep yang terpilih pada periode 2011-12. Rapat Anggota Kompfaski sempat menjadi pembahasan serius di Cabang Ciputat yang waktu itu dipimpin M. Fathul Arif.  Dinamika RAK termasuk pemilihan, cukup sengit dengan perdebatan konstitusional. Hal ini cukup dilematis karena dapat berdampak pada status kepengurusan komisariat dan pelaksanaan LK1 Komfaksy. Dalam kondisi inilah, Asep terpilih dan ditetapkan menjadi ketua umum.  

Cabang Ciputat dengan akar tradisi perkaderan intelektualnya, pada perkembangannya menumbuhkan kreasi yang khas di setiap komisariat, saat ini berjumlah 14 komisariat. Kreasi tersebut dapat diidentifikasi sebagai bentuk adabtasi yang unik sesuai program studi dan lingkungan kampus, baik UIN Jakarta, STAN, Universitas Muhammadiyah Jakarta, STIE-Ahmad Dahlan, Universitas Pamulang, atau Sekolah Tinggi Ganesa. Komfaksy yang notabene kader-kadernya berasal dari fakultas hukum, maka baik karakter kadernya tentu mudah dikenali dan berbeda dengan kader dari fakultas filsafat, pendidikan, sastra, psikologi, kedokteran, dan lainnya. Faktor ini rupanya terbawa dalam dinamika beorganisasi di tingkat cabang. Karena itu, ada pamemo di Ciputat, “Kalau anak Syariah makannya AD/ART, Ushuluddin (minum) kopinya NDP”.

Kreasi Komfaksy ini misalnya dapat dilihat dari terbentuknya LKBHMI (Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam) dan lembaga studi KOMPAK yang konsen di bidang kajian hukum, advokasi, dan anti kekerasan. Teuku Mahdar Dikretur LBHMI PB sebelumnya Direktur LKBHMI Cabang Ciputat, dimana Asep menjabat Departemen Kajian dan Bantun Hukum LKBHMI Cabang Ciputat—sebelum menjadi ketua komisariat pernah. Komfaksy dan LKBHMI telah memberi warna tersendiri bagi dinamika perkaderan di HMI Ciputat.

Kultur lain yang tumbuh di kalangan kader Komfasky yaitu memiliki motivasi tinggi untuk mengikuti jenjang perkader formal di HMI. Mereka lebih aktif dan rajin mengikuti LK2, LK3, dan SC. Terbukti ketika akan dibentuk BPL (Badan Pengelola Latihan)—saat itu Cabang dipimpin Erik Hariyadi (2009-10), kader yang telah mengikuti LK2 dan SC masing sangat langka, dan rata-rata dari Komfaksy, termasuk Hamdan Roziana yang kemudian dipilih menjadi Ketua BPL Cabang Ciputat.

Begitu juga dalam stuktur cabang, kader Komfaksy termasuk dalam jajaran elite Ciputat. Beberapa kader Syariah sempat pula menjadi ketua umum, seperti Ahmad Sanusi (1982-83) setelah periode Azyumardi Azra, JM Muslim  (1995-96), Kuntum Khairu Basa (2006-07), selanjutnya Asep Solahuddin (2013-14).

Kultur Komfaksy yang begitu kental dengan persoalan hukum, terlihat ketika Asep memulai kiraphnya di cabang sebagai Wasekum PAO dalam kepengurusan Ramfalak Siregar (2012-13). Asep tercatat cukup kritis, terutama terkait masa kepengurusan yang molor waktu itu. Secara pribadi persoalann ini tentu saja dilematis, mengingat dirinya dan Ramfalak berasal dari satu almamter; Pondok Pesantren Dar el-Qolam Gintung, Banten. Terbukti Asep dapat mengambil langkah yang tepat, tetap berpengan pada aturan sekaligus menegakkan disiplin organisasi. Sepertinya, inilah salah satu faktor yang membuat Asep terpilih sebagai ketua umum dalam konferensi Cabang Ciputat pada 2013.

