Oleh Rihad pada hari Selasa, 24 Nov 2020 - 20:47:23 WIB
Bagikan Berita ini :

Bisakah Industri Penerbangan Bangkit Lagi?

tscom_news_photo_1606225643.png
Pesawat terbang Garuda Indonesia (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Pandemi Virus Covid-19 meluluhlantakkan industri penerbangan baik di tingkat internasional maupun dalam negeri.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO, menyatakan terjadi pengurangan kursi penumpang hingga 35% oleh berbagai maskapai penerbangan.

Dengan kata lain terjadi hilangnya lebih dari 800 juta penumpang dari lalu lintas penumpang internasional. Potensi kerugian diperkirakan lebih dari USD 150 miliar.

Semwntara BPS menyatakan pertumbuhan sektor penerbangan pada triwulan I-2020 (y-o-y) mengalami kontraksi hingga sebesar 13,3%. Wisatawan asing pada triwulan I-2020 berkurang sebesar

31% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, begitu juga dengan wisatawan domestik.

Akibat pandemi, masyarakat menghindari bepergian. Mereka juga mendapati banyak peraturan yang harus dipenuhi sebelum terbang seperti harus membawa hasil tes rapid yang tidak reaktif. Mereka juga tak berani banyak berkumpul dengan orang tak dikenal termasuk di atas pesawat, di ruang tertutup berjam-jam. Jadi wajar pesawat banyak yang kosong.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin memuaskan lalu lintas pesawat kauh menurun.

Mulai dari Februari ke Maret itu negatif 27,8% month to month. Maret ke April, negatif 83,8% month to month secara traffic. Kemudian April ke Mei juga kondisinya sama minus 85,5%.

Jumlah penumpang dan penerbangan paling rendah terjadi pada akhir April hingga awal Mei 2020 lalu. Pada 25 April 2020, tercatat total penumpang hanya mampu mencapai 1.060 orang dan 1 Mei 2020 hanya 1.484 orang. Bayangkan pada awal Maret 2020 lalu, sebelum adanya pandemi jumlah penumpang mencapai 242.621 orang.

Setelah kebijakan pembatasan pergerakan orang dicabut sejak 7 Juni 2020 lalu, aktivitas di bandara langsung tumbuh hingga 466,2% dibanding bulan sebelumnya.Jumlah penumpang meningkat. Jumlah l penumpang selama Agustus 2020 telah mencapai 1,90 juta orang atau melonjak 41% dibanding dengan pergerakan Juli 2020 yang hanya 1,34 juta pergerakan penumpang. Sementara itu, pergerakan pesawat naik 17% menjadi 22.540 penerbangan dan volume kargo stabil di angka 44,26 juta kilogram.

Operasional maskapai penerbangan masih sulit untuk kembali ke kondisi normal. Garuda Indonesia mencatat sudah mengoperasikan 166 penerbangan dari jadwal normal yaitu 400 penerbangan. Jumlah penumpang hanya boleh 50-70 persen dari kapasitas.

Maskapai ini rugi berat. Pada semester I, Garuda rugi hingga USD 712 juta atau setara Rp 10,34 triliun. Kalau dibandingkan periode yang sama tahun lalu,Garuda justru laba USD 24,11 juta atau setara Rp 349 miliar.

Pendapatan Garuda anjlok tajam menjadi hanya USD 917,28 juta setara Rp13,3 triliun. Padahal pada periode yang sama pada 2019, Garuda masih mampu memperoleh pendapatan USD 2,19 miliar atau setara Rp 31 triliun.

Hingga September 2020 Garuda Indonesia membukukan pendapatan USD 1,13 miliar. Di mana, pendapatan tersebut dikontribusikan oleh capaian pendapatan penerbangan berjadwal sebesar USD 917,28 juta. Sedangkan pendapatan dari sektor penerbangan tidak berjadwal adalah sebesar USD 46,92 juta.

