Soal Aliran Dana Buku Merah, Pengamat ini Ragukan Data Indonesialeaks
Oleh Ferdiansyah pada hari Kamis, 11 Okt 2018 - 17:23:06 WIB

Bagikan Berita ini :

98buku-merah.jpg.jpg
Sumber foto : Ist
Ilustrasi

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Pengamat hukum, politik dan keamanan, Dewinta Pringgodani mempertanyakan soal keabsahan data tentang dugaan suap petinggi Polri sebagaimana dilansir dari Indonesialeaks.

Dia menilai, laporan Indonesialeaks tentang dugaan aliran dana pengusaha daging Basuki Hariman kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai berita bohong. 

"Saya menduga laporan itu sejenis operasi intelijen yang bertujuan untuk membunuh karakter seseorang. Saya anggap itu hoaks saja. Saya tidak percaya,” kata Dewinta dalam keterangannya, Kamis (11/10/2018). 

Dia menyebut, informasi tentang perusakan barang bukti dari buku merah berisi daftar penerima suap yang disebut juga berisi nama Tito Karnavian sebagai penerima terbanyak terkesan tendensius tanpa alat bukti yang memadai.

Karenanya, Dewinta menyesalkan tindakan mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto, yang menurutnya terlalu buru-buru ikut menyebarkan rilis terkait kasus tersebut.

Dewinta memandang, saat ini banyak laporan yang dibuat di media daring hanya untuk menjatuhkan orang maupun institusi. 

Namun, dia meminta publik tak mudah percaya mengingat rilis tersebut bukan hasil pemeriksaan lembaga hukum resmi.

"Apalagi dalam persidangan Basuki Hariman tidak ada terungkap soal dugaan aliran dana tersebut," katanya.

"Itu tidak bagus bagi perkembangan hukum. Indonesialeaks itu kan hanya menampung laporan yang namanya dirahasiakan ke publik,” ujar Dewinta. 

Situs IndonesiaLeaks, kata Dewinta, sama seperti Wikileaks yang selama ini diciptakan untuk membuat polemik di tengah-tengah masyarakat. 

Oleh karena itu, Dewinta menolak untuk mengomentari isinya karena bisa membuat tujuan dari penulisnya berhasil. 

"Makanya saya heran, sekelas Bambang Widjojanto ikut pula menyebarkan berita bohong itu,” sesal Dewinta. 

Selain itu, Dewinta mengaku mengenal sosok Jenderal Tito Karnavian dengan baik. "Sata yakin, 100 persen Jenderal Tito tidak akan melakukan tindakan yang melawan hukum apapun,” tegas dia. 

Karena itu, Dewinta juga meminta aparat penegak hukum memeriksa pihak-pihak yang menyebarkan kabar bohong tersebut. 

"Situs Indonesialeaks itu juga gak jelas. Apakah produk jurnalistik atau produk apa. Saya gak paham motif mereka,” cetus Dewinta. 

Sebelumnya, sejumlah media yang berkolaborasi dalam IndonesiaLeaks merilis hasil investigasi mengenai kasus korupsi yang diduga melibatkan para petinggi penegak hukum di jajaran Polri. (Alf)

tag: #polri  #kpk  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca teropongsenayan.com yth.

Polemik Ratna Sarumpaet, dalam waktu sekejap, membuka mata-telinga dan mengejutkan banyak kalangan. Termasuk mata dan telinga para politisi.

Setelah polisi membuktikan kebohongan Ratna, dan yang bersangkutan juga mengaku berbohong, polemik pun semakin kencang. Di sisi lain, beberapa kalangan menengarai polemik kebohongan Ratna berimplikasi terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019. Yakni Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Anda, seperti apa dampak dari implikasi tersebut:

  • 1. Berpengaruh positif terhadap Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2. Berpengaruh positif terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
  • 3. Tidak berpengaruh terhadap masing-masing paslon
LIHAT HASIL POLING