Driver Online : Marhaen Milenial
Oleh Dr. Kun Nurachadijat (Praktisi dan Ekonom Iluni UI) pada hari Rabu, 28 Mar 2018 - 16:30:45 WIB

Bagikan Berita ini :

1220180328_162750.jpg
Sumber foto : Ist
.
Ojeg Online disingkat Ojol kini menjadi sorotan. Setelah salah satu perusahaan atau Aplikator Ojol menyatakan resmi gulung tikar pada 8 April 2018, selang hanya beberapa jamnya dilanjutkan dengan kopi darat nasional antar para pengojegnya (driver) dari Aplikator ojol yang masih manggung.
 
Apa pasal? Mereka, driver online, menuntut pendapatan dinaikkan karena yang mereka peroleh dari aplikator kian menipis. Mereka menuntut pemerintah menaikkan penghasilan mereka dengan cara mendesak para aplikator transportasi Ojol agar menaikkan upah mereka.
 
Sekilas tidak ada masalah dengan fenomena ini, namun apabila sedikit fokus mengernyitkan dahi ternyata ada kesamaan pola dengan konsep ekonomi yang sempat digulirkan dulu oleh salah satu _founding fathers_ bangsa, sebut saja konsep marhaenismenya Bung Karno (BK).
 
Pada konsep Marhaenisme, adalah Marhaen, sang petani yang menjadi obyek pentelaahan. BK melihat ada sesuatu yang timpang, petani Marhaen sebagai pemilik faktor produksi yakni tanah dan cangkul namun daya beli mereka sangat rendah. Pola inipun dimiliki oleh para driver ojol, motor dan faktor produksi tenaga kerja, mereka miliki sendiri tetapi mereka tidak berdaulat atas penentuan harga di pasar sebut saja harga tarif terhadap penumpang.
 
Ini masalah pola, yang ujung ujungnya penanganan terhadap bisnis transportasi ojol harus sama resepnya seperti penyelesaian atas fenomena Marhaen.
 
Driver ojol dengan Marhaen keduanya sama sama menyerahkan pasarnya ke pihak ketiga. Marhaen ke tengkulak sedangkan driver ojol mempercayakan pencarian penumpangnya kepada operator perusahaan atau aplikator ojol. 
 
Dengan demikian bila dilihat dari kacamata Marhaenisme maka perusahaan aplikator Ojol ternyata berperan sebagai tengkulak. Lebih tepatnya *tengkulak milenial*.
 
Sayangnya, dalam sistem kapitalisme ini, tengkulak milenial ibarat lontong dengan oncom. Mereka selalu saling melengkapi bahkan menguatkan. Meskipun neo tengkulak adalah termasuk pendistorsi pasar namun kehadiran mereka sangat membantu menjaga tetap mengalirnya _income_ terhadap driver ojol meskipun arusnya mereka rasakan kian mengecil.
 
Dalam manajemen keuangan, dikenal adagium _High Risk High Return_ atau Resiko kecil maka keuntungan kecil. Resiko kecil karena penumpang oleh aplikator ojol carikan. Driver ojol tinggal menunggu, maka penumpang atau konsumen pun datang.
 
Poin dari ini semua adalah seharusnya para driver ojol bukan demonstrasi kepada pemerintah namun kepada para perusahaan aplikator ojol nya sendiri. Namun memang kemungkinan besar, driver ojol sadar bahwa mereka tidak memiliki kekuatan tawar kepada perusahaan aplikator ojolnya. Mereka membutuhkan pemerintah hadir untuk bantu menekan. Sebenarnya pola perjuangan hak seperti ini, bagi perusahaan konvensional, sudah ada bagian pemerintah yang menangani yakni Kementerian Tenaga Kerja dan ujung tombaknya di daerah dalam bentuk SKPD atau dinas Tenaga Kerja. 
 
Sayangnya, hubungan kerja driver ojol dengan perusahaan aplikator ojolnya belum legal dalam bentuk Undang undang mengingat pertumbuhan bisnis online (dengan Ojol didalamnya) mengikuti grafik deret ukur atau eksponensial sedangkan disisi lain, penanganan pemerintah atas ini mengikuti perkembangan secara deret hitung. Ibarat dinosaurus, mengapa mereka punah? Salah satu alasannya mereka lambat menyesuaikan diri dengan kondisi perubahan alam yang drastis. 
 
Demikian juga dengan ojol, bila pemerintah tidak segera fleksible menyesuaikan peraturan peraturan terkait bisnis online yang ikut berselancar diatas drastisnya revolusi komunikasi, maka fenomena ojol akan membuat kisruh sistem pasar konvensional moda transportasi secara umum. Entah bagaimana bentuk distorsiannya ke depan.
 
 
tag: #  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca TeropongSenayan Yth

Pilpres 2019, banyak yang menilai sebagai perang antar cawapres.Ada tiga modal yang harus dimiliki seorang cawapres guna memenangi pemilihan. Yakni elektabilitas, kapasitas, dan kemampuan logistik.

Menurut Anda, siapa kandidat cawapres yang memiliki ketiga modal tersebut:

  • Anies Baswedan
  • Airlangga Hartarto
  • Agus Harimurti Yudhoyono
  • Din Syamsudin
  • Gatot Nurmantyo
  • Mahfud MD
  • Muhaimin Iskandar
  • Muhammad Zainul Majdi
  • Rizal Ramli
  • Sohibul Imam
  • Sri Mulyani
  • Zulkifli Hasan
LIHAT HASIL POLING