Oleh Rihad pada hari Sabtu, 05 Jun 2021 - 06:55:46 WIB
Bagikan Berita ini :

Vaksinasi di Indonesia Dinilai Kurang Cepat, Contohlah Inggris dan AS

tscom_news_photo_1622850946.jpg
Ilustrasi vaksinasi (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Sampai saat ini, Indonesia telah memiliki lebih dari 80 juta dosis vaksin yang terdiri dari Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm. Tapi total vaksinasi yang telah dilakukan masih belum mencapai target yang ditentukan.

Indonesia dinilai perlu melihat Amerika Serikat (AS) dan Inggris sebagai contoh negara yang dengan cepat mendistribusikan vaksin sehingga dapat mengurangi angka penularan.

"Di Indonesia sudah ada sekitar 90 jutaan stok vaksin ya jadi mohon itu segera dimanfaatkan, lebih cepat vaksinasi mungkin sekali kita bisa menangkal," kata Ketua Satgas IDI Prof. Zubairi Djoerban, Jumat (4/6).

Zubairi mengatakan, kasus di AS dan Inggris cenderung menurun, terutama setelah vaksinasi secara massal. Hal ini dinilai sebagai bukti vaksinasi ampuh menurunkan angka penularan. "Karena buktinya di Inggris dan di Amerika vaksinasi bisa banget menangkal varian-varian baru ini. Sedangkan kita kan baru sekitar 20 persenan yang divaksinasi atau 21 persen dari target," jelas dia.

Zubairi menjelaskan, Indonesia saat ini perlu belajar dari kedua negara tersebut dalam upaya menyebarluaskan vaksin kepada seluruh warga negaranya.

"Sekarang turun dari 304 ribu (kasus) menjadi kemarin 31 Mei itu 5.235 kasus. Jadi sekarang di Amerika jelas sekali penurunannya demikian juga di Inggris sekarang sudah kurang dari 4 ribu," tambahnya.

"Jadi artinya menurut saya yang paling utama adalah segera vaksinasi itu disegerakan dan dipercepat selain upaya yang sudah disebutkan mengenai masker, dan cuci tangan," ujarnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana mengubah sasaran vaksinasi Covid-19 sesuai dengan urutan umur berdasarkan kerentanan terhadap paparan virus corona.

"Nanti mungkin kalau vaksin ternyata stoknya tidak mencukupi, kita akan [vaksinasi] untuk seluruh masyarakat kita berdasarkan umur," kata Nadia dalam acara daring yang diselenggarakan Lapor Covid-19m Jumat (4/6).

Nadia mengatakan rencana perubahan sasaran ini dibahas lantaran banyak kritik dari masyarakat, termasuk terkait capaian vaksinasi ke warga lanjut usia (lansia).

Program vaksinasi tahapan dua yang berjalan paralel antara petugas pelayanan publik dan lansia masih tak seimbang.

Data Kemenkes per 3 Juni mencatat capaian dua dosis lengkap vaksinasi pada lansia baru mencapai 10,5 persen, sementara pada petugas pelayanan publik telah mencapai 42,42 persen.

"Kalau kemudian justru nanti tenaga kesehatan atau lansia malah tidak mendapat fasilitasi, ini tentunya tidak sesuai dengan jumlah stok vaksin yang sangat terbatas," ujarnya.

tag: #vaksin  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
56 Tahun Telkom Indonesia
advertisement
Dompet Dhuafa x Teropong Senayan : Qurban
advertisement
TS.com Vacancy: Marketing
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement