Pilih PKS atau PAN Jadi Kegalauan Gerindra
Oleh Ali Thaufan DS (Peneliti Parameter Politik Indonesia) pada hari Jumat, 08 Jun 2018 - 21:34:53 WIB

Bagikan Berita ini :

51Ali-Thaufan-Dwi-Saputra.jpg.jpg
Sumber foto : Istimewa
Ali Thaufan DS

Awal Juni 2018, politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjalani ibadah umrah ke Tanah Suci. Kedua tokoh oposisi ini juga memanfaatkan kesempatan ke Makkah untuk bertemu tokoh Front Pembela Islam, Rizieq Shihab. Ketiganya membahas situasi politik dan menjajaki kemungkinan koalisi di pemilihan presiden 2019 nanti. Pertemuan ketiga tokoh ini mengundang tanda tanya, "Kenapa tidak dihadiri tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS)?".

Syarat pencapresan 2019 dengan menggunakan ambang batas parlemen hasil Pemilu 2014 memaksa parpol untuk berkoalisi sesama parpol dalam mengusung capres. Hal ini yang terus dirajut parpol-parpol jelang pendaftaran Capres-Cawapres pada bilang Agustus 2018. Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra tengah menggalang dukungan partai lain, terutama memastikan dukungan dari PAN dan PKS. 

Upaya menjalin koalisi untuk pilpres sudah dilakukan Gerindra. Hal ini terlihat dalam beberapa provinsi yang menggelar Pilkada serentak 2018, Gerindra berkoalisi dengan PAN dan PKS. Ketiganya tampak solid. Dalam banyak kesempatan tokoh ketiga parpol tersebut lantang menyuarakan "2019 Ganti Presiden". 

Akan tetapi, soliditas ketiganya diuji dengan pasangan cawapres yang akan dipinang Prabowo. Hal yang juga sama dialami Jokowi, meski didukung banyak parpol, namun soliditas dukungan diuji jika Jokowi mengambil salah satu dari kader parpol yang sudah mendukungnya. 

Sejak "kemesraan" Gerindra dan PKS terbangun, terutama sebagai oposan pemerintah, dapat diprediksi bahwa Prabowo akan menggandeng kader PKS sebagai cawapresnya. Terlebih, dalam Pilkada Jakarta 2017 lalu, PKS telah merelakan kader mereka tidak menjadi pasangan calon, karena Sandiaga Uno (Gerindra) diduetkan dengan Anies Baswedan (non parpol). Oleh sebab itu, PKS telah memilih sembilan kader terbaik mereka untuk diajukan sebagai cawapres Prabowo.

Setelah PKS memunculkan sembilan capres/cawapres dengan harapan dipinang Prabowo, bukannya peluang besar yang didapatkan PKS, melainkan konflik internal dan persaingan dengan parpol yang akan bergabung dengan Gerindra, yaitu PAN.

Sembilan nama capres/cawapres PKS saling bersaing selain mendapat dukungan dari internal PKS, juga merebut hati masyarakat, meningkatkan elektibilitas. Namun disayangkan, internal PKS berkonflik. Hal ini seperti ditandai adanya upaya menjegal langkah Anis Matta sebagai capres PKS sebagaimana dikemukakan Fahri Hamzah. Menurut Fahri, elit PKS tidak menghendaki Anis muncul sebagai capres. Bahkan, loyalis Anis dibeberapa daerah diberhentikan dari kepengurusan tingkat daerah.

Selain konflik internal, elektabilitas kader-kader yang diajukan PKS, berdasarkan beberapa hasil survei juga masih rendah. Hal ini yang mungkin membuat Gerindra (Prabowo) mulai melirik calon lain sebagai pasangannya. Nama-nama yang muncul adalah Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN yang juga Ketua MPR RI. Hal ini terlihat dari hubungan intens Gerindra-PAN, meski PAN belum menentukan sikap resmi. Nama lain yang juga muncul adalah Anies Baswedan.

Wacana koalisi Gerindra-PAN dalam pencapresan (mengusung Prabowo-Zulkifli Hasan) kian menguat karena secara syarat, keduanya memenuhi ambang batas parlemen. Selain itu, ibadah umrah yang dilakukan oleh Amin Rais dan Prabowo juga dapat dibaca sebagai intensitas hubungan keduanya serta peluang koalisi pencapresan.

Kemesraan Gerindra-PAN segera direspon PKS. Bagi PKS, kursi cawapres menjadi "harga mati" bagi parpol yang dipimpin Sohibul Iman tersebut. PKS bisa berpindah dukungan jika tidak mendapat tiket cawapres. Bahkan PKS masih memungkinkan berkoalisi dengan Partai Demokrat dan PKB yang hingga saat ini belum menentukan dukungan.

Politisi Partai Demokrat Syarifuddin Hasan mengakui bahwa partainya terus menjalin komunikasi dan berupaya membangun koalisi, termasuk dengan PKS. Demokrat tetap menawarkan kadernya, Agus Harimurti sebagai capresnya. Bagi Demokrat, sosok Agus dapat menarik pemilih usia muda.

Sebagai parpol berbasis massa pemilih muslim (umat Islam), PKS dan PAN tampak sulit berada dalam satu koalisi. Hal ini dapat dimaklumi, PAN yang secara kultur berbasis pemilih dari organisasi masyarakat (Ormas) Islam Muhammadiyah memiliki cerita kurang baik. Pada tahun 2005 lalu, Pengurus Pusat Muhammadiyah menerbitkan surat himbauan agar menjadi aset Muhammadiyah dari penetrasi kader PKS yang mencoba menguasai. Kondisi ini menyiratkan pesan bahwa PAN dan PKS memiliki hubungan yang kurang baik.

Meski manuver politik pencapresan sangat beragam, namun perlu dipahami bahwa sifat koalisi yang menjadi kultur politik Indonesia sangat dinamis. Kepentingan politik berada di atas segalanya. Apapun bisa terjadi di menit akhir jelang pendaftar capres-cawapres.(*)

tag: #partai-gerindra  #pks  #partai-amanat-nasional  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Tidak ada Poling untuk saat ini

LIHAT HASIL POLING