Opini
Oleh Zeng Wei Jian (aktivis aktvis Komunitas Tionghoa Anti-Korupsi) pada hari Selasa, 11 Jun 2019 - 11:00:56 WIB
Bagikan Berita ini :

Belajar Dari Hong Kong

tscom_news_photo_1560225656.jpg
Zeng Wei Jian (Sumber foto : Ist)

Satu juta warga Hong Kong turun ke jalan. Mereka tolak RUU Extradisi China. That"s people power.

Narasi yang terbangun melalui grup-grup whatsapp menjadi "Orang Hong Kong saja anti china".

Hari ini, ada oknum menyebarkan hoax. Soal "Posko PKI di Glodok". Padahal itu foto Generasi Angkatan 66 Sumatera Utara mendirikan Posko Perlawan Kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Depan Mesjid Bengkok Medan.

One day in 2016, di debat kandidat capres, Donald Trump menyerang pemerintah China. Kata "China" dimention 12x.

Fox News merespon gembira. Mereka kirim chicken-shit reporter ke China Town di New York. Making fun elderly Chinese.

Ronny Chieng dan Trevor Noah dari Daily News mengecam. Mereka balas dengan tayangan "The O"Reilly Factor Gets Racist in Chinatown".

Bagi mereka, perilaku Fox News tidak bisa ditoleransi, stupid dan absurd. China sebagai negara berbeda dengan "China Town" di New York yang dihuni Warga Negara Amerika keturunan Chinese.

Lebih gilanya, Fox News menyamakan Karate, Tae Kwon Do Dojo dan Mr Miyagi sebagai Chinese. Mr Miyagi adalah tokoh dalam film "Karate Kid" yang diperankan Noriyuki "Pat" Morita, aktor Amerika keturunan Jepang.

Kaum rasis memang dungu. Mereka tidak bisa membedakan China, Chinese, Tionghoa dan China Town. Tetap saja, mereka merasa paling hebat. Do not need anyone else.

Trump bisa menang mutlak seandainya tidak ada element Ku Klux Klan dan White Supremacy di barisan supporters. Begitu pula Hillary Clinton kalah akibat perilaku pengikutnya yang agresif, hipokrit, Go-block dan irasional.

Rasisme sebagai manuver politik berulang kali gagal total memberi kemenangan. Dia berbeda dengan patriotisme. Tidak ada orang sehat yang mau diajak ikut-ikutan membenci.

Narasi "Orang Hong Kong saja anti China" dan provokasi Posko PKI di Glodok punya tendensi serupa.

Seandainya element ini hendak menyatakan diri sebagai rasis Anti China, maka I must conclude; don"t cha worry, indeed the whole world knows that you are.

Tetapi bila menginginkan perubahan maka narasinya mesti diubah i.e. Belajar dari orang Hong Kong yang bahkan berani melawan rezim komunis terkuat di dunia.

THE END (*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Menyuruh Rakyatnya Sendiri Pindah Negara, Narasi Buruk Seorang Presiden

Oleh Didi Irawadi Syamsuddin, S.H.,LL. M
pada hari Jumat, 24 Jul 2026
Seorang Presiden dipilih bukan untuk menyuruh rakyatnya pergi, melainkan untuk memastikan rakyatnya tetap punya alasan mencintai dan bertahan di negerinya sendiri. Ketika rakyat mengeluhkan harga ...
Opini

Dari Bayi dalam Pelukan Messi ke Pewaris Camp Nou Ketika Sejarah Barcelona Menulis Estafet Dua Generasi

Ada foto yang tampak biasa, tetapi kemudian berubah menjadi bagian dari sejarah. Dalam foto yang kembali ramai dibicarakan hampir dua dekade kemudian, Lionel Messi yang masih sangat muda terlihat ...