Oleh Aji Setiawan, Wakil Sekretaris DPC PPP , Jawa Tengah                              pada hari Minggu, 22 Nov 2020 - 08:35:45 WIB
Bagikan Berita ini :

Tantangan PPP di Pemilu 2024

tscom_news_photo_1606008945.jpg
Ilustrasi: PPP (net) (Sumber foto : Istimewa)


Terlepas dari perbincangan maraknya perebutan suara merebut kursi ketum PPP pada Muktamar IX, ada agenda penting PPP dalam menyambut Pemilu mendatang.
Siapapun ketum PPP, partai warisan ulama ini tentu tidak ingin masuk dalam elektoral treshold dan semakin ditinggal konstituennya. Sudah saatnya PPP menjadikan pemilu terakhir dengan perolehan kursi yang sangat merosot tajam, menjadi titik kritis untuk melakukan langkah-langkah progresif dan populis. Dengan mempertajam visi dan misi PPP sebagai pembawa dan pemersatu aspirasi ummat Islam setidaknya PPP sebagai partai Islam masih akan memperoleh dukungan dan simpati yang luas pada Pemilu mendatang.
Setidaknya paska Pilkada 2020, tahun 2021 partai poiitik mulai menyiapkan diri untuk segera menyambut Pemilu 2024. Setidaknya ada tujuh tantangan partai di masa mendatang.
Pertama, memburuknya citra partai politik menyusul terlibatnya sejumlah politisi dalam berbagai persoalan hukum dan sering tidak sejalannya fungsi representasi dewan dengan kehendak konstituen.

Dampaknya, muncul tantangan kedua, yakni delegitimasi keberadaan partai politik dalam berbagai jabatan publik. Padahal, berdasarkan UU Parpol tentang Partai Politik, telah menjamin bahwa salah satu fungsi partai politik adalah rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi.

Tantangan ketiga, adalah semakin massifnya keberadaan politik berbiaya tinggi (transaksional) yang berakibat pada berubahnya demokrasi Pancasila menjadi praktik politik uang. "Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang,".

Kemudian, tantangan keempat, politik kosmetika berbasis media, yakni partai-partai politik akan lebih bersolek memperebutkan pemberitaan media massa daripada berebut menyentuh hati rakyat.

Ini akan menjadikan kontestasi politik nir nilai karena bertarung di ruang hampa. Para pemimpin politik tidak jelas jungkir-balik untuk menarik perhatian siapa, apalagi jika media miliknya.

Tantangan kelima, adalah personalisasi versus institusionalisasi partai politik seiring dengan dilema antara kepemimpinan kharismatik dan kepemimpinan transformatif.

Tantangan keenam, bagaimana membawakan partai politik lebih berselera anak muda, karena sepertiga pemilih pada pemilu 2024 yang akan datang adalah usia 30 tahun ke bawah.

Kemudian, tantangan ketujuh, akibat berkembangnya piranti telekomunikasi berimplikasi pada informasi politik yang semakin lateral, semakin ke pinggir, yang menjadikan keputusan politik harus dibuat semakin transparan kalau tidak ingin ditinggalkan oleh pemilih.

Untuk menjawab semua itu, partai politik perlu menyiapkan kader partai untuk duduk di bangku legislatif. eksekutif dan yudikatif melalui jenjang pendidikan pengkaderan kepartaian.

Kader partai dan pengurus harus memiliki 5 modal utama yakni loyalitas, integritas, kapasitas, elektabilitas dan akuntabilitas. Loyalitas adalah apakah seorang kader mempunyai Integritas. Partai-partai politik harus membuka diri terhadap kader baru.

Pada masa Orde Baru kader-kader PPP banyak setelah itu keluar saatnya mereka diajak kembali ke PPP. Kita harus memaafkan dan membuka diri terhadap tokoh tokoh yang pernah masuk PPP. Karena itu kita perlu menggalang silaturahmi dengan pihak manapun agar partai ini menjadi besar.

Kedua, terkait dengan kapasitas kalau masuk baik duduk di DPR , DPRD I dan DPRD II harus disesuaikan dengan pengalaman dan pengetahuan dari kader. Partai harus jeli dan cermat menempatkan kader pada posisi yang tepat, the right man, in the right place.

Yang ketiga, elektabilitas. Seorang kader harus mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar. Minimal dari lingkungan keluarga, sekamar, sedapur. Selanjutnya mendapat dukungan dari lingkungan sekitar, sesumur. Untuk itu perlu identifikasi tokoh-tokoh yang ada disekitarnya agar bisa ditarik ke PPP untuk bisa membesarkan PPP.

Yang terakhir yakni akuntabilitas, yakni melaksanakan visi dengan baik dan benar untuk kepentingan rakyat dan pemilihnya. Bicara syiar dakwah, kita tidak saja dengan harta dan jiwa namun juga tenaga dan fikiran, wal amwal wal anfus.


Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Opini

Santri K.H.Maemoen Zubair Boikot PPP?

Oleh Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
pada hari Selasa, 26 Jan 2021
Dalam setiap partai, selain platform dan narasi, dibutuhkan juga icon. Tokoh kharismatik yang punya pengaruh dan mampu mengkonsolidasikan massa. Terutama partai yang mengandalkan ketokohan atau ...
Opini

Ada Madam di Kasus Korupsi Bansos

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --SETELAH anak Pak Lurah sekarang muncul tokoh baru yang disebut "Madam" dalam rentetan korupsi bantuan sosial yang mengalir sampai jauh. Dua tokoh itu ...