Oleh Rihad pada hari Minggu, 25 Apr 2021 - 10:59:05 WIB
Bagikan Berita ini :

Kemungkinan Selamatkan Awak Nanggala 402 Masih Ada

tscom_news_photo_1619323145.jpg
Ilustrasi kapal Nanggala (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Setelah kapal selam Nanggala 402 tenggelam melewati 72 jam, apakah ada kemungkinan awak selamat?

Semua masyarakat Indonesia tentu berharap keajaiban akan terjadi, dan peluang awak masih hidup masih ada. Secara teknis, jika kapal mengalami blackout (mati listrik), ketersediaan oksigen hanya 72 jam. Dan kondisi itu sudah terlewati. Tapi kita bisa berharap listrik tidak mati dan dalam kondisi itu, oksigen masih bertahan hingga 5 hari. Kapal selam KRI Nanggala-402 telah hilang kontak pada Rabu (21/4/2021) di perairan utara Bali. Masih ada waktu setidaknya sampai Senin (26/4/2021).

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono menyatakan meski telah dinyatakan tenggelam, tetapi TNI belum bisa memastikan bagaimana kondisi terkini 53 awak KRI Nanggala-402.

"Kita tidak bisa melihat sampai bagaimana korban dari tadi yang disampaikan dengan hanya ini (bukti otentik) karena belum ketemu untuk salah satu korban, jadi kita tidak bisa menduga-duga seberapa kondisi korban dan sebagainya," tutur Yudo.

Mengenai persediaan oksigen di dalam kapal selam, KSAL mengatakan ada dua kemungkinan.

Yang pertama, kapal selam mengalami blackout (listrik mati total). Apabila keadaan ini terjadi, oksigen hanya mampu bertahan selama 72 jam. Kondisi ini telah dilewati pada Sabtu pukul 03.00 waktu setempat usai hilang kontak.

Yang kedua, jika kelistrikan tidak mengalami gangguan, suplai oksigen tersedia hingga 5 hari. "Ketika masih ada kelistrikan ini bisa sampai lima hari, dan kita tak bisa menentukan apakah kemarin blackout atau tidak," ujar Yudo.

Dia menduga, KRI Nanggala-402 tidak mengalami blackout. Berdasar visual terakhir dari tim penjejak Komando Pasukan Katak (Kopaska), lampu kapal selam terlihat menyala sewaktu masuk ke dalam air.

Awak kapal penjejak yang berjarak 50 meter juga mendengar isyarat perang tempur dan perang menyelam. “Dari itu saya menduga kapal tak blackout," ucapnya.

Retak

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono juga menyampaikan keretakan pada bagian KRI Nanggala-402 memungkinkan air masuk ke tubuh kapal. Hal itu terlihat dari beberapa benda yang ada di dalam kapal terlihat mengapung dan ditemukan petugas.

Namun, dia menyebut ada bagian kapal yang tidak bisa dimasuki air.

"Kemungkinan-kemungkinan air masuk ada. Tapi ada kemungkinan juga bagian kabin-kabin yang air yang tidak masuk. Karena di dalam kapal sana ada sekat-sekatnya, apalagi itu ditutup air bisa tidak masuk. Itu juga ada kemungkinan-kemungkinan seperti itu," kata Laksamana Yudo saat konferensi pers di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Bali, Sabtu (24/4).

Dia menerangkan kapal tersebut berisi ruangan-ruangan yang dibagi seperti kompartemen. Apabila ada keretakannya, ABK bisa menutupnya sehingga tidak bisa kemasukan air.

"Jadi dalam ruangan-ruangan itu juga dibagi kompartemen. Apabila, keretakannya di depan dan anggota sempat menutup ada kemungkinan tidak kemasukan air di situ," ujarnya.

"Ada kompartemen-kompartemen yang bisa ditutup dengan yang pintu kedap dan diputar itu," ujar Laksamana Yudo.

Pengamat militer Susaningtyas NH Kertopati atau yang akrab disapa Nuning menyatakan ini adalah kecelakaan kapal selam pertama di Indonesia. Dikatakan, seiring berjalannya waktu, peluang untuk bertahan tentu semakin berkurang.

Dikatakan, tidak banyak angkatan laut yang memiliki kapal untuk operasi salvage atau combat SAR. Oleh karena itu, bantuan bantuan dari negara-negara sahabat sangat dibutuhkan secepatnya selain bantuan dari alutsista yang dimiliki Indonesia.

“Kita ketahui Singapura mengerahkan sebuah kapal untuk menyelamatkan KRI Nanggala-402 bernama MV Swift Rescue. Kapal itu memiliki teknologi untuk mengevakuasi kru dari kapal selam milik TNI Angkatan Laut (AL) yang tenggelam itu,” ujar Nuning.

Menurut dia, kapal MV Swift Rescue yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Singapura memiliki bagian terpenting dalam upaya penyelamatan, yakni kapal penyelamat submersible Deep Search and Rescue Six (DSAR 6).

Dalam operasinya, DSAR 6 yang diluncurkan dari kapal induk MV Swift Rescue mampu menyelam hingga ratusan meter. DSAR 6 berbentuk seperti kapsul dan dapat terhubung dengan kapal selam yang rusak atau tenggelam.

Semoga usaha penyelamatan awak bisa terlaksana dengan baik.

tag: #kecelakaan-kapal  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
TS.com Vacancy: Marketing
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: I Nyoman Parta
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Adies Kadir
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Ali Wongso Sinaga
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
Domper Dhuafa: Sedekah Quran
advertisement
Lainnya
Zoom

Pimpinan KPK Harus Merehabilitasi Nama 75 Orang Pegawai yang Tak Lulus Tes

Oleh Rihad
pada hari Tuesday, 18 Mei 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Presiden Joko Widodo berpendapat Tes Wawasan Kebangsaan tidak serta merta menjadi dasar pemberhentian 75 pegawai KPK. Jokowi pun sependapat dengan putusan MK bahwa alih ...
Zoom

Mereka Yang Lawan Hasil Tes Wawasan Kebangsaan KPK

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Tes Wawasan Kebangsaan yang dilaksanakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuai polemik karena bahannya yang sama sekali tidak berhubungan dengan pemberantasan korupsi. ...