Oleh Bachtiar pada hari Senin, 12 Apr 2021 - 11:32:10 WIB
Bagikan Berita ini :

Kemenristek dan Kemendikbud Dilebur, Pengamat Ini Sarankan Jokowi Ganti Mendikbud Nadiem Makarim

tscom_news_photo_1618201930.jpg
Nadiem Makarim Mendikbud RI (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, M Jamiludin Ritonga mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) diperkirakan segera melakukan reshuffle kabinet setelah DPR RI menyetujui pengabungan Kemenristek dengan Kemendikbud dan pembentukan Kementerian Investasi pada Rapat Paripurna, Jumat, (09/04/2021).

"Momentum tersebut sebaiknya digunakan Jokowi untuk mengganti Nadiem Makarim. Sebab, selama memimpin Kemendikbud, belum ada gebrakan yang membanggakan. Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) juga menginginkan Nadiem di reshuffle," tandas Jamiludin, Senin (12/04/2021).

Menurutnya, dengan bergabungnya Kemenristek ke Kemendikbud, Nadiem dikhawatirkan semakin tak mampu memimpin kementerian tersebut.

"Padahal melalui penggabungan itu diharapkan riset akan semakin berkembang di Indonesia, khususnya di perguruan tinggi. Kapasitas Nadiem tampaknya tak cukup mumpuni menangani hal itu," katanya.

Karena itu, saran dia, Jokowi sebaiknya mencari sosok yang tepat agar penggabungan dua kementerian itu membuahkan hasil.

"Bambang Brodjonegoro tampaknya layak dipertimbangkan untuk mengisi pos tersebut."

Selain itu, menurutnya, Jokowi juga layak mengevalusia menteri lainnya yang selama ini kinerjanya dipersepsi publik rendah. Para menteri ini selayaknya ikut di reshuffle.

"Menteri Komuniksi dan Informatika, Johny G. Plate, salah satu yang layak di reshuffle. Menteri satu ini praktis hanya memimpin informatika, sementara komunikasinya diabaikan begitu saja. Padahal di era pandemi dan resesi ini, seharusnya Kemenkominfo aktif mengkomunikasikan hal itu agar masyarakat mempunyai pemahaman yang utuh. Namun hal itu tidak dilakukan Kemenkominfo," tandasnya.

Sebaiknya, kata dia, menkominfo yang baru sosok yang memiliki keahlian komunikasi. Tujuannya agar dapat merancang sistem komunikasi yang sesuai dengan era otonomi daerah.

"Sistem itu hingga saat ini belum ada, sehingga menyulitkan mengalirkan informasi dari pusat ke daerah dan sebaliknya dalam komunikasi dua arah. Untuk ini, tentu diperlukan sosok berlatar belakang komunikasi," ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko, juga layak di reshuffle. Moeldoko dinilai sudah tidak layak menduduki posisi tersebut setelah cawe-cawe urusan internal Partai Demokrat. Hal ini secara langsung telah mengotori lembaga KSP yang seharusnya netral.

"Keberadaan Moeldoko di KSP juga akan membebani Jokowi. Publik akan mempersepsi istana melindungi Moeldoko bila ia tetap bercokol di KSP," tegasnya.

Menurutnya, dengan di reshufflenya Moeldoko, lembaga kepresidenan akan terbebas dari tudingan negatif. Publik akan yakin Jokowi tidak melindungi Moeldoko.

"Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, juga paling banyak disorot publik. Hasil survei IPO, menteri satu ini justeru yang paling dominan diminta responden untuk di reshuffle," pungkasnya.

tag: #reshuffle-kabinet  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
56 Tahun Telkom Indonesia
advertisement
Dompet Dhuafa x Teropong Senayan : Qurban
advertisement
TS.com Vacancy: Marketing
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement