Opini
Oleh Dr Kristiya Kartika (Ketua Dewan Kehormatan Nasional Inkindo, Mantan Ketua Umum Inkindo, Sekretaris Umum Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional-LPJKN, dan Vice President, Technical Consultancy Development Program for Asia and the Pacific-TCDPAP yang berpusat di New Delhi) pada hari Rabu, 14 Mar 2018 - 14:41:41 WIB
Bagikan Berita ini :

Proteksionisme Dagang AS dan Dampaknya Bagi Dunia

52IMG_20180314_135929.jpg
Dr Kristiya Kartika (Ketua Dewan Kehormatan Nasional Inkindo, Mantan Ketua Umum Inkindo, Sekretaris Umum Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional-LPJKN, dan Vice President, Technical Consultancy Development Program for Asia and the Pacific-TCDPAP yang berpusat di New Delhi) (Sumber foto : Istimewa )

Presiden AS Donald Trump kembali menyita perhatian dunia. Kebijakan terbarunya, telah menetapkan pengenaan bea masuk bagi impor baja sebesar 25 persen dan alumunium 10 persen. Alasan utamanya, selama ini baja dan alumunium produk dalam negeri AS tidak terserap pasar AS sendiri. Dengan peraturan ini, diharapkan produksi baja dan alumunium produk AS terserap minimum 80 persen. Selain itu AS mendorong agar pemilik peleburan dan industri terkait memindahkan basis usahanya ke AS. Dengan berpindahnya basis usaha ke AS maka akan penambahan lapangan kerja didalam negeri AS.

Tentu saja kebijakan terbaru Trump ini mengundang sejumlah protes dan kekhawatiran, khususnya dari sekutu AS sendiri.

Uni Eropa (UE) sebagai sekutu AS tidak hanya menghendaki perkecualian agar peraturan baru Trump itu tidak dikenakan negara-negara UE. Bahkan UE sudah mempersiapkan gerakan pembalasan. UE sudah mendata sejumlah produk penting AS di pasar Eropa. Produk ini antara lain sepeda motor, busana dan minuman keras. UE akan membalas mengenakan tarif tinggi pada produk-produk itu, jika ekspor mereka ke AS terhambat gara-gara kebijakan baru Trump. Peraturan terbaru diatas tidak dikenakan bagi Meksiko,Kanada dan Australia. Kanada dan Meksiko dikecualikan karena AS menganggap dua negara tersebut dinilai melakukan perdagangan dengan adil. Sedangkan Australia karena ada kerjasama militer antara AS dan Australia. Kanada merupakan negara pengekspor baja terbesar ke AS pada 2017, sebesar 5,53 miliar dollar AS. Sementara Meksiko 2, 97 miliar dollar AS. (Kompas,10/3). Inggris juga termasuk sekutu AS yang memprotes. Bukan mustahil adanya kebijakan Trump ini, AS akan berhadapan dengan sejumlah negara didunia dan akan melibatkan Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO ). Perang dagang bisa terjadi.

Nuansa “American First”

Adalah Wakil Kanselir Jerman Sigmar Gabriel, yang mengatakan beberapa jam setelah Donald Trump menyampaikan Pidato Pelantikan Presiden ke 45 AS, bahwa Trump sangat serius, bukan sekedar janji kontroversial. Menurut Gabriel, apa yang kita dengar dari pidato tersebut adalah nada tinggi nasionalistik. Menurutnya, Jerman dan Uni Eropa harus bersatu untuk mempertahankan kepentingan mereka dan berupaya semaksimal mungkin mencegah semangat nasionalistis AS mencengkeram Eropa.

Sejak awal, Trump mengisyaratkan bahwa AS akan menuju arah lain, khususnya dalam konteks perdagangan dunia. Trump mendesain dan menuju Amerika Serikat baru, dengan seolah-olah mengutamakan kepentingan seluruh Rakyat AS. Slogan yg digunakan : America First !!!

Tetapi karena pidato itu terkesan sangat kontroversial dan patut diduga memiliki tujuan akhir jangka pendek untuk memenangkan pemilihan Presiden, yang kemudian ditengarai adanya kecurangan dengan dugaan penggunaan IT dan keterlibatan Intelijen negara lain, maka kemudian tidak terlalu mengejutkan tatkala pidato tersebut disambut dengan gerakan-gerakan protes. Diantaranya protes kaum hawa pro-minoritas. Protes serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia. Secara khusus, Paus Fransiskus mengingatkan Trump agar peduli terhadap kaum miskin.

