Opini

JK Ikuti Jejak Keliru La Nyala?

Oleh Dr. Fuad Bawazier (Pengamat Ekonomi dan Politik) pada hari Senin, 24 Des 2018 - 15:56:29 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

89images (95).jpeg.jpeg

Dr. Fuad Bawazier (Pengamat Ekonomi dan Politik) (Sumber foto : ist)

Harian FAJAR yang terbit di Makassar Ahad 23 Desember memberitakan sebagai headline dengan judul Jokowi: Saya Bisa Tidur Pulas. Jokowi menyebut bisa tidur nyenyak dan tak harus repot memastikan suara Indonesia Timur karena ada pernyataan (jaminan) dari Jusuf Kalla (JK): Serahkan saja semuanya Indonesia Timur ke saya. Meski saya meragukan adanya jaminan dari JK bahwa suara Indonesia Timur dalam Pilpres 2019 untuk Jokowi, saya jadi teringat pernyataan serupa dari La Nyala bahwa 80% suara Madura untuk Jokowi. 

Serta merta orang Madura yang tersinggung membantah dan menunjukkan sikap atau pilihan politik yang berbeda dengan pernyataan La Nyala. Sikap politik orang Madura  bukan ditentukan oleh La Nyala yang bukan tokoh Madura, karena orang Madura itu cerdas dan kritis. Kampanye kubu Jokowi di Madura sepi pengunjung dan teriakan Jokowi mole (Jokowi pulang). 

Apalagi Indonesia Timur yang amat luas dan beragam. Dulu,— dalam Pilpres 2014,— Indonesia Timur dimenangkan Jokowi karena faktor JK.  Tapi kini tentu situasi dan kondisinya sudah berbeda,— demikian yang dikatakan tokoh tokoh Indonesia Timur. Karena itu kampanye kubu  Jokowi disana juga sepi seperti dibanyak tempat tempat lain  di Indonesia. Meskipun kabarnya sudah ada pengerahan pengunjung melalui berbagai jalur birokrasi/aparat/dinas, dan bujuk rayu atau iming iming.

Dimana-mana aspirasi yang muncul adalah 2019 Ganti Presiden. Karena masalah utamanya adalah Jkw praktis tidak memenuhi janji janjinya saat kampanye dulu. Saya yakin Jokowi dan kubunya menyadari aspirasi yang tidak terbendung ini. 
Orang Indonesia Timur juga tahu bahwa JK pada Pilpres 2014 merupakan faktor penting dalam memenangkan Jkw karena JK adalah tokoh Islam dan tokoh Indonesia Timur. Tetapi publik melihat kenyataan bahwa dalam perjalanannya sejak 2014 sampai dengan sekarang, JK hanya di parkir laksana mobil tua. Karena tidak didayagunakan, JK ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Ketika banyak tokoh Islam merasa diperlakukan tidak adil, JK juga tidak berdaya atau sekurang kurangnya tidak banyak bisa berbuat. 

Jadi umat Islam tidak mau terkecoh atau diperalat dua kali oleh Jkw dengan menggunakan JK. Begitu pula orang Indonesia Timur yang menyaksikan tokohnya hanya dijadikan pajangan karena dalam banyak pandangan, JK tidak lagi mewarnai perjalanan politik Indonesia. Berbeda dengan ketika JK sebagai Wapresnya SBY. Paling paling kini JK digunakan untuk kegiatan seremonial atau mewakili Presiden pada acara acara internasional di United Nations (PBB) dll, atau sebagai penanggung jawab projek olah raga Asian Games yang kalau gagal akan kena getahnya tetapi jika sukses tentulah Presiden Jkw yang muncul atau memanen kreditnya. Tetapi kalaulah JK,— sekali lagi kalau,— sungguh sungguh akan berjuang untuk memenangkan suara Jkw di Indonesia Timur, saya yakin akan sia sia dan nasibnya akan sama saja seperti langkah La Nyala di Madura, blunder belaka. 

Jakarta, 24 Desember 2018

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #jusuf-kalla  

Bagikan Berita ini :