Berita

Minat Bertani Generasi Muda Menurun, Kubu Prabowo: Kedaulatan Pangan Kita Terancam

Oleh Mandra Pradipta pada hari Rabu, 16 Jan 2019 - 22:01:08 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

63anak-ok-800x445.jpg.jpg

Ilustrasi pelatihan dan leningkatan minat bertani pada anak dan remaja Indonesia. (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Dewan Pakar Bidang Ekonomi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Laode Kamaluddin mengungkapkan, bahwa dunia pertanian dan nelayan kini mengalami penuaan.

Penyebabnya adalah karena kalangan anak muda tak minat bertani. Sehingga jumlah petani dan nelayan pun terus menurun dari tahun ke tahun.

Karena itu, dia menegaskan, bila paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat mandat dari rakyat di Pilpres, pihaknya bertekad akan membangun ekonomi petani dan nelayan sebagai basis perekonomian nasional. 

Langkah tersebut, kata dia, akan diwujudkan melalui berbagai cara, salah satunya dengan mendorong regenerasi petani dan nelayan demi terwujudnya kedaulatan pangan di Indonesia. Meskipun, diakuinya hal itu tak mudah seketika diwujudkan.

Sebab, dia mengatakan, banyak orang tua petani dan nelayan tidak ingin anak-anaknya mengikuti profesi orang tuanya karena alasan kemiskinan.

Bila anak muda enggan bertani, kata Kamaluddin, maka mendung gelap membayangi masa depan kedaulatan pangan di Tanah Air. 

Karenanya, lanjut dia, Prabowo-Sandi telah menyiapkan konsep digital farming, digital fishering, dan mekanisasi produk pertanian dan perikanan agar anak-anak muda kembali bertani.

"Tidak ada bangsa yang mandiri kalau pangannya tidak dilahirkan sendiri, tidak ada bangsa yang bisa tahan kalau pangannya dikuasai dari luar. Kita harus mulai berpikir kepada generasi milenial untuk menggunakan digital farming dan digital fishering. Ini di masa depan memang kita bisa swasembada, dan kita bisa mandiri di dunia pangan," kata Kamaluddin di Jakarta, Rabu (16/1/2019).

Sementara itu, pemerhati isu pangan dan perempuan Sidrotun Naim mengungkapkan, alasan mengapa anak muda atau kaum milenial sekarang malas terjun ke dunia pertanian. 

Menurutnya, hal itu akibat dari harga pupuk dan benih yang mahal, sedangkan harga komoditas pertanian setelah panen malah anjlok.

"Selain itu juga karena susahnya akses permodalan bagi petani dan nelayan menjadi beberapa alasan mengapa anak muda malas bertani," ungkapnya.

"Saya juga turun ke petani dan nelayan mereka itu biasanya kalau ngomong, ‘pada saat kita mau menanam ada benihnya, pupuknya dan harganya jangan mahal, dan panen bisa dijual, karena kalau enggak bisa, jadinya dibuang.’ Karena itu tidak salah juga kalau anak muda tidak mau bertani, karena pupuknya mahal, benihnya mahal, tapi pas dijual harganya jatuh," jelas Sidrotun.

Terkait akses permodalan bagi petani dan nelayan, Sidrotun mendorong agar Prabowo-Sandi membentuk lembaga keuangan yang pro kepada petani dan nelayan. 

Lembaga keuangan itu, kata Sidrotun, harus diwujudkan untuk menghadirkan keadilan bagi petani dan nelayan sebagai tulang punggung kedaulatan pangan di Indonesia.

"Kalau pengusaha besar mau berhutang kan relatif mudah. Kalau petani dan nelayan mau berhutang itu susah. Berarti harus dibenahi karena berarti sistemnya belum adil," kata Sidrotun. (Alf)

tag: #prabowosandiaga  #kementerian-pertanian  #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :

Kemendagri RI
advertisement