Oleh Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M. Lawyer | Writer | Politician pada hari Minggu, 05 Jul 2026 - 15:16:30 WIB
Bagikan Berita ini :

Ketika Rakyat Diharuskan Berhemat, Kekuasaan Berpesta Program

tscom_news_photo_1783239390.jpg
Didi Irawadi Syamsuddin Politikus Partai Demokrat (Sumber foto : Istimewa)

Sebuah negara tidak runtuh hanya karena ekonomi melemah. Negara mulai kehilangan arah ketika hukum terasa semakin tajam kepada sebagian orang, tetapi tumpul kepada sebagian yang lain. Saat itulah kepercayaan publik perlahan menghilang, dan keadilan berubah dari hak setiap warga menjadi kemewahan yang hanya dapat dijangkau oleh mereka yang memiliki kuasa.

Di tengah berbagai program besar yang menyerap anggaran, masyarakat masih menyaksikan guru honorer yang memperjuangkan kesejahteraan, pekerja yang kehilangan mata pencaharian akibat gelombang PHK, harga kebutuhan pokok yang terus menekan daya beli, dan banyak keluarga yang semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pertanyaan yang terus muncul bukanlah apakah program-program tersebut memiliki niat baik, melainkan apakah prioritas anggaran benar-benar menjawab persoalan yang paling mendesak.

Satire terbesar dalam kehidupan berbangsa adalah ketika pidato tentang keadilan terdengar semakin lantang, tetapi rasa keadilan justru semakin sulit dirasakan. Ketika koperasi dibangun di mana-mana, namun usaha kecil masih kesulitan memperoleh modal. Ketika program makan bergizi menjadi kebanggaan, tetapi banyak keluarga masih bingung bagaimana memenuhi kebutuhan hidup hingga akhir bulan. Ketika statistik dipoles sedemikian indah, tetapi kenyataan di pasar, di sekolah, dan di meja makan rakyat bercerita sebaliknya.

Keadilan bukan sekadar slogan. Keadilan adalah keberanian menegakkan hukum secara setara, keberanian menyusun anggaran berdasarkan kebutuhan rakyat, dan keberanian mengakui bahwa kesejahteraan sejati tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari kebijakan yang tepat sasaran, transparan, dan berpihak kepada seluruh rakyat.

Karena ketika hukum tidak lagi menjadi milik semua orang, yang memudar bukan hanya keadilan. Yang ikut hilang adalah harapan bahwa setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk hidup lebih sejahtera.

#KeadilanUntukSemua
#HukumHarusAdil
#PrioritasUntukRakyat
#GuruHonorer
#LawanPHKMassal
#SembakoMahal
#TransparansiAnggaran
#KesejahteraanRakyat
#IndonesiaButuhKeadilan
#SuaraRakyat

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
Lainnya
Opini

MENGHENTIKAN TEKANAN BERKESINAMBUNGAN

Oleh Dr Ichsanuddin Noorsy BSc., SH., M.Si
pada hari Minggu, 05 Jul 2026
Sejak Indonesia   patuh pada UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing dan sejumlah regulasi lain atas dikte pihak asing pada 1967-1968, rakyat Indonesia sudah terjerat oleh kekuatan ...
Opini

Menilik Status Kepemilikan Lapangan Golf Rawamangun vs Senayan: Antara Warisan Sejarah dan Aset Negara.

*TEROPONGSENAYAN – JAKARTA* – Lapangan golf di tengah megahnya megapolitan Jakarta bukan sekadar ruang terbuka hijau atau arena rekreasi kaum jetset. Lebih dari itu, lapangan golf di ibu ...