
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Besarnya ekosistem Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di sektor pendidikan, kesehatan, sosial, hingga kegiatan ekonomi membuat Muhammadiyah menjadi salah satu kekuatan penting dalam menopang pergerakan ekonomi Indonesia.
Anggota Komisi XI DPR RI sekaligus Sekretaris Fraksi PAN, Ahmad Najib Qodratullah, menyebut kontribusi tersebut tercermin dari besarnya jumlah AUM yang tersebar di berbagai daerah.
"Berdasarkan AUM, hari ini ada 171 perguruan tinggi, ada 7.000 sekolah dan madrasah, ada 1,1 juta siswa. Bayangkan 1,1 juta siswa," kata Ahmad Najib, dalam reses bersama Keluarga Besar Muhammadiyah Kabupaten Bandung, Minggu 9 Agustus 2026.
Menurutnya, keberadaan ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah turut meringankan beban pemerintah dalam menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat.
Ia bahkan menyebut pemerintah akan kesulitan apabila seluruh fasilitas pendidikan dan kesehatan yang selama ini dijalankan Muhammadiyah harus dibangun dan dikelola sendiri oleh negara.
Hal serupa, lanjut dia, terjadi pada sektor kesehatan. Muhammadiyah telah memiliki berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari klinik hingga rumah sakit, yang ikut memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Kalau pemerintah harus membangun fasilitas kesehatan, baik itu klinik sampai rumah sakit, kalau tidak ada Muhammadiyah harus berapa banyak yang dibangun?" sambungnya
Ahmad Najib menilai kontribusi Muhammadiyah tidak berhenti pada sektor pendidikan, kesehatan dan sosial. Persyarikatan juga telah membangun aktivitas ekonomi yang secara langsung berkaitan dengan pergerakan ekonomi masyarakat.
Mulai dari perbankan, UMKM, koperasi, pembiayaan syariah hingga investasi telah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi Muhammadiyah.
"Bayangkan kalau itu tidak dilakukan oleh Muhammadiyah. Jadi kader Muhammadiyah harus bangga karena bukan saja bermain di level kabupaten, tetapi sudah dalam kancah nasional," katanya.
Ia menilai besarnya kekuatan ekonomi warga Muhammadiyah bahkan berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap industri perbankan nasional.
"Kalau Muhammadiyah saja menghentikan atau menarik uangnya dari salah satu bank, saya yakin bank itu langsung rush. Bangkrut bank itu, betul," ujar Ahmad Najib.
Menurut dia, potensi tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki kekuatan ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Karena rata-rata perbankan kita, bahkan bank terbesar swasta nasional kita, masih keneh beunghar Muhammadiyah," katanya.
Ahmad Najib mengaku tengah menyusun skema untuk memetakan seberapa besar kontribusi Muhammadiyah terhadap perekonomian Indonesia.
Ia menggambarkan Muhammadiyah sebagai sebuah ekosistem ekonomi yang terhubung langsung dengan perekonomian nasional.
Di dalamnya terdapat AUM yang bergerak di sektor pendidikan, kesehatan, sosial dan berbagai bidang lainnya. Ekosistem tersebut kemudian terhubung dengan pasar, UMKM, pembiayaan syariah, produksi, investasi hingga penciptaan lapangan kerja.
"Di sini ada AUM, di dalamnya ada pendidikan, kesehatan, sosial dan seterusnya yang kemudian nanti kita kapitalisasi. Di sini juga ada pasar layanan yang melayani jutaan masyarakat," jelasnya.
Menurutnya, pasar pendidikan Muhammadiyah saat ini bahkan tidak lagi terbatas pada warga Persyarikatan.
Sekolah-sekolah Muhammadiyah, kata dia, semakin diminati masyarakat umum karena kualitas dan fasilitas yang ditawarkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AUM pendidikan telah memiliki kekuatan pasar tersendiri.
"Sekolah-sekolah Muhammadiyah hari ini tidak hanya diakses oleh keluarga Muhammadiyah. Apalagi di tempat-tempat tertentu menjadi tempat favorit," katanya.
Ia mencontohkan adanya orang tua yang bahkan telah mendaftarkan anaknya untuk bersekolah di Muhammadiyah beberapa tahun mendatang.
"Artinya market dari fasilitas pendidikan Muhammadiyah itu sudah tidak sejajar lagi dengan tempat-tempat lain, tetapi sudah di atas sehingga diakses oleh keluarga non-Muhammadiyah. Ini menjadi penting," sambungnya.
Selain pendidikan, sektor UMKM dan pembiayaan syariah juga dinilai menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Begitu pula keberadaan Lazismu, aktivitas produksi, investasi serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Besarnya AUM Muhammadiyah juga berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja.
Ahmad Najib menilai ribuan sekolah, perguruan tinggi, fasilitas kesehatan dan unit usaha Muhammadiyah menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Menurutnya, besarnya penyerapan tenaga kerja tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Muhammadiyah memiliki efek ekonomi berantai.
"Kalau sekolah Muhammadiyah ditutup, saya yakin ada lonjakan pengangguran dan apabila mereka berani melakukan itu pertumbuhan ekonomi pun akan merosot. Karena apa? Karena begitu besar kontribusi Muhammadiyah terhadap pergerakan ekonomi," tegasnya.
Lebih jauh, Ahmad Najib menyebut estimasi nilai aset ekonomi Muhammadiyah pada tahun 2025-2026 mencapai sekitar Rp454 triliun.
Angka tersebut, menurutnya, hampir seperempat dari nilai APBN Indonesia. Namun, ia menegaskan angka itu masih berupa estimasi dan sangat mungkin belum menggambarkan keseluruhan kekuatan ekonomi Muhammadiyah.
"Estimasi nilai aset ekonomi Muhammadiyah 2025-2026 adalah Rp454 triliun. Itu jumlahnya hampir seperempat APBN kita. Dan saya sangat meyakini data saya ini belum lengkap," ungkapnya.
Ia mengaku masih membutuhkan data yang lebih komprehensif mengenai AUM, termasuk kapitalisasi aset dan aktivitas ekonomi yang dijalankan.
Pasalnya, data yang diperoleh saat ini lebih banyak mencatat jumlah AUM, sementara nilai kapitalisasi dan kontribusi ekonominya belum sepenuhnya terpetakan.
"Nah itu yang menjadi PR saya. Doakan saya sehat untuk kemudian saya punya data tentang Muhammadiyah sejauh mana memberikan kontribusi terhadap negeri ini," katanya.
Karena itu, Ahmad Najib mendorong Muhammadiyah mulai melakukan pembaruan dan digitalisasi data seluruh AUM.
Menurutnya, besarnya aset dan aktivitas ekonomi Muhammadiyah harus diimbangi dengan sistem pendataan yang akurat agar potensi ekonomi Persyarikatan dapat dihitung dan dikembangkan secara lebih terukur.
"Zaman sudah berubah, semua serba digital. Dengan jumlah aset yang begitu besar, kalau segera tidak diperbaiki, saya sangat khawatir melihat potensi yang begitu luar biasa itu harus segera melalui proses-proses digitalisasi," tandasnya.
Ia berharap pemutakhiran data tersebut dapat menjadi langkah awal untuk melakukan riset lebih mendalam mengenai kontribusi Muhammadiyah terhadap perekonomian nasional.
"Ini adalah awal dari saya juga untuk melakukan riset-riset kecil, untuk bagaimana kemudian bisa memberikan kontribusi terhadap Muhammadiyah," pungkasnya.