Oleh Syahganda Nainggolan pada hari Senin, 03 Jun 2024 - 17:05:27 WIB
Bagikan Berita ini :

Ibukota Negara Gagal?

tscom_news_photo_1717409127.jpg
Syaganda Naklinggolan (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Dua alumni ITB yang sangat hebat dan mumpuni dalam membangun kawasan, yang ditugasi Jokowi membangun ibukota negara (IKN) mengundurkan diri sekaligus. Langkah ini hanya berselang sekitar dua bulan Sudrajat Djiwandono, ekonom Partai Gerindra, sekaligus abang ipar Presiden Prabowo, menyampaikan bahwa tidak ada urgensinya IKN saat ini.

Sudrajat - yang kedua anaknya diperintahkan Prabowo sebagai inti tim sinkronisasi pemerintahan ke depan, mengatakan hal itu pada wawancara dengan Kompas TV.

Tim sinkronisasi sendiri melakukan langkah awalnya beraudiensi dan diskusi dengan menteri keuangan, Sri Mulyani, tentang situasi keuangan negara ke depan. Barangkali, disitu terungkap pula, tidak ada peluang negara ke depan untuk melakukan projek2 mercusuar, khususnya IKN.

Tanpa kepemimpinan teknokratik yang kuat, seperti Bambang Susantono, eks ketua alumni teknik sipil ITB, dan Dhony, alumni arsitektur ITB, dan eks petinggi Sinarmas Land, yang mundur, serta tidak adanya dukungan Prabowo ke depan, setidaknya terlihat dari pikiran Djiwandono, maka sudah dapat dipastikan IKN akan mangkrak atau bermasalah.

Prabowo sendiri memang berniat akan melanjutkan program Jokowi untuk IKN itu, tapi bisa dilakukan secara bertahap antara 25-30 tahun ke depan. (lihat CNN Indonesia, "Prabowo Blak-blakan Alasan Mau Lanjutkan Projek Pindah Ibukota Jokowi", 16/5, dalam isinya: "Perhitungannya adalah kami membutuhkan 25 tahun hingga 30 tahun untuk menyelesaikan modal ini. Jadi, jika Anda mengatakan US$30 miliar selama 30 tahun, itu berarti US$1 miliar per tahun. Ekonomi Indonesia, anggaran Indonesia bisa memenuhi itu.").

Pernyataan seperti ini, yang disampaikan di Qatar Economic Forum, berbeda ketika Prabowo memberi pernyataan tentang program makan siang gratis, dengan penuh penghayatan, keyakinan, dan keharusan. Meskipun kita akhirnya tahu, program raksasa makan siang gratis bisa saja mengalami nasib yang sama, namun program seperti ini, diyakini Prabowo, berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat miskin.

Ibukota Tetap di Jakarta

Pernyataan Sudrajat Djiwandono tidak ada urgensinya IKN dan pernyataan Prabowo IKN akan diteruskan selama 25-30 tahun merupakan kenyataan politik yang harus dihadapi Jokowi. Bisa ini dimaknai Prabowo, sebagai kepala negara, akan tetap berkantor di Jakarta. Tim sinkronisasi pemerintahan ke depan juga tidak berisikan "orang-orang Jokowi", sehingga upaya menuntaskan IKN dalam waktu dekat akan segera sirna.

Sesungguhnya soal IKN ini adalah sebuah dramaturgi, di mana krisis ekonomi dan kesehatan melanda dunia ketika pandemi covid-19 terjadi. Diantara hilangnya kepercayaan diri kita, Jokowi berusaha membuat drama besar, seolah-olah kita masih mampu membangun projek mercusuar. (Lihat Syahganda dalam debat CNN TV:
https://youtu.be/geHTEYQlSuk?feature=shared).

Padahal ide pemindahan ibukota, yang sudah diusung timses Jokowi (Andrinof Chaniago, Jehansyah Siregar, dll) sejak awal, tidak pernah didalami ketika ekonomi kita masih baik pada periode pertama Jokowi. Drama ini akhirnya membebani fiskal sangat besar serta mendeligitimasi Jakarta sebagai ibukota bersejarah.

Gotot Nurmantyo, mantan Panglima TNI, suatu waktu ketika bertemu dengan Dr. Jehansyah, mengkritik kelompok Jehan yang tidak memasukkan analisa pertahanan IKN. Menurut Gatot, invasi militer asing dapat melumpuhkan ibukota negara IKN hanya dalam dua jam. Jadi rencana IKN ini begitu serampangan dari aspek hankam.

Sekarang, meskipun UU DKJ yang baru disahkan DPR mengatakan Jakarta tetap ibukota sampai Jokowi membuat surat keputusan, kelihatannya situasi dampak mundurnya ketua dan wakil ketua IKN menunjukkan rencana IKN telah gagal. Apakah Jokowi akan berani membuat SK pindah ibukota dalam waktu sisa kepresidenannya?

Sekarang kita lihat lagi apakah ulang tahun kemerdekaan kita 17 Agustus akan berlangsung di sana? Apakah alokasi APBN 2024 yang tersisa dialihkan untuk program mercusuar Prabowo, yang lebih konkrit untuk gizi rakyat? Apakah pemerintah jadi menjual gedung-gedung bersejarah di Jakarta ke asing sebagai bagian rencana pembiayaan? Saya memprediksi tanpa adanya dukungan presiden terpilih Prabowo, maka ibukota tetap akan di Jakarta.

Penutup

Program pemindahan ibukota akhirnya melemah setelah dua pimpinan teras IKN mundur. Keuangan negara juga tidak membaik. Ekonomi terus memburuk. Sementara Prabowo mementingkan adanya anggaran Rp. 530 triliunan untuk gizi rakyat, bukan IKN. Maka hampir pasti proyek IKN gagal dan Jokowi kehilangan "sinarnya".

Sudah saatnya Rakyat Indonesia bangga bahwa kita akan tetap mempunyai ibukota bersejarah. Sebuah ibukota yang merepresentasikan sejarah panjang perjuangan anti-kolonial dan juga perjuangan menyatukan Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Minang, Jong Menado, Jong Atjeh, Jong Sunda, Jong Bugis-Makassar, dan lainnya dalam sebuah "melting pot" ke Indonesiaan kita.

Jika ibukota gagal pindah, maka Jokowi akan dikenang sebagai beban sejarah bangsa ini.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
Dompetdhuafa X TS : Qurban
advertisement
Lainnya
Opini

Rakyat Layak Bangkit dan Berontak

Oleh Rizal Fadila
pada hari Rabu, 12 Jun 2024
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Persiapan pelaksanaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 79 di IKN Puser Penajam terus dilakukan. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyatakan persiapan telah mencapai 90 ...
Opini

Telkom Sang Gladiator Tanpa Perisai Tengah Menunggu Ajal

Perusahaan teknologi informasi milik kebanggaan rakyat Indonesia yakni PT. Telkom (Persero) kini tengah dalam fase mengkhawatirkan. Pasalnya, perusahaan plat merah tersebut eksistensinya tengah ...