Mengulas OMSP, Kolonel Arh Budi Pramono Sukses Raih Gelar Doktor
Oleh Ferdiansyah pada hari Rabu, 16 Mei 2018 - 15:51:36 WIB

Bagikan Berita ini :

85IMG-20180516-WA0001.jpg.jpg
Sumber foto : Istimewa
Budi Pramono (kiri) usai sidang desertasi di Universitas Nasional, Jakarta, Rabu (16/5/2018)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Analisis Kebijakan Bidang Rencana Kontijensi Politik dan Keamanan di Kedeputian Politik dan Strategi Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantanas), Budi Pramono sukses mempertahankan disertasinya soal Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang terjadi dari tahun 2004 hingga 2017.

Disertasi yang berhasil membawanya meraih predikat gelar Doktor Ilmu Politik dari Universitas Nasional itu, Budi meneliti pelaksanaan OMSP pasca penetapan UU 34/2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) di tahun 2004 hingga 2017.

Disertasi ini mengupas tentang bagaimana perjalanan pelaksanaan OMSP TNI selama 13 tahun berjalan, berkenaan dengan OMSP seperti bantuan tugas dalam bencana alam, penjagaan wilayah perbatasan, pengamanan perairan, hingga tentang penanggulangan dan penanganan aksi terorisme.

Budi menyebut bahwa penelitiannya ini sangat penting dalam menjawab dinamika yang terjadi di Indonesia saat ini tentang terorisme. Menurutnya, penanggulangan terorisme merupakan salah satu poin penting dalam OMSP. 

“Terlebih, terkait dengan peristiwa yang terjadi beberapa hari ke belakang, tidak berlebihan kiranya disertasi ini dapat menjadi salah satu referensi akademis ditengah maraknya aksi teroris akhir-akhir ini, dimana penanggulangan terorisme merupakan salah satu poin penting dalam OMSP,"ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (16/5).

Budi Pramono merupakan lulusan Akmil tahun 1988. Ia pernah mengikuti Suslapa II di Manly Australia pada tahun 1996 lalu ke Inggris pada tahun 1998 untuk meraih gelar S2. 

Budi kemudian bersekolah di Command and General Staff College di Filipina pada tahun 2001 dengan predikat kelulusan Honor Graduate. 

Dia pernah menetap selama tiga tahun di Iran sebagai Atase Pertahanan (Athan) sekaligus sebagai “Dean” dari MAAT (Military Atache Association in Tehran) yang juga membawahi Irak, Azerbaijan dan Turkmenistan, pada tahun 2009 hingga 2012.(yn)

tag: #  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca teropongsenayan.com yth.

Polemik Ratna Sarumpaet, dalam waktu sekejap, membuka mata-telinga dan mengejutkan banyak kalangan. Termasuk mata dan telinga para politisi.

Setelah polisi membuktikan kebohongan Ratna, dan yang bersangkutan juga mengaku berbohong, polemik pun semakin kencang. Di sisi lain, beberapa kalangan menengarai polemik kebohongan Ratna berimplikasi terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019. Yakni Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Anda, seperti apa dampak dari implikasi tersebut:

  • 1. Berpengaruh positif terhadap Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2. Berpengaruh positif terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
  • 3. Tidak berpengaruh terhadap masing-masing paslon
LIHAT HASIL POLING