Oleh Mukhtar Tompo, Anggota Komisi VII DPR RI 2014–2019 pada hari Jumat, 24 Mar 2023 - 23:02:03 WIB
Bagikan Berita ini :

Mimpi Blok Karaeng dan Harapan Legislator Senayan Turatea

tscom_news_photo_1679675516.jpg
Mukhtar Tompo (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Dahulu kala, ketika Nusantara masih dikuasai oleh penjajah Belanda, Turatea ialah sebentang wilayah di Semenanjung Selatan Sulawesi di bagian selatan. Tiga kerajaan berdiri sana, yakni Binamu, Bangkala, dan Laikang. Dari sanalah Belanda mengeruk komoditas untuk dikirim ke Eropa.

Turatea, sekarang kita kenal dengan nama Jeneponto, tidaklah sekering tanahnya. Kekayaan alamnya sangat spesifik. Berdasarkan Mededeelingen van het Bureau voor de Bestuurzaken der Buitenbezittingen, bewerkt door het Encyclopaedisch Bureau: de Buitenbezittingen 1904 tot 1914, Belanda menjadikan kawasan Turatea sebagai daerah monopoli garam dan kapas.

Sebagaimana tercantum di hlm. 144–148, industri garam kurang berkembang di Jawa pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811–1816). Itulah mengapa sehingga Dewan Hindia Belanda beralih ke Semenanjung Sulawesi, tepatnya di kawasan Allu. Pada 1813, kira-kira 330.000 kg garam dikirim dari Allu ke luar daerah, bahkan hingga ke Singapura.

Jika produksi garam sedang bagus, kawasan tambak garam di Allu dapat menghasilkan 70.000–80.000 pikul. Pada masa itu, hitungan berat memang marak menggunakan pikul. Berat 1 pikul setara dengan 62,5 kg. Tidak heran jikalau garam dari Turatea diekspor hingga ke Eropa.

Sementara itu di hlm. 219–222, Belanda sangat mengandalkan Turatea dalam memenuhi kebutuhan kapas. Negara yang dikenal sebagai penghasil benang di Eropa itu sangat membutuhkan suplai kapas dari tanah jajahan. Twente tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan kapas di Belanda. Maka Belanda memilih Bira, Jeneponto, dan Selayar sebagai sentra produksi kapas. Jeneponto menjadi daerah dengan hasil produksi terbanyak di antara tiga daerah tersebut.

Sejarah mencatat juga ekspor kemiri dan kopra dari Turatea ke Belanda. Kabarnya dapat dilihat pada koran-koran Belanda, seperti di Nederlandsche Staatscourant, Bataviaasch Handelsblad, atau Rotterdamsche Courant. Pada kisaran 1800–1935, koran-koran mengabarkan komoditas apa saja yang diangkut dari Nusantara, termasuk daerah-daerah di Semenanjung Sulawesi, menuju negeri Belanda.

Romantisisme Blok Karaeng dan Harga Diri Turatea

Kisah tentang monopoli garam dan kapas, serta ekspor kemiri dan kopra, pada zaman Belanda itu menunjukkan bahwa Turatea bukanlah daerah yang miskin. Sejarah membuktikan alangkah kaya kawasan Turatea, kendatipun sebagian besar alamnya terbentang panjang dalam belitan kekeringan.

Garam masih tangguh bertahan hingga kini, sungguhpun gudang penampung garam kini bernasib bagai “hidup segan mati tak mau”. Ini bukan sekadar romantisisme atau mengenang kejayaan daerah pada ratusan tahun lalu. Bukan pula nostalgia bahwa Turatea pernah menjadi kawasan yang kekayaan alamnya dikeruk penjajah lalu dibawa ke negeri nun jauh di “benua biru”.

Ini adalah pemantik sirik atau pemantik harga diri. Dengan kekayaan alam yang ada, alangkah mengenaskan bilamana Jeneponto selalu tertinggal jauh dibanding daerah lain di Sulawesi Selatan. Atas dasar sirik lantaran Jeneponto pernah masuk dalam kategori Daerah Tertinggal, penulis lantas mengorek-ngorek keberadaan Blok Karaeng.

Pada mulanya, Mei 2016, ketika penulis masih berkhidmat sebagai anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Hanura, penulis menuturkan pandangan fraksi terkait kekayaan daerah. Saat itulah untuk pertama kalinya nama Jeneponto lantang terdengar di Senayan, terdengar di tempat terhormat oleh banyak pihak.

Blok Karaeng, hulu minyak dan gas potensial dipastikan ada dan dapat diproduksi. Lokasinya di wilayah Kabupaten Jeneponto. Semula banyak pihak mengusulkan agar dinamai Blok Sulsel, tetapi penulis selaku putra Turatea terang-terangan memilih nama “Blok Karaeng” supaya identik dengan daerah Turatea.

Sejak itulah Blok Karaeng kerap dibahas secara masif dan intensif pada tingkat nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Rabu (9/5/2018), ketika berkunjung ke Jeneponto memastikan bahwa gelegar Mukhtar Tompo memperjuangkan Blok Karaeng tidak akan sia-sia, sebab telah masuk dalam daftar lima Blok Migas yang dilelang oleh negara.