Penetapan Peraturan baru minggu lalu tentang tarif impor baja dan alumunium oleh AS tidak mengejutkan. AS akan terus memicu realisasi kepentingan nasional, meski dengan resiko menimbulkan reaksi dan gejolak dunia, dengan mengatasnamakan seluruh kepentingan rakyat Amerika termasuk kalangan miskin. Negara-negara yg terkena dampak Peraturan impor baja dan alumunium ini, dan sudah melakukan protes, khususnya Eropa dan Inggris. Bisa dipastikan negera-negara yang tergabung dalam Trans-Pacific Partnership (TPP) juga akan melakukan “perlawanan”. Jepang diantaranya, pasti akan melakukan gerakan untuk mengantisipasi policy Trump tersebut. Namun Jepang lebih besar kemungkinannya menggunakan pendekatan persuasif. Begitu juga dengan posisi negara kuat non-TPP, seperti Tiongkok tidak akan tinggal diam.

Kepentingan Nasional AS ?

Opini yang terus ditiupkan oleh Trump adalah perdagangan yang adil demi kepentingan masyarakat AS. Isu demi kepentingan masyarakat AS selalu dikumandangkan oleh AS sejak lama bersamaan dengan isu kepentingan masyarakat dunia. Namun dibalik itu, Trump juga sadar bahwa AS punya kelebihan potensi pasar dalam negeri yg cukup kuat. Dan itu merupakan kekuatan tersendiri dalam melakukan bargaining position ( posisi tawar menawar) dengan partner-partnernya diluar negeri.

Secara struktural, didalam masyarakat AS sendiri sedang terjadi pergulatan kepentingan. Kaum yg tertindas termasuk didalamnya kaum minoritas adalah sekelompok rakyat AS yang tertinggal atau bahkan ditinggalkan perkembangan ekonomi AS. Mereka ini adalah pihak yang tidak diuntungkan dengan tema kampanye Trump sejak awal : American First.

Sesungguhnya kelompok kuat yang berada disekitar Trump adalah mereka yang memperoleh manfaat besar dengan policy presiden AS ke 45 itu. Dalam teori stratifikasi sosial, kelompok ini adalah kaum elit yang jumlahnya sedikit, menguasai asset besar dan berada di puncak segitiga struktur sosial masyarakat AS serta memiliki pengaruh besar terhadap penguasa AS.

Policy perdagangan Trump juga diprediksi akan merugikan kaum miskin di dunia. Ditariknya modal AS diluar, dimasukkannya basis usaha dan industri dari negara-negara lain kedalam wilayah AS juga menimbulkan luka dalam berupa berkurangnya lapangan kerja bagi masyarakat dinegara-negara yang sebelumnya menjadi basis modal dan industri besar.

Padahal setelah modal kembali ke AS dan industri beroperasi di AS, sesuai dengan mekanisme neoliberalisme yang telah menjadi keyakinan rezim penguasa AS selama ini, pasti menimbulkan gap yang dalam antara Pengusaha (Owners) dan buruh (karyawan).

Maka tak diragukan lagi, kebijakan pemerintah AS terhadap perdagangan global dan ekonomi pada umumnya, akan melahirkan kesengsaraan bagi kaum miskin didalam dan diluar AS, termasuk di Indonesia.(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa x Teropong Senayan : Qurban
advertisement
TS.com Vacancy: Marketing
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Dinamika Revisi UU Otonomi Khusus Papua

Oleh Yorrys Raweyai Anggota DPD
pada hari Senin, 21 Jun 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Sejak Surat Presiden (Supres) terkait Revisi UU Otonomi Khusus diterima DPR pada 4 Desember 2020, maka berdasarkan penerimaan tersebut, DPR telah menindaklanjutinya sesuai ...
Opini

Mengapa Jokowi Pegang Ganjar

Untuk Pilpres 2024 nanti figur yang telah muncul antara lain nama pasangan Anies-AHY, Anies-Airlangga, Prabowo-Puan, Rizal Ramli-Gatot Nurmantyo. Jokowi nampaknya akan mati tanpa ada penerus ...