
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Di pelosok Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, jalan menuju ruang kelas tidak selalu berupa lorong sekolah yang mudah dilalui. Bagi Ibu Yustina Yuniarti, Guru Honorer SDK Wukur, Sikka, Nusa Tenggara Timur, perjalanan menuju tempat mengajar adalah bentangan panjang pengabdian.
Setiap hari, ia menempuh sekitar 6 kilometer menuju sekolah, melewati jalan setapak, hutan, dan medan yang tidak ringan, namun tetap membawa semangat yang sama: memastikan anak-anak di SDK Wukur tetap belajar dan berani bermimpi.
Selama 11 tahun, Yustina mengabdikan diri di sekolah tersebut. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, ia memilih tetap bertahan sebagai pendidik. SDK Wukur saat ini menjadi ruang belajar bagi 34 siswa dengan didampingi delapan tenaga pendidik. Di tempat yang sederhana itu, proses belajar tidak hanya dibangun dari buku dan papan tulis, tetapi juga dari ketulusan para guru yang terus hadir meski harus menempuh perjalanan panjang setiap hari.
“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati,” tutur Yustina.
Kisah Yustina menjadi potret kecil dari keteguhan para pendidik di daerah yang terus menjaga nyala pendidikan meski berada dalam keterbatasan. Perjuangannya juga mengingatkan pada semangat ibu-ibu Mekaar, perempuan-perempuan prasejahtera yang setiap hari berjuang dengan cara masing-masing untuk keluarga, pendidikan anak, dan masa depan yang lebih baik.
Ada ketulusan yang sama: berjalan dalam sunyi, bekerja tanpa banyak sorotan, tetapi meninggalkan dampak yang panjang bagi kehidupan orang lain.
Sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Peduli hadir memberikan dukungan sosial kepada Ibu Yustina. Bantuan ini menjadi wujud kepedulian terhadap sosok pendidik yang tidak hanya mengajar dengan ilmu, tetapi juga dengan hati.
Kehadiran PNM #PNMuntukUMKM#PNMPemberdayaanUMKM diharapkan dapat menjadi penguat langkah bagi Yustina dan para pendidik lainnya yang terus bertahan menjaga harapan di ruang-ruang kelas sederhana.
“Terima kasih PNM sudah hadir membantu saya. Dukungan ini sangat berarti, bukan hanya untuk saya, tetapi juga menjadi semangat baru agar saya bisa terus mengajar anak-anak di sini. Semoga perhatian seperti ini membuat kami semakin kuat untuk tetap menjalankan tugas dengan hati,” ujar Yustina.
Bagi PNM, ketulusan Yustina adalah pengingat bahwa pemberdayaan tidak hanya hidup di ruang usaha, tetapi juga di ruang kelas, di jalan-jalan sunyi yang ditempuh para pendidik, dan di setiap langkah kecil yang membuka masa depan anak-anak Indonesia.