Opini

Cawapres Intelektual dan Ulama Yang Nasionalis (2)

Oleh M. Hatta Taliwang (Direktur Institut Soekarno Hatta) pada hari Sabtu, 07 Apr 2018 - 07:16:35 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

77HattaTaliwang.jpg

Hatta Taliwang (Sumber foto : ist)

Menilik yang selama ini terjadi di dalam lingkungan Muhammadiyah, bahwa Muhammadiyah kurang tertarik dalam menawarkan kadernya untuk diusung sebagai capres ataupun cawapres. Sehingga Partai Amanat Nasional (PAN) yang diasumsikan sebagai perpanjangan tangan dari ormas Muhammadiyah lebih sering mengusung kader di luar Muhammadiyah untuk diajukan sebagai capres atau cawapres. Melihat pada fenomena pemilu 2009 dan 2014, bahwa PAN mengusung cawapres Hatta Rajasa. Melihat latar belakang Hatta, dia tidak pernah sekalipun terikat dengan ormas Muhammadiyah.

Kemudian melihat pada fenomena kekinian dari saudara muda Muhammadiyah, yakni Nahdlatul Ulama (NU), dengan kepentingan politik praktisnya direpresentasikan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) justru malah acapkali mengusung para kader yang memiliki keterikatan dengan ormas NU. Semisal pada Pemilu Presiden 2019 mendatang, PKB sudah mengambil ancang-ancang untuk mengusung Muhaimin Iskandar sebagai cawapres.

Melihat fenomena yang terjadi di Muhammadiyah, bahwa acapkali Muhammadiyah secara kasat mata tidak terjun langsung untuk melakukan politik praktis seperti lobi untuk menawarkan kandidat capres atau cawapres kepada partai untuk diusung. Hal ini amat disayangkan melihat banyaknya kader yang memiliki potensi.

Din Syamsuddin merupakan tokoh yang amat lengkap, selain memiliki kompetensi, dia juga merupakan sosok ulama. Din adalah seorang doktor dalam bidang Politik Islam dari University of California (UCLA), Los Angeles, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Selain itu, Din pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode berturut-turut, 2005-2015. Din Syamsuddin tdk hanya milik Muhammadiyah tp juga umat Islam, karena pernah menjabat sbg Ketua Umum MUI (2014-2015) dan skrng menjadi Ketua Dewan Pertimbangan MUI. Oleh karena itu, Islamic Credentialitynya tdk diragukan.

Dia dikenal dekat dgn semua kelompok dan dapat menjembataninya. Sebagai mantan Ketua IPNU di kampung halamannya, Din Syamsuddin juga dikenal luas dan dapat diterima di kalangan Nahdhiyin. Jabatannya sbg Ketua Dewan Pertimbangan MUI yg mengoordinir Ormas2 Islam, membawanya diterima di semua ormas Islam. Di kalangan umat agama-agama lain, Din Syamsuddin juga cukup dikenal, baik krn jabatan dan kegiatannya dalam dialog antar umat beragama. Terakhir Din memprakarsai dan memimpin Musyawarah Besar Pemuka Agama utk Kerukunan Bangsa.

Kemudian pergaulan di dunia internasional, Din menjabat sebagai President of Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) yg berpusat di Tokyo, dan Co-President, World Conference on Religions for Peace (WCRP), yg berpusat di New York. Dan masih banyak lagi jabatan internasional lain yg disandangnya seperti Anggota Aliansi Strategis Russia-Dunia Islam, Chairman of World Peace Forum, yg membawanya banyak menerima penghargaan internasional._

Di Dalam Negeri juga dikenal memiliki reputasi positif. Dia dikenal sbg pemimpin organisasi yg handal. Selain di organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan MUI, dan ICMI, Din juga memiliki spektrum keaktifan di banyak organisasi. Bahkan, dia memprakarsai berdirinya gerakan lingkungan hidup yaitu Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi) di mana ia menjabat sbg Ketua Dewan Pengarah, dan Pergerakan Indonesia Maju (PIM) di mana dia menjabat sbg Ketua Dewan Nasional. Sebagai mantan aktifis mahasiswa dan pemuda (pernah menjabat sbg Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah dan Wakil Ketua Majelis Pemuda Indonesia), Din memiliki pengalaman politik.

Din pernah menjabat sbg Ketua Departemen Litbang, kemudian Wakil Sekjen Partai Golkar (1993-2000), yg membawanya menjadi Wakil Ketua Fraksi Golkar di MPR-RI (1999-2000) dan Dirjen Binapenta Depnaker (1998-2000). Semuanya itu mengukuhkan Din Syamsuddin sbg organisator-tehnokrat-intelektua, selain sbg ulama modern. Pengalaman panjangnya tsb membuat Din tdk hanya fasih berbicara ttg masalah keagamaan, tp juga masalah kebangsaan, baik politik maupun ekonomi dan budaya, dan terakhiir banyak bicara ttg globalisasi dan peradaban.

TeropongKita adalah media warga. Setiap opini/berita di TeropongKita menjadi tanggung jawab Penulis.

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #  

Bagikan Berita ini :