Opini

Jaga Citra Indonesia dengan Pemilu Jurdil

Oleh Shamsi Ali pada hari Senin, 22 Apr 2019 - 11:13:42 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1555906422.jpg

Ilustrasi (Sumber foto : Ist)

Berbicara tentang Indonesia tentu berbicara tentang banyak kelebihan dan kebanggan bagi bangsa, bahkan bagi umat dan dunia. Betapa tidak, negeri ini memiliki kelebihan-kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Dengan keluasan geografis yang luar biasa, gugusan kepulauan yang indah menawan, dengan lautan yang membentang nan kaya, menjadikan Indonesia bak sebongkah permata yang super cantik dan mahal. 

Keragaman wajah penduduknya, dari wajah-wajah melayu, Asia Selatan (India-Pakistan Bangladesh, Arab, hingga Africa dan China, menambah keindahan dan kekayaan negeri ini. Apalagi keragaman budaya, agama dan tradisi masyarakat semuanya menambah nilai yang tak terhingga bagi negeri tercinta. 

Dari semua itu, barangkali hal yang juga membanggakan negeri ini adalah kenyataan bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Kalau saja seluruh negara-negara Arab disatukan, jumlah Muslim Indonesia masih lebih besar dari keseluruhan Muslim di negeri-negeri Arab. 

Tapi besarnya Muslim Indonesia bukan sekedar besar secara kwantitas. Toh dalam Islam nilai (value) tentang sesuatu tidak selalu diukur dengan ukuran kwantitas. Ibrahim pada dirinya sendiri justeru dikategorikan sebagai “ummah”. Hal itu karena pada dirinya terdapat esensi keumatan. Itulah kwalitas pribadi seseorang. 

Kebesaran umat Islam Indonesia ada pada karakter dan sikap keumatannya. Umat Islam Indonesia menjalani Islam dengan merangkul nilai-nilai modernitas (ashry) dan peradaban (tamaddun). Islam yang sejalan dengan nilai-nilai kehidupan manusia yang berkemajuan dan beradab (civilized). 

Tapi dari semua kebanggan itu, mungkin yang paling khas dan membanggakan adalah kenyataan bahwa Indonesia sebagai negara terbesar Muslim dunia sekaligus dikenal sebagai demokrasi ketiga dunia. Artinya keunikan yang membanggakan negeri ini adalah kemampuan bangsanya “mengawinkan” Islam dan demokrasi. 

Saya katakan keunikan yang membanggakan karena selama ini ada persepsi yang terbangun bahwa Islam itu antithesis dari demokrasi. Dan demokrasi itu tidak memilki tempat dalam ajaran Islam. 

Saya kira Indonesia “by action” (dengan aksi) telah menjawab tuduhan itu. Bahkan tidak sekedar menjawab. Tapi dengan jawaban yang meyakinkan dan membanggakan. 

Ragam ekspresi keumatan yang pernah dan masih terus kita lihat adalah bentuk kepedulian umat kepada demokrasi. Dengan Islam dan spirit demokrasi itulah umat selalu merespon kepada banyak hal secara lugas, terbuka, teratur dan damai. 

Sikap dan respon umat kepada sesuatu yang disetujui atau tidak disetujui disalurkan melalui cara-cara demokratis. Yaitu terbuka, bebas, namun penuh tanggung jawab dan kedisiplinan tinggi. 

Saya yakin, walau diam-diam, dunia telah belajar banyak dari umat Islam dan bangsa Indonesia dalam berdemokrasi. Bahwa demokrasi itu menjunjung tinggi kebebasan. Tapi kebebasan yang bertanggung jawab, tertib sesuai aturan dan damai. 

Maka di hari-hari pesta demokrasi di negeri ini, harusnya disambut dengan penuh sukacita, riang dan gembira. Kita sambut sebagai momen yang baik untuk membuktikan kebesaran dan kehebatan bangsa. Bahwa kita adalah bangsa dengan penduduk Muslim terbesar dunia, sekaligus demokrasi besar dunia. 

Untuk itu, mari kita jaga citra ini. Jaga pelaksanaan pesta demokrasi dengan kedisiplinan dan kejujuran. Jangan sampai karena ego dan kerakusan sesaat mencederai citra yang telah terbangun dengan baik. 

Pelaksanaan pemilu yang jujur dan amanah harus dijaga. Berbagai tendensi ketidak jujuran harus segera dilawan. Dorongan hawa nafsu, menghalalkan segala cara untuk menang harus dihentikan. Langsungkan pemilu dengan satu semangat, untuk Indonesia maju, kuat, adil dan makmur.

Mereka yang di posisi otoritas (kekuasaan) masanya membuktikan untuk meyakinkan masyarakat bahwa pelaksanaan pemilu ini jurdil (jujur dan adil), tidak penuh dengan kecurangan dan manipulasi. 

Kita ingin melihat “bold actions” (aksi tegas) pemerintah, menindak lanjuti semua pelanggaran yang terang di depan mata. 

Kasus Malaysia segera diselesaikan. Siapa pelakunya? Siapa yang diuntungkan dan dirugikan? Bagaimana menindak lanjutinya? 

Demikian pula yang masif di berbagai belalahan negeri. Termasuk sebagai contoh pemanggilan semua kades di kampung saya, Kabupaten Bulukumba dan diarahkan menyumbang suara untuk paslon tertentu. 

Semua pelanggaran ini tidak patut didiamkan. Jika tidak maka citra pemilu, bahkan citra negara tercoreng. Bahkan ke depan semangat partisipasi politik warga bisa menurun drastis. Dan jika itu terjadi maka masa depan demokrasi di Indonesia kembali suram. 

New Zealand, 22 April 2019

Putra bangsa di kota New York, AS. (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #pilpres-2019  #kpu  #pemilu-2019  #bawaslu  

Bagikan Berita ini :