Oleh Alfin Pulungan pada hari Minggu, 16 Agu 2020 - 13:29:21 WIB
Bagikan Berita ini :

Buta Huruf Modern Jadi Tantangan Indonesia, Apa Itu?

tscom_news_photo_1597553557.jpeg
Ilustrasi anak sekolah menggunakan gadget. (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan saat ini buta huruf modern menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia dan dunia.

Maksudnya, kata Muhadjir, buta huruf modern atau iliterasi modern terjadi di tengah kemudahan mengakses informasi secara digital dengan adanya internet.

Menurutnya, buta huruf modern itu disebabkan karena seseorang tidak mau atau tidak mampu mengelelola informasi yang diterimanya. Kelemahan dalam literasi inilah yang mengakibatkan terjadinya buta huruf modern.

Dengan informasi yang melimpah, masyarakat bukannya tercerdaskan, justru masyarakat menjadi malas menyerap informasi secara menyeluruh

"Itulah yang disebut dengan buta huruf modern, bukan karena tidak bisa baca atau tulis," kata Muhadjir, dalam webinar "Persiapan Perpustakaan dalam Menghadapi Pendidikan Jarak Jauh" yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah, dikutip dari siaran pers Kemenko PMK, Ahad, 16 Agustus 2020.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini menuturkan, saat ini terdapat dua tipe iliterasi di era modern, yaitu urban iliterasi dan rular iliterasi.

Muhadjir Effendy


Urban Iliterasi atau buta huruf perkotaan adalah karakteristik iliterasi modern, yakni informasi melimpah ruah tetapi gagal menangkap informasinya secara menyeluruh. Ia mencontohkan, seseorang yang membaca berita, namun yang dibaca hanya judul atau membaca buku, tapi yang disasar hanya kesimpulannya saja.

"Informasi supervisial, terpenggal. Ini sangat berbahaya," kata Muhadjir.

Sementara itu, yang kedua mengenai rural iliterasi atau buta huruf desa, kata Muhadjir, diakibatkan oleh terbatasnya akses informasi. Contohnya terjadi di wilayah desa terpencil yang minim informasi dari dunia luar sehingga membuat informasi yang diterima mereka tak berjalan baik.

"Keduanya sangat berbahaya karena bisa menimbulkan misinformasi. Tantangan teknologi informasi di era modern bukan jadi pemerataan informasi justru menjadi menumpuk, sedangkan yang tidak mendapatkan akses semakin tertinggal," jelasnya.

Muhadjir menyebut adanya ketimpangan tersebut harus disiasati dengan regulasi terkait pemerataan informasi. Sebab, jika dibiarkan, masyarakat desa yang tertinggal akan semakin tertinggal dengan masyarakat perkotaan.

tag: #literasi-digital  #pendidikan  #muhadjir-effendy  #kemenko-pmk  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Berita

Menag Kecam Keras Pembunuhan Satu Keluarga di Sulteng

Oleh Rihad
pada hari Sabtu, 28 Nov 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT Poso) di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, ...
Berita

Pemeriksaan Swab Habib Rizieq Timbulkan Pergolakan Baru

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Pemeriksaan Swab terhadap Habib Rizieq menimbulkan pergulatan baru. Habib Rizieq kabarnya sudah menjalani tes. Tapi hasil tes Swab yang dilakukan petugas MER-C, dirahasiakan ...