Oleh Tony Rosyid Pengamat Politik pada hari Minggu, 23 Mei 2021 - 10:31:50 WIB
Bagikan Berita ini :

Dihajar Isu, Anies Justru Makin Populer

tscom_news_photo_1621740710.jpg
Tony Rasyid (Sumber foto : Ist)

Anies populer karena pertama, Anies adalah Gubernur DKI. Siapapun yang jadi gubernur DKI pasti populer. Media selalu memburunya. Tidak saja kerja, bersepeda saja masuk berita. Itulah enaknya jadi gubernur di Ibu Kota.

Kedua, Anies punya sejumlah prestasi yang layak diberitakan. Sejumlah terobosan dilakukan, seperti membangun Jakarta International Stadion (JIS), transportasi terintegrasi (Jak Lingko), jalur sepeda, trotoar untuk kenyamanan para pejalan kaki, museum Rasulullah. Jakarta juga meraih sejumlah penghargaan, baik nasional maupun dari lembaga internasional.

Kehadiran Anies sebagai pembicara penting di forum-forum internasional juga ikut menaikkan popularitasnya. "Beruntung Indonesia punya tokoh seperti Anies", kata publik.

Ketiga, banyak isu yang menerpa Anies. Terakhir, isu rumah mewah. Ada tuduhan Anies mendapatkan hadiah berupa rumah mewah di Kebayoran Baru sebagai kompensasi reklamasi.

Isu ini akan menguntungkan bagi Anies ketika tidak ada bukti atas tuduhan itu. Selama ini, begitulah yang sering terjadi. Anies diisukan macam-macam, tapi tanpa pernah ada bukti. Ini blessing buat Anies.

Semakin disudutkan dengan berbagai tuduhan yang tidak terbukti, maka Anies akan semakin banjir empati. Publik akan bilang: "ngebet amat mau jatuhin Anies".

Ada pihak-pihak yang tidak ingin Anies nyapres di 2024. Hal biasa dalam urusan kompetisi dan politik. Hanya saja, tidak cerdas kalau ingin menjatuhkan Anies dengan tuduhan tanpa bukti. Bukannya jatuh, tapi Anies malah makin populer

Jika Anies mendapatkan hadiah rumah mewah sebagai kompensasi kebijakan, sebaiknya dilaporkan saja dengan tuduhan gratifikasi. Beres! Jika ini terbukti, dengan sendirinya Anies akan habis.

Tapi, kalau justru mengumbar isu dan tuduhan itu di medsos, bikin meme dan gambar-gambar, pada kenyataannya tidak ada laporan dan juga tidak ada bukti, maka publik justru akan berbalik membela dan bersimpati kepada Anies.

Kenapa ramaikan tuduhan di medsos, biasanya karena gak ada bukti. Ini namanya bermain framming. Balck campaign. Agamawan bilang: ini fitnah. Secara politik, tentu ini tidak etis. Gak jentel. Banci.

Setelah ditelusuri, ternyata itu rumah ada di Cipayung Jakarta Timur. Bukan di Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Gambar rumah dicomot dari agen properti.

Bagaimana tanggapan Anies? "kurang kerjaan aja nanggepin isu murahan seperti itu", kira-kira begitu bunyi suara di hati Anies.

Isu dan tuduhan tanpa bukti tidak akan pernah efektif. Masyarakat pada akhirnya akan tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Dan selama ini, tuduhan kepada Anies tidak pernah terbukti. Inilah salah satu faktor yang membuat nama Anies semakin populer dan elektabilitasnya semakin naik. Begitulah hukum politik.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #anies-baswedan  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
TS.com Vacancy: Marketing
advertisement
Lainnya
Opini

Mengapa Jokowi Pegang Ganjar

Oleh M Rizal Fadillah
pada hari Senin, 14 Jun 2021
Untuk Pilpres 2024 nanti figur yang telah muncul antara lain nama pasangan Anies-AHY, Anies-Airlangga, Prabowo-Puan, Rizal Ramli-Gatot Nurmantyo. Jokowi nampaknya akan mati tanpa ada penerus ...
Opini

Rutin Dijadikan Project APBN, Kebutuhan Hidup Dasar Dijadikan Objek Pajak

Saya mendengarkan kritik-kritik atas pemborosan APBN dari Anggota DPR kepada petinggi negara dalam kesempatan Raker maupun Rapat Dengar Pendapat (RDP). Antara lain dari Ibu Andi Yuliani Paris ...