Opini

Bisakah Menurunkan Angka Golput?

Oleh Muhammad Farras Fadhilsyah (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia/Analys Politic) pada hari Kamis, 07 Feb 2019 - 07:54:18 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1549500858.jpg

Ilustrasi (Sumber foto : ist)

Kata golput sudah tidak asing lagi didengar oleh telinga masyarakat. Lagi-lagi angka golput sejak masa setelah reformasi selalu mengalami angka kenaikan. Ini menjadi sebuah teguran penting bagi demokrasi kita, khususnya para pelaku politik yang seharusnya memikirkan ini menjadi hal yang sangat fundamental dalam berenegara.

Mengapa begitu sangat penting golput harus di fikirkan? Karena golput ini adalah sebuah teguran, karena kalagan golput ini sudah memasuki tahapan sebuah individu
yang melakukan partisipasi politik karena sudah terbutkti ia telah datang ke TPS walaupun tidak memilih seluruh kandidat yang ada di dalam kertas suara. Ini menandakan bahwa ada sebuah pertanyaan mengapa ia tidak memilih kandidat yang ada di kertas suara padahal ia telah jauh jauh datang ke TPS. Ini menandakan ada sebuah fikiran masyarakat yang misterius dan seharusnya para pelaku politik memikirkan hal ini.

Menurut Miriam Budiarjo, (dalam Cholisin 2007:150) menyatakan bahwa partisipasi politik secara umum dapat didefinisikan sebagai kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pemimpin Negara dan langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijakan publik (public policy).

Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum, mengahadiri rapat umum, menjadi anggota suatu partai atau kelompok kepentingan, mengadakan hubungan (contacting) dengan pejabat pemerintah atau anggota perlemen, dan sebagainya. Ini menandakan bahwa langkah sesorang untuk memilih golput adalah sebuah sesorang itu telah melakukan partisipasi politik walaupun tidak memilih calon di dalam kertas suara.

Hal ini pertanda bahwa langkah golput sebuah masukan bahwa ada golongan masyarakat yang tetap peduli dalam perpolitikan nasional tetapi seorang tersebut tidak cocok atau sebut saja tidak ingin salah satu paslon di kertas suara itu terpilih. Berbeda dengan swing voters yang memang adalah mereka bisa di kategorikan masih bingung untuk memiiih siapa yang pantas untuk di coblos di bilik suara, swing voters ini cenderung terus menggali informasi mengenai paslon karna mereka tergolong sangat selektif untuk membandingkan siapa yang pantas untuk mereka pilih. Tetapi gerakan golput ini bisa di katakan gerakan ketidak puasan atau rasa kekecewaan terhadap paslon tersebut. Bisa jadi di pemilu lalu ia memilih paslon tetapi di pemilu ini ia memilih golput karna pilihan nya di saat pemilu lalu ia merasa tidak puas. Ditambah lagi dengan paslon nya kali ini tetap sama yaitu pertandingan rematch di Pilpres 2014.

Ini lah yang mengakibatkan rasa jenuh masyarakat terhadap hiruk pikuk perpolitikan nasioanal karena mereka beranggapan bahwa yang bermain hanya mereka mereka saja dengan kepentingan yang mungkin sama tak jauh beda dari Pilpres 2014.

Penyebab lain nya adalah ketika golput dan swing voters begitu tinggi ini diakibatkan karena ada rasa kekecewaan terhadap paslon petahana karena jika kita lihat survei saat ini yang beredar di media massa hanya berselisih sedikit antara paslon 01 dan 02, ketika mereka kecewa dengan petahana mereka juga tidak mau memilih paslon 02 dikarenakan mereka mempunyai motivasi yang sama mengapa mereka tidak memilih Prabowo ketika di Pilpres 2014.

Walaupun Pilpres masih ada waktu beberapa bulan lagi angka swing voters akan di perkirakan terus stabil hingga last minute karena sepahit-pahitnya golput adalah ia akan menjadi swing voters dan menentukan pilihan nya di bilik suara.

Untuk kedua paslon masih ada waktu untuk menurunkan angka golput dan swing voters tersebut dengan cara mereka memuaskan masyarakat dengan argumen yang di
butuhkan masyrakat. Masyarakat kini membutuhkan sebuah argumen substansi dimana mereka mencerna bagaimana nasib 5 tahun Indonesia mendatang.

Dari sektor institusi pemerintah juga harus mengambil langkah untuk menurunkan angka golput ini khususnya adalah KPU sebagai penyelenggara pesta demokrasi ini. Jalan terbaik nya KPU untik menurunkan angka golput ini dan swing voters dengan menjadikan ajang debat pilpres yang benar-benar memuaskan masyarakat bukan memuaskan
paslon. Di ajang debat itulah KPU menjadikan kedua paslon harus berdebat dengan data dan argumen yang di nanti-nanti masyakarakat. Catatan debat pertama kemarin
harus menjadi evaluasi besar-besaran oleh KPU. Jika debat kedua tidak lebih baik dari debat pertama maka wajar saja angka golput akan diperkirakan naik. (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :