Oleh oleh: Sarman Simanjorang Ketua Umum DPD HIPPI DKI Jakarta pada hari Kamis, 21 Mei 2020 - 08:30:50 WIB
Bagikan Berita ini :

Terdampak Covid-19, Peredaran Uang Lebaran dari Kota ke Daerah Diprediksi Menurun dari Rp 10,8 Triliun menjadi Rp 2 Triliun

tscom_news_photo_1590024650.jpg
(Sumber foto : dok: Istimewa)

Salah satu momen perputaran uang paling besar di Indonesia adalah saat perayaan Idul Fitri. Pasalnya konsumsi rumah tangga akan naik 2 hingga 3 kali lipat baik untuk kebutuhan pangan maupun sandang serta mengalirnya uang pemudik dari kota ke berbagai daerah tujuan.

Tingginya perputaran uang saat lebaran merupakan tradisi yang sudah berkembang lama di Indonesia. Tak jarang untuk menghadapi momen spesial tersebut, masyarakat sudah manabung jauh-jauh hari untuk dibelanjakan saat lebaran, kemudian untuk pekerja yang mendapatkan THR dan bonus akan membelanjakan-nya saat Hari Raya tersebut.

Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan peredaran uang dalam bentuk uang kartal selama masa Idul Fitri 2019 mencapai Rp 192 triliun, meningkat 13,5 persen dibanding periode sama tahun 2018 yang mencapai Rp191,3 triliun. Sementara untuk Lebaran 2020 karena terdampak covid-19, peredaran uang diperkirakan turun signifikan sebesar 158 triliun atau turun sebesar 17,7% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun jika dilihat realitas saat ini, jumlah penurunan tersebut berpotensi semakin besar. Hal ini bisa dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi nasional kuartal pertama yang hanya mencapai 2,97%.

Setidaknya ada lima alasan yang menyebabkan penurunan peredaran uang atau kebutuhan uang kartal pada Idul Fitri tahun ini, yaitu pertama sumber pendapatan masyarakat menurun akibat kebijakan Work From Home dan PSBB, kedua masyarakat lebih selektif dan berhati hati membelanjakan uangnya, Ketiga pengaturan ulang hari libur dari semula 12 hari menjadi 5 hari, keempat mayoritas pekerja swasta tertunda/ belum menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dan ke lima larangan pemerintah untuk tidak melakukan mudik pada Hari Raya Idul Fitri di tahun ini. Larangan mudik ini sesuatu yang wajar karena potensi pemudik menularkan Covid 19 kepada keluarga dan kerabat dan sahabat dikampung halaman sangat terbuka.

Demi keselamatan Bersama dan untuk mempercepat matinya penyebaran virus covid 19 larangan mudik sesuatu yang harus ditaati

Pada kondisi normal, aliran uang dari kota ke daerah tujuan mudik saat puncak Iduel Fitri selalu naik dari tahun ke tahun. Jika dalam kondisi normal uang yang mengalir ke daerah tujuan mudik tahun 2020 ini diperkirakan sebesar 10,8 triliun naik 13,7% dari tahun 2019 sebesar 9,5 triliun.

Asumsi 10,8 triliun ini dihitung dari jumlah pemudik dari tahun ke tahun juga mengalami kenaikan dalam 4 tahun terakhir. Jika tidak ada Covid 19 maka diperkirakan jumlah pemudik dari Jabodetabek ke berbagai daerah tujuan mudik diperkirakan mencapai 7.640.288 jiwa atau setara 2.546.763 keluarga. Jika setiap keluarga membawa uang rata rata Rp.4.250.000 juta per keluarga maka dana yang mengalir ke daerah tujuan mudik diperkirakan mencapai Rp. 10.823.742 triliun.

Seperti tahun tahun sebelumnya aliran uang dari kota ke daerah akan mampu menggerakkan perekonomian karena para pemudik akan banyak membelanjakan uangnya di kawasan destinasi pariwisata, oleh-oleh khas daerah, aneka produk UKM seperti makanan/kuliner dan kerajinan daerah, batik dan uang lebaran/saku kepada keluarga. Selain itu dalam perjalanan mudik, uang tersebut sudah mulai mengalir pada usaha transportasi Bus, kereta api, travel, rental, SPBU, restoran makanan sepanjang jalan arus mudik/rest area. Umumnya uang pemudik lebih banyak beredar di Jawa Tengah, Jawa Timur,Jawa Barat dan Jogyakarta serta sebagian di Sumatera (Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan) dan sisanya daerah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Namun dampak Covid 19 ini perputaran uang dan aliran ke daerah tidaklah seperti tahun tahun sebelumnya.Yang tadinya diperkirakan aliran uang dari Jakarta ke daerah tujuan wisata sekitar 10,8 triliun diperkirakan akan turun 80% atau hanya sekitar 2 triliun. Dana itupun hannya mengalir melalui kiriman/transfer via bank atau kantor pos dari warga yang masih punya simpanan atau kelebihan untuk dibagikan kepada keluarga di kampung. Sehingga Idul Fitri tahun ini tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah. Harapan para pelaku UKM untuk mendapat omzet dan keberuntungan saat moment lebaran kali ini pupus. Akan tetapi masih ada peluang pada akhir tahun, dimana pemerintah akan memindahkan libur lebaran ke akhir tahun dengan catatan bahwa kondisi ekonomi kita sudah mulai normal dan pendapatan masyarakat sudah mulai membaik sehingga ada kemungkinan mudik dan liburan ke kampung halaman.

