Oleh Rihad pada hari Kamis, 15 Apr 2021 - 19:37:05 WIB
Bagikan Berita ini :

Apakah Vaksin Nusantara Memang Buatan Indonesia? Inilah Jawabannya

tscom_news_photo_1618490225.jpg
Ilustrasi vaksin (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah politikus seperti Aburizal Bakrie dan Gatot Nurmantyo memamerkan telah menjalani pengambilan darah untuk vaksin Nusantara.

Sejumlah anggota DPR yang membidangi kesehatan juga ikut andil dalam pengambilan darah tersebut. Ketua Komisi IX DPR, Felly Estelita Runtuwene yang ikut mendukung langkah vaksin Nusantara ini menilai saat ini terjadi krisis vaksin dunia, sehingga dibutuhkan vaksin buatan dalam negeri. Tapi benarkah vaksin itu buatan Indonesia?

Jubir Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan bahwa vaksin Nusantara dikembangkan di Amerika Serikat. Pelopornya AIVITA Biotech. "Vaksin Nusantara adalah jenis vaksin yang dikembangkan di Amerika, dan diujicobakan di Indonesia. Pada prinsipnya semua vaksin yang akan diberikan kepada masyarakat harus mendapatkan izin dari Badan POM," kata Wiku dalam jumpa pers virtual, Kamis (15/4).

"Terutama dalam aspek keamanan, efikasi dan kelayakan. Selama memenuhi kriteria pemerintah akan memberikan dukungan," jelas dia.

Wiku mengharapkan tim pengembang vaksin Nusantara dapat berkoordinasi dengan baik dengan BPOM. "Agar isu yang ada terkait vaksin ini dapat segera terselesaikan," katanya.

Pendapat Ahli Molekuler

Ahli biologi molekuler Ahmad Utomo di akun twitternya yang dikutip pada Kamis (15/4) menyatakan vaksin Nusantara dibuat di Amerika. "Bukan inovasi anak bangsa. Inovasinya berasal dari Amerika oleh peneliti Amerika dari perusahaan biotek komersial di Amerika. Tim Dr Terawan tidak menceritakan keutuhan teknologi ini dan cenderung menamainya ‘nusantara’ yang sebenarnya tidak akurat," ungkap.

Dengan kondisi seperti itu, Ahmad menyarankan pemerintah fokus pada vaksin yang benar-benar karya anak bangsa, yaitu vaksin Merah Putih.

"Dana republik terbatas, dan kita sedang mengembangkan inovasi vaksin Merah Putih, artinya ilmuwan nasional tentu mendukung sesama ilmuwan yang berdasarkan kepada teknologi dan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Maka prioritaskan pendanaan vaksin Merah Putih," ujar Ahmad.

Ahmad juga menilai peneliti vaksin Nusantara tidak transparan akan data penelitiannya. Hal itu, menurut Ahmad, terbukti dari sulitnya akses untuk melihat hasil uji klinis fase 1 dari vaksin tersebut.

Pakar UI: Vaksin karya Avita

Ahli wabah dari UI, Pandu Riono, jauh-jauh hari juga menegaskan bahwa vaksin Nusantara bukan karya anak bangsa. Hal ini terungkap dari cuitannya di akun Twitter.

"Sebagian besar ilmuwan Indonesia tahu bahwa Vaksin Nusantara bukan "karya anak bangsa", tapi karya Aivita, lalu dipolitisir," tulisnya pada 10 Maret 2021.

Sebelumnya, Komite Nasional Penilai Obat membeberkan fakta bahwa antigen yang digunakan dalam vaksin Nusantara bukan berasal dari Indonesia, melainkan virus dari AS.

"Kami tidak menghalangi vaksin Nusantara sama sekali karena memang terus terang ada beberapa hal teknis yang belum dipenuhi peneliti vaksin Nusantara. Terutama yang berhubungan dengan Good Manufacturing (GMP) dan Good Laboratory Practice (GLP), juga ada beberapa persoalan di Good Clinical Practice (GCP)," kata anggota Komite Nasional Penilai Obat dr Anwar Santoso

Penegasan BPOM

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat 71,4% relawan uji klinis tahap I vaksin Nusantara mengalami apa yang disebut "Kejadian Tak Diinginkan" (KTD), berupa nyeri otot hingga gatal-gatal.

Laporan ini dikeluarkan di tengah langkah sejumlah politikus menjalani pengambilan darah untuk uji vaksin Nusantara, yang mereka anggap sebagai langkah nasionalisme.

Di sisi lain, sejumlah ahli menyatakan metode vaksin Nusantara lebih cocok digunakan untuk pengobatan kanker dibandingkan digunakan secara massal melawan virus Covid-19, bahkan tak layak disebut sebagai vaksin.

BPOM melaporkan 71,4% relawan uji vaksin "Covid-19" Nusantara mengalami apa yang disebut Kejadian yang Tak Diinginkan (KTD).

"Sebanyak 20 dari 28 subjek (71.4%) mengalami Kejadian yang Tidak Diinginkan, meskipun dalam grade 1 dan 2," tulis laporan dari BPOM, Rabu (14/04).

KTD yang dimaksud adalah nyeri lokal, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri kepala, penebalan, kemerahan, gatal, petechiae, lemas, mual, demam, batuk, pilek dan gatal.

Bukan hanya itu, pada grade 3, terdapat enam relawan yang mengalami KTD. Satu relawan mengalami hipernatremia atau konsentrasi natrium yang tinggi dalam darah dengan gejala seperti orang kekurangan air minum.

tag: #vaksin  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
TS.com Vacancy: Marketing
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: I Nyoman Parta
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Adies Kadir
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Ali Wongso Sinaga
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
Domper Dhuafa: Sedekah Quran
advertisement
Lainnya
Zoom

Pimpinan KPK Harus Merehabilitasi Nama 75 Orang Pegawai yang Tak Lulus Tes

Oleh Rihad
pada hari Tuesday, 18 Mei 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Presiden Joko Widodo berpendapat Tes Wawasan Kebangsaan tidak serta merta menjadi dasar pemberhentian 75 pegawai KPK. Jokowi pun sependapat dengan putusan MK bahwa alih ...
Zoom

Mereka Yang Lawan Hasil Tes Wawasan Kebangsaan KPK

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Tes Wawasan Kebangsaan yang dilaksanakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuai polemik karena bahannya yang sama sekali tidak berhubungan dengan pemberantasan korupsi. ...