Oleh Rihad pada hari Kamis, 07 Jan 2021 - 21:07:35 WIB
Bagikan Berita ini :

Hanya 4 Negara Yang Bertahan Lawan Pandemi, Bagaimana dengan Indonesia?

tscom_news_photo_1610028459.png
Ilustrasi pabrik (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Dampak Covid terhadap ekonomi benar-benar nyata.Konglomerat yang juga pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, menuturkan yang terjadi sudah terjadi masih dalam fase krisis finansial. "Domino effect-nya sangat kuat. Segala usaha di AS terdampak serius. Ini kita harus tahu ada dua krisis. Fincial crisis dan economic crisis," katanya.

Dia menambahkan perbankan di AS pun sudah mengalami masalah likuiditas. Makanya Pemerintahan Presiden Donald Trump sudah menyuntikkan dana hingga USD 4 triliun ke sistem perbankan. Menurutnya, fase saat ini masih krisis finansial. "Namun economic crisis belum muncul, akan muncul 1 atau 2 tahun kemudian. Ini bahaya. Caranya bagaimana mengatasi kesulitan ini? Situasinya sangat kritis," ujar Mochtar Riady.

Mochtar Riady menuturkan sejumlah prasyarat, agar suatu negara bisa survive (bertahan) dari krisis ekonomi akibat virus corona. Yakni wilayahnya besar, sumber dayanya kaya, populasi penduduknya banyak, memiliki pasar dalam negeri yang kuat, serta penguasaan teknologinya kuat.

Dengan prasyarat itu yang akan survive cuma 4 yakni AS, Tiongkok, India, dan Europe Union.

Apakah Indonesia punya peluang untuk bertahan? Jawabnya bisa. Asalkan Indonesia merangkul ASEAN, sehingga bisa menjadi kawasan yang ke-5 bertahan dari dampak ekonomi akibat virus corona. Tanpa penyatuan dan sinergi, lanjut Mochtar, anggota-anggota ASEAN akan kesulitan.

Ekonomi Indonesia

Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di Jawa dan Bali mulai tanggal 11 sampai 25 Januari 2020 juga akan berdampak juga ke perekonomian karena aktivitas masyarakat terbatas.

Direktur Riset CORE, Piter Abdullah, mengatakan langkah yang diambil pemerintah kali ini tidak akan otomatis membuat ekonomi anjlok.

“Selama tidak diberlakukan PSBB secara penuh atau lockdown, dampak ke perekonomian saya kira tidak akan besar. Tidak akan menurunkan perekonomian yang sudah rendah,” kata Piter saat dihubungi, Kamis (8/1).

Piter mengungkapkan dampak dari pembatasan tersebut ke perekonomian lebih kepada menahan proses recovery. Meski begitu, ia tidak mempermasalahkan mundurnya proses pemulihan perekonomian di Indonesia.

Piter merasa dengan kondisi saat ini langkah pengetatan untuk mengatasi COVID-19 memang harus dilakukan. Sehingga nantinya bakal berdampak baik juga ke perekonomian.

“Pengetatan ini memang kita butuh kan. Menurunkan kasus positif harus diutamakan. Kalau terjadi ledakan kasus sehingga harus PSBB ketat justru pemulihan ekonomi akan terganggu,” ungkap Piter.

Sebagai pengingat, laju ekonomi kuartal I 2020 anjlok menjadi 2,97 persen. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya masih tumbuh 5,07 persen. Pelemahan kian memburuk pada kuartal II 2020 ke minus 5,32 persen.

Namun, menurut Menteri Keuanhan Sri Mulyani, kebijakan PSBB tetap diperlukan. Ia meminta masyarakat untuk ikut aktif dalam mendukung upaya pemerintah dalam menanggulangi penyebaran virus corona dengan mematuhi protokol kesehatan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai kebijakan pemerintah akan membuat investor bingung. Padahal, sebelumnya, distribusi vaksinasi dianggap dapat kembali meningkatkan mobilitas masyarakat.

Bhima memperkirakan PSBB Jawa-Bali akan membuat laju ekonomi kuartal I 2021 berada di kisaran 1 persen. Kendati demikian, apabila kebijakan itu berlanjut hingga Januari, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 berpotensi negatif.

Bank Dunia (World Bank) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 berada pada level 4,4% (year on year/yoy).

Proyeksi Bank Dunia tersebut sama dengan proyeksi sebelumnya, yang pernah dirilis pada September 2020 lalu.Hal tersebut disampaikan dalam laporan terbarunya, "Global Economic Prospects (GEP)" Januari 2021 yang dirilis pada Selasa (5/1/2021).

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih belum akan berada pada kisaran 5% hingga tahun 2022. Di mana proyeksi Bank Dunia pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 mencapai 4,8% (yoy).

tag: #covid-19  #ekonomi-indonesia  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Zoom

Industri Manufaktur Turun 75 Persen Akibat Pandemi, Apa Solusinya?

Oleh Yoga
pada hari Rabu, 20 Jan 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Dalam kondisi pandemi Covid – 19 yang dialami Indonesia saat ini ternyata juga menghantam ekonomi nasional termasuk sektor industri manufaktur, industri dan produk ...
Zoom

Mengapa Bisa Terjadi Banjir Bandang di Puncak?

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Banjir bandang menerjang Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Puncak pada Selasa (19/1). Daerah itu disebut kawasan Gunung Mas.  Camat Cisarua, Deni Humaedi, ...