Perkaderan Ciputat tentu tidak bisa dipisahkan dari tradisi intelektual dan ketokohan Nurcholish Madjid (Cak Nur). Cak Nur telah menjadi “nyala api” yang membakar motivasi setiap kader HMI. Rumusan NDP yang dilahirkan Cak Nur, secara bersamaan menarik para kader HMI untuk menelusuri gagasan pemikirannya. Tidak terkecuali Asep, sebagai Ketua Umum HMI Cabang Ciputat.

Menariknya, sebagai  alumni Dar el-Qolam, Asep memiliki jalur yang lebih dekat untuk menghampiri khazanah pemikiran Cak Nur. Karena senior-seniornya seperti M. Wahyuni Nafis, Ihsan Ali-Fauzi, Nanang Tahqiq, juga A. Gaus AF merupakan ‘ring satu’ dalam menghidupkan pemikiran-pemikiran Cak Nur melalui Paramadina, PUSAD, dan Nurcholish Madjid Socety (NCMS). Dalam tradisi inetelektual Ciputat, Ihsan Ali-Fauzi, bersama Saiful Mujani dan Budhy Munawar-Rachman, menggas Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat) pada 1986, sementara Wahyuni Nafis menjadi Ketua Umum HMI Cabang Ciputat (1991-92). Dari sini dapat dipahami jika Asep pernah mengikuti Sekolah Multikulturalisme Nasional di  Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK-Indonesia) dan memilih studi magisternya di Universitas Paramadina.

Perlu pula dicatatat bahwa dengan menjadi mahasiswa yang berasal dari daerah Banten, Asep dimungkinkan untuk terhubung secara primordial dengan komunitas HMB (Himpunan Mahasiswa Banten). Sebuah organisasi kedaerahan yang dari namanya saja begitu ketara menginternalisasi mekanisme organisasi yang ada di HMI—meskipun di dalamnya masuk mahasiswa dari berbagai organsiasi ekstra. Maka, Asep memiliki jalur primordial dengan mislanya TB Ace Hasan Syadzili, senior HMB dan kader HMI yang menjadi Presiden BEM IAIN Jakarta “partama” dalam sistem student government pada 1998-99.

Dari proses yang dilaluinya itu, dapat dilihat potensi apa yang dimiliki Asep, yang bisa dijadikannya modal untuk dapat “mewakili” Ciputat di arena kongres.

Indentitas Kultural

Setelah sempat dibekukakan pada 1963, akibat aksi protes mahasiswa terhadap kebijakan Meteri Agama yang terjadi di IAIN Jakarta—dan IAIN Yogyakarta—yang ditengarai dimotori kader-kader HMI (Sulastomo, 2000; Sitompul, 2008, Zakaria, dkk. eds., 2012), Cabang Ciputat justru menemukan identitas kulturalnya sebagai perkaderan intelektual. Tradisi ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pengaruh yang dibawa Nurcholish Madjid (Cak Nur).

Tradisi intelektual yang disemai Cak Nur di Ciputat, tidak sekadar menghantarnya Ketua Umum PB HMI (1966-68 dan 1969-71), ia pun melahirkan Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang tetap dipedomani, sampai hari ini. Lebih dari itu, Cak Nur membawa HMI menjadi pemantik dari gerakan pembaharuan Islam di Indonesia.

Pembaharuan pemikiran Cak Nur, telah menjadi inspirasi generasi setelahnya untuk melakukan kreasi perkaderan yang semakin semangat. HMI menjadi hulu dari arus perkembangan pemikiran di kalangan mahasiswa IAIN Jakarta, sehingga membentuk sebuah komunitas intelektual (intellectual communiy) di Ciputat. Dan jika disebutkan beberapa nama senior, seperti Fachry Ali, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra, dan Bahtiar Effendy, rasanya lebih dari cukup untuk menyebut bahwa perkaderan intelektual begitu khas dan mengakar di Ciputat.

Yang menarik kemudian, meskipun Cak Nur menjadi satu-satunya kader yang terpilih menjadi ketua umum sampai dua periode, hanya Ahmad Zacky Siradj  yang mampu mengikuti Cak Nur memimpin PB HMI (1981-1983). Dan sejak itu, sampai hari ini Ciputat masih “berpuasa”.