Meski begitu, angka itu turun 67,83% dibanding periode yang sama tahun lalu yakni USD3,54 miliar. Pada laporan keuangan kuartal III-2020, perseroan mencatatkan kerugian sebesar USD 1,07 miliar atau setara Rp15,3 triliun (kurs Rp14.321 per dolar). Padahal, pada periode yang sama 2019, emiten mencatatkan laba sebesar USD 122,4 juta.

Sedangkan Lion Air Group sama saja nasibnya. Pertumbuhan penumpang rata-rata mencapai 2-5 persen hingga Juli 2020, terutama hanya untuk rute di kota-kota besar.

Corporate Communication Strategic Lion Air Group Danang M. Prihantoro mengatakan saat ini, rata-rata hanya mencapai 30 persen hingga 40 persen dibandingkan dengan posisi normal.

Bisakah Bangkit Lagi?

Adanya kelonggaran dalam berlibur, diharapkan akan meningkatkan jumlah penumpang pesawat.

Garuda berharap liburan panjang nasional di akhir 2020 menjadi momentum melakukan recovery atau pemulihan bisnis perseroan. Manajemen menargetkan kinerja keuangan tumbuh positif pada kuartal ke-IV 2020. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra, optimis kinerja Garuda di kuartal IV tahun ini akan membaik. Hal itu juga didorong oleh berbagai langkah pemulihan yang sudah dilakukan sebelumnya.

"Melihat capaian kinerja perusahaan hingga saat ini, kami yakin berbagai upaya pemulihan kinerja yang dilakukan sudah on the track. Kami optimistis kinerja perusahaan pada periode tiga bulan ke depan akan semakin menunjukan pertumbuhan positif, khususnya dengan adanya periode libur panjang akhir tahun," ujar Irfan dalam keterangan tertulis, Jakarta, Sabtu (7/11/2020).

President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan peningkatan lalu lintas penerbangan ini didorong membaiknya permintaan masyarakat terhadap penerbangan.

“Membaiknya permintaan masyarakat membuat frekuensi penerbangan di satu rute bertambah, lalu rute-rute yang sempat ditutup kini kembali aktif kembali. Hal ini tidak lepas dari kepercayaan masyarakat terhadap sektor penerbangan nasional di tengah pandemi ini,” kata Awaluddin.

Mulai Meningkat

BPS mencatat adanya 800 ribu penumpang yang melakukan perjalanan menggunakan pesawat, baik itu penerbangan domestik maupun internasional selama Juni 2020. Jumlah ini naik tajam bila dibandingkan Mei 2020 yang hanya 100 ribu penumpang. Untuk penerbangan domestik, jumlah penumpang mencapai 780 ribu penumpang naik 791,38 persen dari Mei 2020 yang hanya berkisar 90 ribu penumpang. Meski memang secara year on year (yoy) jumlahnya masih turun 88,97 persen dari Juni 2019 yang mencapai 7,03 juta penumpang.

Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Senin (3/8/2020) mengatakan penerbangan internasional juga mulai menunjukan kenaikan mencapai 20 ribu pada Juni 2020. Angka ini relatif membaik atau naik 54,70 persen dari Mei 2020 di kisaran 10 ribu penumpang. Kenaikan ini tercatat cukup signifikan menyusul pelonggaran PSBB yang diberlakukan pemerintah di berbagai wilayah. “Dampak relaksasi PSBB, jumlah wisman mulai berdatangan tapi posisi jauh dari normal," ucap Suhariyanto

tag: #garuda-indonesia  #covid-19  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Zoom

Industri Manufaktur Turun 75 Persen Akibat Pandemi, Apa Solusinya?

Oleh Yoga
pada hari Rabu, 20 Jan 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Dalam kondisi pandemi Covid – 19 yang dialami Indonesia saat ini ternyata juga menghantam ekonomi nasional termasuk sektor industri manufaktur, industri dan produk ...
Zoom

Mengapa Bisa Terjadi Banjir Bandang di Puncak?

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Banjir bandang menerjang Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Puncak pada Selasa (19/1). Daerah itu disebut kawasan Gunung Mas.  Camat Cisarua, Deni Humaedi, ...