Dana Remitansi Diprediksi Turun 20%

Disamping Uang yang mengalir dari kota ke daerah juga ada dana remitansi kiriman uang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke tanah air yang biasanya juga jumlah nya sangat besar saat momen Iduel Fitri. Berdasarkan data Bank Indonesia jumlah remintasi dalam 4 (empat) tahun terakhir sbb;

Remitansi yang dikirim TKI kepada keluarga mereka di Indonesia itu bertujuan supaya keluarga dapat merayakan Lebaran membeli berbagai kebutuhan pangan dan sandang. Biasanya, remitansi menjelang Lebaran akan lebih besar daripada bulan-bulan biasanya.

Bank Dunia atau World Bank memprediksi pengiriman uang atau remintansi global tahun ini turun tajam hingga 20 %. Hal ini sebagai dampak Covid 19 yang menyebabkan terjadinya penurunan upah dan rentan kehilangan pekerjaan akibat sinyal perlambatan, kelesuan serta fluktuasi pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) seperti Hongkong, Korea, Malaysia, dan Timur Tengah.

Survei World Bank, ada 9 juta TKI di luar negeri,jika menjelang lebaran tahun ini mengirimkan rata rata 1juta saja maka daerah akan menerima aliran tambahan sekitar 9 triliun. Namun kondisi tersebut diatas dapat dipastikan bahwa remintansi dana Pekerja Migran Indonesia menjelang lebaran tahun ini juga mengalami penurunan yang tajam.

Dengan Covid 19 yang melanda negara tempat TKI bekerja tentu para TKI juga akan lebih hemat dan punya hitung2an untuk mengirimkan uang ke keluarganya di kampung. Bahkan data dari Kemenaker menyebutkan sudah hampir 34.000 TKI dari Malaysia pulang akibat kebijakan lockdown yang diterapkan di Negara tersebut dan berpotensi semakin bertambah.

Melihat kondisi tersebut diatas maka momen Idul Fitri tahun ini tidak dapat diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi kuartal II sebagaimana tahun tahun sebelumnya, Bahkan kita memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II akan dibawah 2,97% angka pertumbuhan ekonomi kuartal I.

Kita pelaku usaha sangat berharap agar Pemerintah benar benar mampu mengendalikan dan mematikan penyebaran voris Covid 19 ini secepatnya melalui regulasi dan kebijakan yang konsisten,memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan standar protokol yang jelas dan tegas sehingga badai ini cepat berlalu, dunia usaha dapat aktif dan bergairah kembali.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Idul Fitri 1441H Dharma Jaya
advertisement
Idul Fitri 1441H Mendagri Tito Karnavian
advertisement
Idul Fitri 1441H Yorrys Raweyai
advertisement
Idul Fitri 1441H Nasir Djamil
advertisement
Idul Fitri 1441H Sukamta
advertisement
Idul Fitri 1441H Irwan
advertisement
Idul Fitri 1441H Arsul Sani
advertisement
Idul Fitri 1441H Cucun Ahmad Syamsurijal
advertisement
Idul Fitri 1441H Abdul Wachid
advertisement
Idul Fitri 1441H Puteri Komarudin
advertisement
Idul Fitri 1441H Adies Kadir
advertisement
Idul Fitri 1441H Mohamad Hekal
advertisement
Idul Fitri 1441H Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Lainnya
Opini

Perekonomian Dunia Tidak Akan Sama Lagi dengan Sebelum Pandemi

Oleh Andi Rahmat, Pelaku Usaha, Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI
pada hari Senin, 25 Mei 2020
Pandemi Covid-19, sebagaimana yang dinyatakan kolumnis CNN, Nic Robertson dalam artikelnya, “The Pandemic Could Reshape The World Order” (CNN,23/05/2020 ) bahwa pandemi tidak hanya ...
Opini

Tradisi Halal Bihalal dan Makna Kata Maaf Presiden

Mengapa di Indonesia ada tradisi #halalbihalal yang tidak ada di negeri lain? Tradisi Halal bihalal telah berdampak sosial & politik dalam masyarakat. Secara sosial kehidupan bernegara lebih cair ...