Terdapat beberapa faktor untuk menjelaskannya kondisi ini. Pertama, kader HMI Ciputat lebih terfokus pada pencapaian intelektual, sehingga tidak terlalu berminat atau terobsesi untuk mengejar stuktural kepemimpinan di PB HMI. Terlebih umumnya kecewa, karena tidak menemukan semangat intelektual setelah mereka masuk dalam di lingkungan PB HMI. Dalam Modul LK1 Cabang Ciputat tercantum analisa sejarah yang ditulis Muslim Hafiz—kandidat ketua umum dalam kongres ke-26 di Palembang pada 2008—mengidentifiksi bahwa sejak 1990an HMI terlalu dekat dengan pemerintah, kehilangan daya kritis, dan lebih bernuansa politik.

Kedua, tradisi perkaderan Ciputat yang dibangun dengan nuasa intelektual, memberikan gambaran bahwa ber-HMI itu harus kuat secara akdemis: melahap buku-buku, berdiskusi, dan menulis di koran. Sementar itu, perubahan suasana kampus para kader Ciputat, sebagian besar telah berpikir untuk meneruskan minat dan kariernya setelah lulus kuliah. Dan, menjadi pengurus besar hanya salah satu pilih bagi kader yang memiliki “minat” untuk terus berproses sampai PB HMI.

Perlu dicatat, Ade Komaruddin dan Muslim Hafidz, meski pernah menjadi kandidat ketua umum PB HMI, hanya salah seorang ketua di cabang. Karena hampir rata-rata—termasuk para ketua umum—setelah selesai dari cabang memilih jalur kariernya; bekerja di instansi/lembaga, dan mayoritas melanjutkan studi. Jadi, menjadi semacam trend di Ciputat, bahwa secara stuktural kader merasa cukup ber-HMI sampai tingkat Cabang.

Faktor ketiga, dan ini yang lebih dominan, bahwa sebagai cabang dengan identitas inetelektual, para kader Ciputat merasa dituntut memenuhi standar dari identitasnya; seorang intelektual. Maka jangankan untuk menjadi kandidat ketua umum PB HMI, untuk berangkat LK2 saja, mereka harus melalui proses screening yang cukup ketat dari para seniornya di PB HMI. Pesan, “jangan bikin malu Ciputat,” tentu sangat akrab di telinga kader yang akan “keluar” dari Ciputat.  

Yang terakhir ini tentu sangat disadari oleh Asep. Seiring realitas dinamika HMI, penulis cenderung memaknai kehadiran para kader Ciputat di PB HMI sebagi para muazzin perkaderan. Mereka sadar tidak mudah untuk mencapai “standar imam” seperti ditunjukkan Cak Nur. Tetapi sebagai pewaris Cak Nur mereka juga terpanggil untuk terus berijtihad dan memantaskan diri. Sebagai muazzin mereka mengingatkan sekaligus menggugah bahwa apapun persoalan terjadi HMI, merupakan tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh setiap “kader hari ini”. Maka, setelah Ciputat berpuasa cukup lama, dengan dibukanya kongres dengan ditabuhnya bedug, mungkin pertanda “takbir” akan berkumandang dari Ciputat. Kita lihat saja!(*)

tag: #hmi  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca teropongsenayan.com yth.

Polemik Ratna Sarumpaet, dalam waktu sekejap, membuka mata-telinga dan mengejutkan banyak kalangan. Termasuk mata dan telinga para politisi.

Setelah polisi membuktikan kebohongan Ratna, dan yang bersangkutan juga mengaku berbohong, polemik pun semakin kencang. Di sisi lain, beberapa kalangan menengarai polemik kebohongan Ratna berimplikasi terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019. Yakni Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Anda, seperti apa dampak dari implikasi tersebut:

  • 1. Berpengaruh positif terhadap Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2. Berpengaruh positif terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
  • 3. Tidak berpengaruh terhadap masing-masing paslon
LIHAT HASIL POLING