Opini

Jokowi Menjawab Ulama-Umat, Prabowo Menguatkan Gerindra

Oleh Krista Riyanto pada hari Jumat, 10 Agu 2018 - 11:36:42 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

96Jokowi-dan-Prabowo-Saling-Tunggu-Figur-Cawapres-Masih-Bahan-Pertimbangan.jpeg.jpeg

Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto (Sumber foto : Istimewa)

Keputusan Joko Widodo akrab disapa Jokowi memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden, oleh sebagian orang dianggap mengejutkan, karena di luar prediksi mereka secara umum.

Tetapi, sedikit orang bisa menebak bahwa keputusan Jokowi ini tidaklah mengejutkan, karena lelaki asal Surakarta, Jawa Tengah, ini punya karakter seperti itu dalam mengambil keputusan maupun menjawab tantangan yang berkembang di masyarakat.

Jika dirunut riwayat karakter Jokowi selama ini, dia adalah figur yang selalu menjawab setiap tantangan yang menjadi kebutuhan masyarakat. 

Kebijakan Jokowi yang paling diingat orang di Ibukota dalam menjawab tantangan adalah ketika dia mewujudkan kehendak masyarakat agar mendapat layanan pengobatan gratis lewat program Kartu Jakarta Sehat yang kemudian dilanjutkan ke dalam sistem Bada Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Kedua adalah layanan pendidikan gartis plus bantuan dana bagi peserta didik yang dikenal dengan Kartu Jakarta Pintar (KJP). Dua kebijakan besar itu dia wujudkan ketika dia menjadi gubernur DKI pada 2012 sampai 2014 yang belum pernah dibuat oleh gubernur sebelumnya.

Dan, ketika menjadi Presiden, Jokowi juga berani menjawab tantangan masyarakat untuk mengembalikan kepemilikan aset negara yang selalu menjadi polemik yakni tambang emas di Papua yang dikuasai Freeport. Jokowi mengambil 51% saham Freeport setelah banyak pihak menguji keberaniannya.

Lalu, ketika dia diserang dengan desas-desus PKI, Jokowi justeru mengunjungi kawasan Lubang Buaya yang selama ini dianggap menjadi saksi tragedi berdarah dan sekaligus sebagai Monumen Pancasila.

Ketika desas-desus antiulama diembuskan oleh sebagian kelompok oposisi, Jokowi justeru banyak menggandeng pondok pesantren dan membangun fasilitas ekonomi di sana. 

Bahkan pada saat tokoh sentral Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais mencibir keberaniannya terhadap ladang minyak dan gas blok Rokan yang dikuasai Chevron Pacific Indonesia, Jokowi justeru mengambil alih dan menunjuk Pertamina sebagai pengganti Chevron di Rokan. 

Dan, yang paling terkini adalah ketika tokoh-tokoh 212 memutuskan ijtimak ulama yang merekomendasikan sosok ulama Abdul Somad Batubara dan Salim Segaf al Jufri sebagai bakal calon wakil presiden di masa depan, Jokowi dengan cerdas menjawabnya. Dia mengambil figur Ma’ruf Amin sebagai calon wakilnya.

Jika standarnya ulama maka pilihan Jokowi terhadap Ma’ruf tidaklah salah. Maa’ruf adalah ulama besar, karena dia adalah Ketua MUI yang secara kelembagaan, dia punya tingkatan tertinggi. 

Di sinilah Jokowi menunjukkan kematangannya dalam berpolitik. Dia menggandeng Ma’ruf agar tiada celah lagi yang bisa ,memunculkan isu bahwa Jokowi itu antiualama dan ant-iIslam.

Keputusan Jokowi menggandeng Ma,ruf pun dipuji oleh Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama, Yusuf Martak.

Pujian kepada Jokowi juga dilontarkan oleh kader PDI Perjuangan, Maruarar Sirait. Ara, sapaan akrab Maruarar, menyebut Jokowi sebagai maestro politik. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, maestro adalah ahli seni. Jadi Jokowi adalah ahli seni politik.

