Oleh Sahlan Ake pada hari Kamis, 04 Jun 2020 - 05:56:47 WIB
Bagikan Berita ini :

Ini Empat Resiko Pilkada Digelar 9 Desember 2020

tscom_news_photo_1591225007.jpg
Pilkada 2020 (Sumber foto : Ilustrasi)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Pengamat komunikasi politik Arif Susanto menilai keputusan pemerintah, DPR bersama KPU untuk tetapngototmenyelenggarakan Pilkada pada 9 Desember 2020 cukup ceroboh dan tanpa perhitungan matang. Kecerobohan semacam itu berpeluang menghasilkan inefisiensi, bahkan dapat mengorbankan kualitas demokrasi.

"Keputusan yang sangat berisiko," kata Arif di Jakarta, Rabu (3/6/2020).

Ada empat alasan mengapa Pilkada 9 Desember terlalu berisiko. Pertama, kata ia, belum ada protokol jelas tentang penyelenggaraan pilkada di tengah pandemi. Penyusunan protokol serupa membutuhkan dua pertimbangan penting.

Kedua, terdapat risiko kesehatan yang sulit diantisipasi, kendati Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 merestui Pilkada 2020. Tahapan seperti penetapan calon, kampanye, pemungutan suara, penghitungan suara, dan rekapitulasi berpotensi menarik perhatian dan memicu pengumpulan massa. Selain risiko keamanan, risiko kesehatan dapat meningkatkan potensi kerawanan.

Ketiga, Pilkada 2020 berpotensi menjadi yang termahal sekaligus inefisien. Hal ini terutama karena KPU mengajukan tambahan anggaran Rp 535,981 miliar untuk alat pelindung diri (APD). Sementara mereka tidak bisa menjamin pilkada akan bebas risiko kesehatan. Perubahan APBN juga membutuhkan waktu pembahasan. Artinya, pemaksaan ini berdampak inefisiensi waktu dan uang.

Keempat, dalam kondisi serba darurat, hampir seluruh tahapan pilkada tidak dapat dilaksanakan secara optimal sehingga dapat menurunkan kualitas pilkada. Ketika kontrol dan pengawasan sulit dijalankan, penyelenggara pilkada menjadi permisif terhadap pelanggaran. Begitu pula dengan tingkat partisipasi yang terbatas, legitimasi hasil pilkada layak untuk dipertanyakan inklusinya.

"Memaksakan penyelenggaraan Pilkada pada 2020 hanya akan memenuhi hasrat kuasa elite dengan merisikokan kesehatan warga. Selain konyol, hal ini mengesankan bahwa penyelenggara Pilkada berada di bawah tekanan politik untuk memaksakan putusan tersebut," ujar Arif.

tag: #pilkada-2020  #kpu  #komisi-ii  #dpr  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI M HEKAL
advertisement
IDUL FITRI AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI SINGGIH
advertisement
IDUL FITRI SOKSI
advertisement
Lainnya
Berita

Analis Apresiasi Menteri Imipas Tegas Berantas Narkotika di Lapas, Selaras Asta Cita Prabowo

Oleh Sahlan Ake
pada hari Sabtu, 11 Apr 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Dukungan terhadap langkah tegas Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) RI, Jenderal Pol. (Purn) Pol. Drs. Agus Andrianto, SH., M.H., dalam memberantas peredaran ...
Berita

Sosialisasikan UU Lalu Lintas, Squad Nusantara Kab Tangerang Gandeng Polresta Tangerang

KABUPATEN TANGERANG (TEROPONGSENAYAN) --Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap aturan berlalu lintas, Squad Nusantara Kabupaten Tangerang berkolaborasi dengan Polres ...