Ini Peta Kekuatan Pilpres 2019
Oleh Krista Riyanto pada hari Senin, 16 Jul 2018 - 19:54:53 WIB

Bagikan Berita ini :

11ilustrasi_pilpres.jpg
Sumber foto : Istimewa
Ilustrasi

Peta kekuatan pemilihan presiden sampai kini belum juga terlihat jelas. Baru kubu Joko Widodo yang sudah terlihat bentuknya meskipun belum dilengkapi dengan bakal calon wakil presiden.

Dari jumlah dukungan, kubu Jokowi sapaan akrab Joko Widodo juga sudah mencukupi untuk maju dengan syarat minimal 112 kursi di DPR atau 20 peren suara nasional. Dengan dukungan Partai Golkar (91 kursi DPR atau 14,75 persen), PPP (39 kursi DPR atau 6,53 persen), Partai NasDem (35 kursi DPR atau 6,72 persen), Hanura (16 kursi DPR atau 5,26 persen), PDIP (109 kursi DPR atau 18,95 persen), dan PKB (47 kursi atau 9,04 persen), Jokowi lebih dari aman untuk mencalonan diri menjadi presiden 2019.

Di kubu Prabowo Subianto masih abu-abu, karena sampai sekarang belum ada dukungan resmi dari mitranya PKS (40 kursi atau 6,79 persen) dan PAN (49 kursi atau 7,59 persen).

Sedangkan Partai Demokrat (61 kursi atau 10,19 persen) sampai sekarang seperti berdiri sendiri, sejak PKB menyatakan mendukung kubu Jokowi.

Kecuali ada kejutan politik lewat uji materi Undang-Undang Pemilihan Umum tentang ambang batas pencalonan presiden di Mahkahmah Konstitusi, Demokrat tidak bisa berbuat apa-apa selain bergabung dengan kubu Jokowi atau kubu Prabowo.

Seandainya pun Demokrat bisa menggandeng PAN membentuk koalisi, karena Gerindra (73 atau 11,81 persen) dan PKS sudah bisa memabngun koalisi sendiri, partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono akrab disingkat SBY itu belum juga cukup syarat.

Inilah yang membuat Demokrat menunggu keajaiban politik lewat uji materi Undang Undang Pemilihan Umum di Mahkamah Konstitusi yang sedang didaftarkan oleh berbagai elemen masyarakat.

Jika uji materi itu kandas sampai batas pendaftaran bakal calon presiden di Komisi Pemilihan Umum 10 Agustus 2018, Demokrat dengan terpaksa harus bergabung dengan koalisi yang sedang popular, Jokowi atau Prabowo.

Di sinilah nasib politik anak emas Demokrat sekaligus anak kandung SBY yakni Agus Harimurti Yudhoyono akra disapa AHY itu berada di persimpangan jalan.

SBY tetap harus memaksakan AHY menjadi bakal calon wakil presiden sebagai sayarat dukungan atau mengalah dengan kalkulasi membangun kekuatan untuk persiapan pada 2024.

Lalu kemana SBY akan melabuhkan dukungan Demokrat pada 2019 ini?

SBY memberi sinyal mengalah. SBY tidak lagi mekasakan AHY untuk menjadi bakal calo wakil presiden sebagai syarat dukungan Demokrat.

SBY menegaskan bahwa dia akan melabuhkan dukungan kepada bakal calon presiden yang memiliki kesamaan ideologi Pancasila dan pluralisme. SBY tidak menghendaki mendukung kubu koalisi yang terlalu sektarian agama atau sekularisme sebagai perjuangan politiknya.

“Tentunya kami akan mendukung bakal calo presiden maupun wakil presiden yang bersahabat dengan Demokrat,” ujar petinggi Demokrat, Ferdinand Hutahaean.

Dengan sinyal seperti itu, kubu Jokowi kelihatannya lebih mendekati syarat kesamaan ideologi yang diamaui SBY. Kubu Jokowi dihuni partai nasionalis seperti Golkar, Nasdem, Hanura, dan partai Islam moderat PPP dan PKB.

Kubu Prabowo dihuni oleh partai nasionalis Gerindra dan partai berbasis agama PKS dan PAN yang selama ini relatif militan.

Tetapi dari sisi psikologis politik, Demokrat belum menemukan ikatan kerahaman dengan kubu Jokowi mengingat SBY masih menyimpan kebekuan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Iinilah yang membuat Demokrat sampai sekarag belum menemukan jalan mulus untuk melabuhkan dukungan, baik kepada kubu Jokowi maupun Prabowo.

Akan tetapi, jalan mulus Demokrat berlabuh ke kubu Jokowi lebih mudah dibentuk dibanding ke kubu Prabowo. Kebekuan prikologis antara SBY dan Megawati lebih mudah dicairkan karena bukan menyangkut ideologis perjuangan partai. Dengan komunikasi intensif, SBY dan Megawati lebih gampang dicairkan  dibanding mengubah  karakter partai yang ideologinya relatif militan seperti PKS dan PAN.

Tinggal bagaimana kepiawaian Jokowi dan Prabowo memberi tawaran koalisi yang bisa memberi keuntungan lebih besar kepada Demokrat. SBY tentu menginginkan berkolaisi dengan kubu yang punya kesempatan menang lebih besar dan memberi jalan mulus bagi AHY yang berlaga di 2019.(*)

tag: #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca teropongsenayan.com yth.

Polemik Ratna Sarumpaet, dalam waktu sekejap, membuka mata-telinga dan mengejutkan banyak kalangan. Termasuk mata dan telinga para politisi.

Setelah polisi membuktikan kebohongan Ratna, dan yang bersangkutan juga mengaku berbohong, polemik pun semakin kencang. Di sisi lain, beberapa kalangan menengarai polemik kebohongan Ratna berimplikasi terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019. Yakni Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Anda, seperti apa dampak dari implikasi tersebut:

  • 1. Berpengaruh positif terhadap Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2. Berpengaruh positif terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
  • 3. Tidak berpengaruh terhadap masing-masing paslon
LIHAT HASIL POLING