Berita

MPR : Kita Krisis Tokoh Bangsa yang Memberi Tuntunan

Oleh Bara Ilyasa pada hari Kamis, 14 Mar 2019 - 02:01:18 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1552503678.jpg

Gedung MPR RI (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Wakil Ketua MPR Mahyudin mengatakan Indonesia mengalami krisis tokoh bangsa yang bisa memberi tuntunan. Kita punya banyak tokoh tapi tidak bisa menjadi contoh atau teladan. 

Berbicara dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR di depan Forum RT Kelurahan Tanah Grogot Kecamatan Tanah Grogot, Kalimantan Timur, Selasa (12/3/2019), Mahyudin mengatakan rakyat Indonesia membutuhkan tokoh panutan. Tokoh panutan itulah yang memberi tuntunan. Sedangkan tuntunan diperoleh dari tontonan atau proses meniru. 

"Hari ini kita tidak lagi memiliki figur-figur yang bisa menjadi panutan dan memberi tuntunan dalam berbangsa dan bernegara," katanya.

Mahyudin menyebut Indonesia tidak punya lagi tokoh seperti Bung Karno atau Bung Hatta dan para pendiri bangsa lainnya. 

"Bung Karno membakar nasionalisme rakyat. Banyak orang pada waktu itu kagum dengan pidato-pidato Bung Karno," katanya memberi contoh.

"Kita tidak punya lagi tokoh seperti Bung Karno. Kita rindu pada figur Bung Karno dan tokoh pendiri bangsa lainnya," imbuh Mahyudin. 

Ketiadaan tokoh-tokoh seperti itu membuat bangsa ini mengalami krisis tokoh bangsa yang menjadi panutan dan memberi tuntunan. "Sekarang kita juga banyak tokoh, tapi tidak menjadi panutan dan memberi tuntunan," tutur Mahyudin. 

Tokoh seperti pimpinan lembaga negara, lanjut Mahyudin, justru tersangkut kasus hukum (korupsi). Contohnya Ketua DPR, Ketua DPD, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) terjerat kasus korupsi. Belum lagi banyak menteri, gubernur, bupati, anggota legislatif terjerat kasus korupsi. "Tokoh para pejabat kita banyak tersangkut kasus korupsi. Ini masalah kita," ujarnya.

Mahyudin menambahkan krisis tokoh bangsa ini membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap tokoh-tokoh publik sekarang ini. Hal ini bisa dilihat dari partisipasi politik dalam Pemilukada yang hanya berkisar 60 persen. "Karena masyarakat tidak percaya.  Jangan-jangan mereka beranggapan hanya memilih calon koruptor saja," ucapnya. 

Krisis ketiadaan tokoh bangsa ini masih ditambah dengan kemajuan teknologi informasi. Mereka bisa  mencaci maki tokoh berlindung di balik teknologi informasi. "Orang bisa memaki lewat twitter,  instagram, facebook, whatsapp. Individualistik makin kuat," jelasnya.

Mahyudin mengajak peserta sosialisasi untuk menjaga jati diri bangsa. "Inilah pentingnya Sosialisasi Empat Pilar MPR. Empat Pilar adalah pemersatu bangsa. Karena itu penting sekali penerapan Empat Pilar ini untuk mempertahankan jati diri bangsa," katanya. (Alf)

tag: #mpr  

Bagikan Berita ini :

Kemendagri RI
advertisement