Opini

Senja Kala di Tlatah Bencana

Oleh Ariady Achmad pada hari Sabtu, 29 Sep 2018 - 09:52:17 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

15ariady.jpg

Kolom bersama Ariady Achmad (Sumber foto : Sumber foto : Ilustrasi oleh Kuat Santoso)


Bencana itu datang lagi. Belum reda duka Lombok, kini Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, diguncang gempa dan tsunami. Inilah romantika hidup di tlatah bencana.

Jumat (28/9/2018) petang, bumi Donggala bergetar. Gempa bumi tektkonik berkekuatan 7,77 Skala Richter menggoyang seluruh sudut kota, dengan efek getaran meluas hingga Kalimantan. Tak hanya itu, gempa ini juga memancing tsunami, yang mengamuk di kawasan pantai Kota Palu.

Menurut catatan Badan Meterologi , Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ketinggian tsunami mencapai lebih dari 1,5 meter.

"Berdasarkan hasil pemodelan tsunami, gempa menimbulkan tsunami dengan level siaga, ketinggian dengan lebih dari satu setengah meter. Dengan ketinggian gelombang laut tiga meter," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (28/9/2018).

Sekali lagi, inilah romantika hidup di tlatah bencana. Menerima atau tidak, mengakui atau tidak, Indonesia memang membentang di tlatah bencana. Seluruh wilayah bumi pertiwi masuk dalam bentangan Ring of Fire Pacifik (Cincin Api Pasifik).

Terdapat 29 wilayah daratan dan lautan yang berjajar di kawasan cincin api. Salah satu daratan dan lautan di garis bencana berbentuk tapal kuda itu ada di wilayah Indonesia.

Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua. Yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur. Kondisi geografis ini di satu sisi menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana letusan gunung api, gempa, dan tsunami.

Sejarah bencana di Indonesia terbilang panjang dan mengenaskan. Bencana demi bencana datang silih berganti. Duka dan air mata pun tak mungkin dibendung.

Mengutip wikipedia, sebelum Donggala dan Palu, Indonesia sudah mengalami 34 bencana. Gempa tertua pernah terjadi di Sumetara pada 25 November 1833. Sedangkan gempa dan tsunami dengan korban terbanyak, pernah terjadi di Aceh dan sebagian Sumatera Utara pada 26 Desember 2004. Peristiwa memilukan ini menewaskan 131.028 orang, dan menghilangkan 37 ribu orang.

Sudah menjadi kehendak alam bila Indonesia berdiri di tlatah bencana. Oleh karenanya, harus belajar dan bersahabat dengan alam pula, segenap pemimpin dan rakyatnya menjalani hidup dan berkehidupan. Bila bencana datang, mohon dengan sangat,jangan sedikit pun menyalahkan alam. Sekali lagi, jangan menyalahkan alam.

Para pemimpin di Indonesia, dalam pandangan saya, harus memiliki kesadaran itu. Sadar sesadar-sadarnya bahwa kabupaten/kota, provinsi, dan negara yang dipimpin berdiri di wilayah bencana. Harus disadari bahwa gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus bisa terjadi kapan dan dimana saja.

Bila Anda (wahai para pemimpin) sudah memiliki kesadaran itu, maka lengkapi dengan orientasi pembangunan yang merujuk kepada kesadaran bahwa kita hidup dalam lingkaran cincin api pasifik. Tolong sempurnakan pula kepemimpinan Anda dengan progam dan rencana kerja yang fokus kepada keselamatan rakyat. Luar biasa rasanya, walau Indonesia hidup di wilayah bencana, namun keselamatan rakyatnya tetap terjaga. (*)

 

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #bencana-alam  

Bagikan Berita ini :