Oleh Alfin Pulungan pada hari Jumat, 14 Agu 2020 - 12:33:18 WIB
Bagikan Berita ini :

Sindiran Jokowi bagi Mereka yang Merasa Paling Benar

tscom_news_photo_1597382910.jpg
Presiden Jokowi mengenakan pakai adat NTT di Sidang Tahunan MPR 2020 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2020). (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyesalkan banyak kalangan yang mempolitisasi kebenaran dengan memakai topeng agama dan Pancasila. Tak dipungkiri, semenjak musim Pilpres 2019, Indonesia masuk ke dalam era post truth, atau era di mana pendapat masyarakat tak lagi dibentuk berdasarkan fakta dan rasio, melainkan dilandasi sentimen dan kepercayaan subjektif.

Hal inilah yang mengakibatkan banyak masyarakat hari ini terjerumus ke dalam sikap merasa paling tahu dan benar serta hanya pandangannya yang dinilai pantas diterima. Sikap sofis yang demikian tentu harus dihilangkan karena tak berfaedah sedikit pun bagi kemajemukan bangsa, justru yang timbul adalah bencana konflik dan perpecahan.

Pokok pikiran tersebut mengemuka dalam pidato kenegaraan Presiden Jokowi di Sidang Tahunan MPR yang digelar hari ini, Jumat, 14 Agustus 2020 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.
"Jangan ada yang merasa paling benar sendiri, dan yang lain dipersalahkan. Jangan ada yang merasa paling agamis sendiri. Jangan ada yang merasa paling Pancasilais sendiri. Semua yang merasa paling benar dan memaksakan kehendak, itu hal yang biasanya tidak benar," kata Jokowi.

Jokowi menyandingkan frasa "merasa paling benar" dalam pidatonya tersebut dengan kata "agamis" dan Pancasilais". Hal ini tidak lah mengherankan, sebab Agama yang diyakini sakral dan bersifat transenden itu kerap dikotori dengan beragam ulah manusia yang profan.

Sekaitan dengan itu, Pancasila yang disebutkan Jokowi juga bernasib sama seperti agama. Namun, di samping banyak yang mempolitisasi makna dari nilai-nilai Pancasila sesuai nafsu individu maupun kelompok, Pancasila juga didera dengan ancaman ideologi asing. Sehingga, Jokowi menegaskan dalam pidatonya, "Nilai-nilai luhur Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, persatuan dan kesatuan nasional, tidak bisa dipertukarkan dengan apapun juga."

"Kita tidak bisa memberikan ruang sedikit pun kepada siapa pun yang menggoyahkannya," tambah Jokowi menegaskan.

Selain itu, Jokowi mengatakan sistem pendidikan nasional harus mengedepankan nilai-nilai Ketuhanan, yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia, serta unggul dalam inovasi dan teknologi. Hal ini menurutnya sebagai bentuk implementasi Pancasila dalam kehidupan nyata.

"Saya ingin semua platform teknologi harus mendukung transformasi kemajuan bangsa. Peran media-digital yang saat ini sangat besar harus diarahkan untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan," jelasnya.
Menurut Presiden Jokowi, Indonesia beruntung memiliki mayoritas rakyat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan persatuan, penuh toleransi dan saling peduli. Sehingga, masa-masa sulit sekarang akibat pandemi bisa ditangani dengan baik.

tag: #jokowi  #agama  #pancasila  #mpr  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Advertisement
Top Up Jackcard Kamu Dengan JakOne Mobile
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Berita

Penunda Pilkada Perlu Pertimbangan Secara Matang

Oleh Sahlan Ake
pada hari Selasa, 22 Sep 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi II DPR RI Bambang Patijaya menilai penundaan Pilkada 2020 bukan perkara mudah, diperlukan pertimbangan secara matang dari berbagai aspek. "Kita ...
Berita

Wasekjen Demokrat: Resesi Akibat Salah Kebijakan Jokowi Soal Pandemi

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Indonesia resmi memasuki resesi, karena itu perlu solusi kongkrit yang harus dilakukan pemerintah, bukan hanya pragmatis. Demikian disampaikan Wasekjen Partai Demokrat ...