Berita

Wuih, Utang Indonesia Tembus Rp 4.752 Triliun

Oleh Syamsul Bachtiar pada hari Minggu, 25 Feb 2018 - 22:01:42 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

42heri_gunawan.jpg

Heri Gunawan (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan IV 2017 tercatat USD 352,2 miliar atau tumbuh 10,1% (yoy). Jika mengacu kurs Rp 13.500 per USD, maka utang luar negeri Indonesia Rp 4.752 triliun.

Kalau dilihat lebih jauh, terangnya, peningkatan utang luar negeri tersebut didorong oleh kenaikan utang publik yakni pemerintah dan bank sentral sebesar 14 persen (yoy) dari 2016 menjadi 180,662 miliar dolar AS.

Sementara itu, sambung dia, utang swasta atau korporasi, baik bank maupun non-bank, naik 6 persen menjadi 171,62 miliar dolar AS. Menurutnya, Kenaikan utang tersebut tak lepas dari kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur, yang kejar tayang.

"Kenaikan utang tersebut sudah pasti berdampak pada perekonomian nasional, dan lambat laun tentunya akan mengganggu daya dukung APBN," tandas Politikus Gerindra itu saat dihubungi wartawan, Minggu (25/2/2018).

Tak hanya itu, menurutnya lagi, Utang sudah pasti jadi beban APBN. Lebih-lebih setelah berakhirnya Program Pengampunan Pajak dan realisasi pendapatan pajak yang masih terus melenceng dari target.

"Pemerintah rasanya akan makin sulit merealisasikan Penerimaan Negara yang lebih baik," kata mantan Wakil Ketua Komisi VI DPR itu.

Di sisi lain, papar Heri, beban jatuh tempo pembayaran utang makin besar. Lebih-lebih utang tersebut didominasi ULN berjangka panjang.

Untuk diketahui, kata dia, Tahun 2018 nanti beban utang mencapai Rp390 triliun. Tahun 2019 akan ada dikisaran Rp420 triliun. Kalau ditotal mencapai Rp810 triliun. Dengan demikian, kata dia, Ini akan terus jadi beban APBN. Belum lagi, gap antara realisasi pendapatan dan belanja masih belum bisa dipecahkan.

"Saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh terlena dengan rasio utang yang disebut-sebut masih aman itu," ujarnya.

Kalau dilihat dari trennya, kata Heri, rasio utang terus mengalami kenaikan. Tahun 2014 sebesar 24,7 persen, tahun 2015 naik tajam ke 27,4 persen, lalu tahun 2016 menjadi 27,9 persen, tahun 2017 ada di angka 28,2 persen. Tahun 2018 diproyeksi bisa menyentuh angka 29 persen terhadap PDB.

"Untuk diketahui, lebih dari 80 persen penerimaan Negara bersumber dari pajak. Sementara itu, realisasinya terus melenceng dari rencana. Tahun 2015, realisasinya hanya Rp1.285 triliun atau melenceng dari target APBN-P sebesar 1.489 triliun. Tahun 2016 juga melenceng dari target APBN-P TA 2016 sebesar Rp1.539,2 triliun," pungkasnya.(yn)

tag: #utang-pemerintah  

Bagikan Berita ini :