Opini

Awas, Lembaga Survey Bodong

Oleh Djaim Glodok (Wartawan Senior) pada hari Rabu, 20 Mar 2019 - 08:50:32 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1553046632.jpeg

Ilustrasi (Sumber foto : ist)

Bagi peminat ilmu-ilmu sosial yang kebetulan akrab dengan metode kuantitatif (statistik, matematika dan ekonometrik), pemandangan seputar kampanye capres cawapres di seluruh penjuru Nusantara sudah sangat cukup untuk mengambil kesimpulan mana capres cawapres yang diinginkan rakyat.

Apa lagi beberapa bulan mendekati hari "H" 17 April 2019, kondisi kampanye kubu 01 dan 02 yang sudah berada pada tahap ektrim, yaitu kampanye kubu 02 selalu ditandai dengan pecah dan melimpahnya rakyat yang hadir serta berteriak: "Prabowo...Prabowo" ini kenyataan di seluruh daerah di Indonesia.  Bandingkan dengan sepi dan pemandangan bangku-bangku kosong setiap kampanye 01. Belum lagi setiap  kampanye 01 selalu disambut sama salam dua jari dan teriakan Prabowo dari masyarakat.

Karena itu, menjadi aneh ketika saya membaca hasil survey Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) 10 Maret lalu yang merilis hasil survei terkait dukungan calon presiden dan integritas penyelenggara Pemilu evaluasi publik nasional. 

Hasilnya, pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma"ruf unggul 57,5 persen dari pasangan Prabowo-Sandi yang hanya mendapatkan suara 31,8 persen. "

Survey Bodong

Saya membaca ulang teori survey politik, tujuan awalnya ingin melihat dan meraba denyut keinginan suara publik dari kondisi perpolitikan satu daerah atau negara.

Jadi ada logika akal sehat yang dikembangkan. Seperti perkembangan ekstrim yang terjadi sekarang, dominasi suara dominan dimana2 di seluruh Indonesia bahwa rakyat Indonesia butuh perubahan dan tidak mau lagi dibohongi oleh capres kubu 01 yang selama 4 tahun ini berkuasa.

Rakyat sudah lelah dibohongi capres 01 dan sudah muak dengan pelbagai kesulitan dari kebijakan yang dibuat kubu 01. 

Pemandangan ekstrim di semua daerah adalah " rakyat ingin perubahan" dan "ganti presiden". Simpleks saja. Secara ilmu statistik ini gampang dilihat dengan pola induktif dan deduktif dalam mengambil populasi atau sample riset lembaga survey.

Kalau samplenya ngaco, patut diduga lembaga survey yang ada itu lembaga survey Bodong. Seolah2 mau menjadi lembaga yang bisa meraba denyut keinginan masyarakat/publik dan edukasi, eh gak tahunya lembaga survey bayaran yang ingin memenangkan capres pertahanan.

Selain SMRC, kita melihat lembaga survey lain yang terindikasi lembaga survey Bodong adalah LSI Denny JA dan belasan lembaga survey lainnya. Bahkan Denny dikenal di dunia medsos sebagai penyebar meme murahan. Seperti debat cawapres malam Senin lalu antara Sandiaga dan Kiai Makruf Amin, publik melihat meme itu sudah dibuat sebelum debat terjadi. Padahal mata dan telinga semua orang melihat bagaimana mempesonanya ungkapan dan penjelasan Sandi atas pelbagai topik debat.

Banyak kalangan menilai, Sandi menang telak dalam debat yang disebut pemimpin milenial vs kolonial.

Stop Kebohongan

Rasa-rasanya tidak berlebihan kalau rakyat berharap agar Lembaga Survey-lembaga survey menghentikan kebohongan lewat survey-survey mereka. 

Rakyat bisa marah juga ke mereka. Analoginya mirip kasus reuni 212 yang tidak dicover sana sekali oleh media kecuali tvOne saja. Dan rakyat menunjukkan protes terhadap media tersebut. Protes yang sama bisa diarahkan pada lembaga survey politik tersebut.

"Jangan keterlaluan cari duitlah, sampai harus berbohong menjadi pseudo survey (seolah olah lembaga survey, padahal lembaga survey Bodong).

Yang terakhir terkait aksi bohong jamaah kubu 01, adalah juga para pembela 01 yang disebut para cebong. Apa tidak cukup musibah seorang Romi (ketua umum PPP yang dipenjara) sebagai peringatan dan pelajaran untuk kalian.

Maka, apakah kalian tidak berfikir dan menggunakan akal??

Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?

Apalagi ketua Tim Kampanye Nasional 01 mengeluarkan pernyataan yang seolah menyatakan tidak percaya dengan survey:"Survey tidak penting karena yang terpenting gerakan massif di daerah-daerah".Nah..

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :