Opini
Oleh Bambang Wiwoho pada hari Jumat, 20 Nov 2015 - 09:05:32 WIB
Bagikan Berita ini :

Inilah Jenis-Jenis Kezaliman Penguasa

9cropped-dsc_6553_1446976144657.jpg
Bambang Wiwoho (Sumber foto : Istimewa)

Sahabatku, dalam seri-seri terdahulu kita sudah membahas nasihat Al Ghazali tentang negara yang bermoral dan keteladanan pemimpin, tentang gaya blusukan dan ketakutan Khalifah Umar atas kepemimpinannya yang membiarkan rakyatnya hidup melarat serta makna kezaliman.

Al Ghazali mengingatkan, peranan kepemimpinan sangat menentukan kehidupan masyarakat. Pada hematnya rusak rakyat karena rusak penguasa, dan rusak penguasa karena rusak ulamanya. Ternyata pangkal dari segala kerusakan tersebut adalah para ulama.

Oleh karena itu para ulama harus tegak menjaga fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, penjaga waris Nabi-Nabi dan penegak politik keadilan.

Para ulama dan cendekiawan harus bersikap waspada dan jangan menundukkan diri kepada politik kezaliman, bahkan jika dianggap perlu harus mengambil sikap uzlah, menjauhkan diri dari segala soal yang berbau politik dan pemerintahan.

Perihal kezaliman penguasa, Al Ghazali membagi dalam 3 macam yaitu (1). Zalim terhadap kehormatan dan hak-hak manusia; (2). Zalim terhadap harta benda rakyat; (3). Zalim terhadap jiwa rakyat.

Betapa keras Allah memperingatkan hamba-hambanya agar jangan berbuat zalim, sampai-sampai dituangkan ke dalam 192 ayat suci Al Qur’an. Marilah kita kutip kembali salah satu perintah-Nya:“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberikan kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran.” (An Nahl:90).

Perintah tersebut kemudian dipertegas oleh Rasulullah Saw. dengan menyatakan bahwa sehari keadilan seorang penguasa jauh lebih baik dari 70 tahun beribadah. Bahkan diperkuat lagi, kekuasaan dapat kekal beserta kekufuran, tapi tidak bisa kekal bersama kezaliman.

Hadis ini menguatkan kenyataan yang menunjukkan betapa negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, namun bisa bertahan sejahtera ratusan tahun, lantaran penguasa dan kehidupan masyarakatnya mengutamakan keadilan serta tegas dalam memberantas kezaliman. Tidak jarang diantara kita menyebut mereka bukan islam tapi Islami.

Uraian tentang berbagai nash dalam ajaran Islam berikut Sunnah Rasulullah Saw., menunjukkan bahwa Islam telah mengajarkan kepada umatnya bagaimana bersikap dan berperilaku sebagai pemimpin, baik pemimpin negara, masyarakat maupun agama.

Namun mengapa kenyataan yang kita hadapi sehari-hari dewasa ini seolah-olah bertolak belakang? Para politisi Indonesia, sering menyatakan negara kita sebagai negara demokrasi, dan seperti yang lazim kita pahami, demokrasi itu ditopang oleh empat pilar.

Pertama, penegakan hukum. Sudahkan berjalan dengan baik dan adil. Dari berbagai media massa kita harus jujur masih jauh panggang dari api. Kedua, partai politik. Bagaimana pula kenyataannya? Sudah menjadi rahasia umum, politik kita adalah “politik wani piro.”

Artinya uang lebih berkuasa dan berperan dari norma serta aturan main yang seharusnya. Akibatnya, panggung perpolitikan nasional dikuasai pengusaha-penguasa yang memang menguasai kekuatan uang. Ketiga, media massa. Siapa yang menguasai dan bagaimana keberpihakannya? Juga tak jauh dari pilar kedua.

Keempat, masyarakat sipil. Inilah tumpuan harapan masyarakat luas. Masyarakat banyak yang menderita karena bencana asap yang berbulan memenuhi paru-parunya. Masyarakat yang tidak mampu ikut menikmati kesejukan udara serta kelezatan makanan di mall-mall nan mewah.

Masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan masih mengenakan koteka di tanah kelahirannya yang memiliki gunung emas. Tetapi, sebagaimana firman Gusti Allah Swt.:“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengubah diri mereka sendiri ” (Surat Ar Ra’du:11).

Maka wahai para sahabat, marilah kita saling bahu-membahu, berjuang, bergerak bersatu mengubah nasib masyarakat, nasib kita sendiri, dan bukan hanya sekedar ndremimil ataupun menggerutu.

Yakinlah, Allah Yang Maha Kuasa, Penguasa dari Segala Penguasa, Pemilik Perbendaharaan Langit dan Bumi akan menolong kita, menegakkan keadilan dan menganugerahkan kesejahteraan kepada kita bangsa Indonesia. Aamiin.(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Advertisement
TStrending
#1
Berita

Moge Ditendang Paspampres

Oleh
pada hari Jumat, 26 Feb 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Asisten Intelijen Paspampres Letkol Inf. Wisnu Herlambang membenarkan, video yang memperlihatkan anggota Paspampres menendang sejumlah pengendara motor gede (moge) saat ...
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Kisah Pohon Melindungi Nabi, di Acara Istiqlal Disaster Management Center

Oleh Egy Massadiah Staf Ahli Kepala BNPB
pada hari Jumat, 26 Feb 2021
JAKARTA(TEROPONGSENAYAN)--Masjid Istiqal dirancang Presiden Sukarno. Di bangun di bekas Taman Wilhelmina, masjid yang berdiri di atas lahan 12 hektare ini dari waktu ke waktu makin membanggakan saja. ...
Opini

Ketika Kepala Polisi Memperingatkan Kepala Pemerintahan

JAKARTA(TEROPONGSENAYAN)--Kepala Polisi Federal Australia Komisaris Tinggi Reece Kershaw  (di Australia tidak ada pangkat jenderal dalam kepolisian), yang diangkat oleh pemerintah, dalam ...