Salah satu potensi migas nasional yang belum pernah tersentuh itu akhirnya mencuat ke permukaan. Menteri ESDM bahkan sudah meminta perusahaan Energy Equity Epic agar turut menggarap Blok Karaeng. Permintaan itu, menurut Jonan, sudah diterima dan mereka menyanggupi untuk melakukan eksplorasi di Blok Karaeng.

Tindak lanjutnya, Selasa (16/11/2018), Wakil Menteri ESDM Archandra Thahar bertandang ke Jeneponto untuk mengecek kawasan Blok Karaeng. Sebanyak 1 miliar barel minyak ditaksir tersimpan di bilangan Tamalatea, Binamu, dan Bangkala.

Hal ini sejalan pula dengan komitmen Plt Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman. Pada peringatan Hari Jadi Jeneponto, Ahad (1/5/2022), beliau berjanji akan menjadikan Blok Karaeng, sumber daya migas di Jeneponto, sebagai prioritas pembangunan nasional.

Namun, kekayaan alam yang tersembunyi di balik tanah gersang Turatea itu akhirnya bagai ditelan sunyi. Geliatnya senyap. Lelang tidak berbunyi. Tiada lagi “wakil rakyat” asal Kabupaten Jeneponto yang “bernyanyi” tentang Blok Karaeng di tingkat pusat. Pada akhirnya, sesuatu yang sudah hampir tersaji di depan mata kembali menjadi mimpi. Tahun lalu, anggota Komisi VII DPR RI Ridwan Hisjam dari fraksi Golkar mengingatkan potensi besar ini agar bisa dilanjutkan perjuangannya, hal itu disampaikan ketika menerima kunjungan kerja DPRD Propinsi Sulsel ke komisi VII DPR.

Wakil Rakyat dari Turatea

Tidak dapat dimungkiri, dalam hal memilih wakil rakyat dari daerah sendiri maka warga Kabupaten Jeneponto sesungguhnya gagal menyatukan suara. Ada delapan kursi yang tersedia di Dapil 1 Sulawesi Selatan, tetapi tidak seorang pun legislator terpilih yang berasal dari Jeneponto. Ada delapan partai politik yang meloloskan wakilnya ke Senayan, tetapi tidak seorang pun yang berasal dari Jeneponto.

Ini tidak ada hubungannya dengan mental primordialitas atau semangat kedaerahan. Ini soal darah lebih kental daripada air, soal keterpilihan rakyat Turatea di DPR RI. Pada Pemilu 2019, wajib pilih dari Jeneponto mencapai 270.172 orang. Sebanyak 130.453 laki-laki dan 139.719 perempuan.

Di atas kertas, dengan wajib pilih sebanyak itu, setidaknya dua hingga tiga kursi bisa diraih andaikan warga Turatea kompak memilih orang Turatea untuk mewakili mereka di Senayan. Faktanya, tidak berhasil. Akbulo sibatang tinggal semboyan. Akcerak sitongka-tongka tinggal moto. Maknanya lambat laun terkikis dari sanubari orang-orang Jeneponto. Akibatnya, keterwakilan mereka di tingkat pusat menjadi seperti “antara ada dan tiada”.

Sekiranya orang-orang Turatea bersatu, akbulo sibatang, sangat enteng memilih sedikit di antara banyak calon legislatif yang tersedia. Tidak usah banyak, sedikit saja. Ibarat kata leluhur Turatea: boyai ri kalukua, ri kalongkong takgeknoa, niyakmi antu, sikakdeka namallakbang. Atau: carilah di batok kelapa, di tempurung tanpa bunyi, di sanalah itu yang sedikit tetapi mencukupi.

Wakil rakyat dari Turatea jelas bukanlah pengotakan atau penyekatan. Itu soal keterwakilan. Andaikan ada satu orang saja, yang sedikit tetapi mencukupi, barangkali mimpi Blok Karaeng segera menjadi kenyataan, riset LIPI tentang varian olahan buah dan air sadapan lontar bisa menjadi kenyataan, potensi etanol dari lontar bukan sekadar mimpi, dan Turatea segera berbagi kemakmuran pada kabupaten tetangga. Inilah impian saya dan pasti menjadi harapan masyarakat.

Jakarta, 24 Maret 2023
Mukhtar Tompo

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
IDUL FITRI 2024
advertisement
IDUL FITRI 2024 MOHAMAD HEKAL
advertisement
IDUL FITRI 2024 ABDUL WACHID
advertisement
IDUL FITRI 2024 AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI 2024 ADIES KADIR
advertisement
Lainnya
Opini

Wawasan Yusril Sempit Untuk Bisa Membedakan Ahli Ekonomi, Ahli Hukum, atau Ahli Nujum

Oleh Anthony Budiawan - Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)
pada hari Sabtu, 13 Apr 2024
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --1 April 2024 (bukan April Mop), saya hadir di Mahkamah Konstitusi dalam kapasitas sebagai Ahli Ekonomi, terkait sengketa Perselihan Hasil Pemilihan Umum 2024. Saya ...
Opini

Wawasan Yusril Sempit Untuk Bisa Membedakan Ahli Ekonomi, Ahli Hukum, atau Ahli Nujum

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --1 April 2024 (bukan April Mop), saya hadir di Mahkamah Konstitusi dalam kapasitas sebagai Ahli Ekonomi, terkait sengketa Perselihan Hasil Pemilihan Umum 2024. Saya ...