Oleh Yoga pada hari Senin, 01 Mar 2021 - 11:30:34 WIB
Bagikan Berita ini :

Anggota DPR RI Mulyanto: Pemerintah Perlu Jelaskan Efektifitas GeNose ke Publik

tscom_news_photo_1614572113.JPG
Mulyanto (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Untuk mengantisipasi adanya keraguan publik atas efektifitas GeNose, Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto minta Menristek/BRIN, Bambang Brodjonegoro, aktif melakukan sosialisasi.

Menristek bersama tim peneliti GeNose dari Universitas Gajah Mada harus dapat menjelaskan kepada publik bahwa GeNose efektif dalam mendeteksi Covid-19 berdasarkan pemeriksaan hembusan nafas, sama seperti rapid test atau PCR.

Sebelumnya diberitakan bahwa Pemerintah Belanda menghentikan penggunaan SpiroNose untuk mendeteksi Covid-19. SpiroNose adalah alat deteksi Covid-19 berdasarkan hembusan nafas, sama seperti GeNose.

Pemerintah Belanda menilai penggunaan SpiroNose tidak efektif karena ditemukan beberapa kasus pemeriksaan yang tidak akurat. Atas beberapa kejadian itu Pemerintah Belanda menghentikan penggunaan SpiroNose dan mengganti dengan metode lain.

"Pihak GeNose perlu menginfokan ke publik tingkat akurasi genose dibandingkan dengan rapid test atau PCR. Tentu saja tingkat akurasi alat tersebut diakui oleh lembaga pengawas semisal BPOM. Tingkat akurasi tersebut tentu didasarkan uji dengan standar ilmiah yang baku transparan dan akuntabel," tandas Mulyanto di sela-sela Rakernas PKS secara virtual, Senin (1/3/21).

Mulyanto menambahkan sampai saat ini GeNose masih dapat digunakan, sambil terus dilakukan upaya pengembangan. Tim peneliti harus terus melakukan inovasi untuk meningkatkan efektifitas GeNose.

"Karena masyarakat membutuhkan alat deteksi Covid-19, yang akurat, cepat, aman, dan sudah barang tentu murah. Genose memenuhi hampir semua hal yang diinginkan masyarakat tersebut dibanding alat uji cepat lainnya," ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, anggota tim peneliti GeNose Universitas Gajah Mada, Dian Kesumapramudya, menjelaskan bahwa GeNose relatif lebih efektif mendeteksi Covid-19 dibandingkan SpiroNose. Meskipun sama-sama menggunakan hembusan nafas untuk mendeteksi Covid-19 tapi desain dan teknologi yang digunakan berbeda.

"Saat melihat dan membaca desain SpiroNose Belanda di laman daring resminya, kami telah memperkirakan bahwa akan terjadi masalah akurasi. Kekurangan desain itu telah kami mitigasi sejak awal kami mendesain sistem untuk GeNose," ujar Dian.

tag: #dpr  #covid-19  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Banner Ramadhan Ir. Ali Wongso Sinaga
advertisement
Banner Ramadhan H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Dompet Dhuafa: Sedekah Yatim
advertisement
Banner Ramadhan Mohamad Hekal, MBA
advertisement
Banner Ramadhan Sartono Hutomo, SE, MM
advertisement
Dompet Dhuafa: Parsel Ramadan
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
Domper Dhuafa: Sedekah Quran
advertisement
Lainnya
Berita

Usulkan Hapus Hak Tagih ke UMK, Darmadi: Bisa Jadi Bukti Bahwa Negara Jadi Perisai Rakyatnya

Oleh Bachtiar
pada hari Sabtu, 17 Apr 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Para pelaku usaha Ultra Mikro Kecil (UMK) kerap kali kesulitan menyelesaikan tunggakan saat melakukan pinjaman ke pihak bank, baik bank swasta maupun pelat merah. Imbasnya, ...
Berita

Tak Sesuai Dengan Beberapa UU, TB Hasanuddin Desak Pemerintah Cabut PP 57/2021 Tentang SNP

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin mengecam terbitnya Pemerintah (PP) No 57 Tahun 2021 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Dalam PP ini ...