Begitu Jokowi memilih Ma,ruf, otomatis akan muncul rasa kecewa di kalangan pendukung Basuki Tjahaja Purnama akrab disapa Ahok yang selama ini sebagai pengikut setia Jokowi, karena Ma’ruf dianggap pernah berseberangan dengan Ahok sampai di pengadilan.

Namun, hal itu bisa ditepis mengingat Ahok pada 24 Juli 2018 mengeluarkan imbauan kepada pendukungnya lewat secarik kertas yang dimuat di media sosial agar pendukungnya mendukung Jokowi.

Fakta inilah yang menjadi kekuatan Jokowi untuk menepis keraguan sebagian orang agar mereka tidak lari ke kubu oposisi yang sudah jauh-jauh hari mencoba merebut dukungan mayarakat dengan menggunakan jalan agama sebagai isunya.

Di kubu oposisi sendiri, jelas lebih ruwet soliditasnya setelah Prabowo Subianto menggandeng Sandiaga Uno sebagai calon wakilnya. Apalagi Sandiaga Uno dalam catatan selama ini tidak pernah masuk dalam bursa politik nasional.

Di dalam berbagai survei, Sandiaga tidak masuk hitungan. Di lingkup pemerintahan DKI Jakarta, kinerja Sandiaga belum menunjukkan prestasi gemilang. Dia dan Anies Baswedan belum memiliki terobosan nyata yang bisa menjadi daya tarik untuk dijual. Dan, yang paling terkini adalah Sandiaga bukanlah figur yang direkomendasikan dalam ijtimak ulama!

Masuknya Sandiaga juga menggangu soliditas dukungan dari Partai Demokrat yang punya mesin politik relatif kuat. Demokrat merasa dipotong di tengah jalan oleh Prabowo-Sandiaga, karena Agus Harimurti Yudhoyono menjadi tertutup peluangnya.

Lalu, bagaimana Prabowo dan Sandiaga bisa meyakinkan pemilih mereka, khususnya dari kalangan 212 untuk tetap setia mendukung mereka, mengingat tidak satupun harapan mereka tertampung? Sampai sekarang belum terlihat alasan nyata dari Prabowo untuk meyakinkan pendukung militannya, terutama kalangan 212 agar tetap setia dalam melabuhkan pilihan.

Secara ekonomis politis, Prabowo melihat bahwa keputusannya memilih Sandiaga yang juga kader Gerindra adalah untuk menguatkan posisi Partai Gerindra di palemen agar mendapat suara tinggi serta menghambat partai lain yang sekubu untuk berkembang. Artinya, dengan tiadanya figur dari partai koalisi sebagai wakilnya maka peluang mereka untuk menyaingi psosisi Gerindra di parlemen semakin kecil, khususnya Demokrat yang sedang berambisi mengembalikan posisi sebagai partai pemenang.

Selain itu, Prabowo melihat Sandiaga yang seorang pengusaha ini punya kemampuan menghimpun logistik kampanye lebih tinggi dibanding calon lainnya. Apalagi, Prabowo sudah berkali-kali bilang bahwa untuk menjadi pejabat seperti kepala daerah saja membutuhkan dana amat besar. Apalagi menjadi calon presiden dan wakil presiden. Dan, Prabowo melihat Sandiaga mampu menjawabnya.

Belum lagi, Prabowo jika terpilih sebagai presiden, dia membutuhkan wakil yang bisa bekerja mumpuni di bidang ekonomi. Prabowo melihat Sandiaga sosok yang bisa dipercaya dibanding menterinya dalam mengurus ekonomi negara.

Dengan fakta ini, Jokowi-Ma’ruf melawan Prabowo-Sandiaga punya sasaran pemilih yang berbeda. Jokowi-Ma’ruf yang oleh banyak kalangan disebut representasi nasionalis-agamis diperkirakan akan menyasar pemilih Islam khususnya Nahdlatul Ulama (NU) dan non-Islam, sedangkan Prabowo-Sandiaga akan menyasar nasonalis dan kelompok usia muda yang belum punya orientasi politik.(*)

 

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #prabowo-subianto  #jokowi  #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :