Berita
Oleh Sahlan Ake pada hari Jumat, 02 Okt 2026 - 22:42:37 WIB
Bagikan Berita ini :

Nurul Arifin Soroti Kesenjangan Akses dan Literasi Digital

tscom_news_photo_1790955757.jpg
Nurul Arifin Anggota DPR Komisi I DPR RI (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA SELATAN (TEROPONGSENAYAN) -- Ketika akses internet semakin luas, kemampuan masyarakat dalam menggunakan ruang digital secara aman, bijak, dan bertanggung jawab masih menjadi pekerjaan penting. Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin, M.Si., dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Komisi I DPR RI bertema “Cakap Bermedia Digital”, di Studio Cikajang, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

Nurul menyoroti bahwa tingginya penetrasi internet belum otomatis menunjukkan tingginya kecakapan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi. Berdasarkan data APJII 2025 yang dipaparkan dalam kegiatan, pengguna internet Indonesia telah mencapai sekitar 229 juta orang atau 80,66 persen dari total populasi.

Di sisi lain, Indeks Literasi Digital Indonesia (ILDI) 2024 berada di angka 3,54 dan masih dalam kategori sedang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perluasan akses internet perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi secara aman, etis, dan cerdas.

Dalam paparannya, Nurul menjelaskan empat pilar yang menjadi fondasi literasi digital, yakni Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital. Keempatnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga bagaimana masyarakat melindungi data pribadi, membangun ruang digital yang inklusif, serta berkomunikasi secara santun dan bertanggung jawab.

Ancaman di ruang digital juga semakin nyata. Materi kegiatan mencatat kerugian akibat penipuan online mencapai sekitar Rp2,6 triliun hingga Mei 2025, sementara kerugian ekonomi akibat kejahatan siber pada 2024 mencapai sekitar Rp18 triliun, dengan sekitar 26,7 juta serangan phishing.

Menurut materi yang disampaikan, masyarakat juga perlu mewaspadai berbagai konten negatif seperti hoaks, cyberbullying, fitnah, dan ujaran kebencian. Derasnya arus informasi membuat kemampuan memeriksa sumber, konteks, dan kebenaran informasi sebelum membagikannya menjadi semakin penting.

Nurul juga menekankan lima kunci untuk menjadi pengguna media digital yang cakap, yakni berpikir kritis, berkomunikasi secara etis, menjaga keamanan dan privasi, menggunakan AI secara bijak, serta memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif.

Penggunaan AI, misalnya, perlu disertai proses verifikasi terhadap hasil yang diberikan. Sementara password, OTP, dan data pribadi harus dijaga dan tidak dibagikan sembarangan. Media digital juga perlu diarahkan untuk mendukung aktivitas belajar, bekerja, berusaha, berkarya, hingga menyampaikan aspirasi secara positif.

Pesan tersebut diperkuat Yulis Widyo Marfiah, Plt. Direktur Layanan TI Bidang Usaha BAKTI Komdigi RI, yang menekankan pentingnya kemampuan mencari, menyaring, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara etis. Pengguna juga perlu memahami pengaruh FOMO dan algoritma media sosial yang dapat membuat seseorang terus menerima informasi sesuai minat atau pandangannya.

Karena itu, informasi yang diterima perlu diperiksa melalui sumber, alamat situs, konteks, dan perbandingan dengan sumber lain. Dalam penggunaan AI, teknologi dapat menjadi alat bantu, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa dan tidak menggantikan proses berpikir manusia.

Sementara itu, Wina Erwina, M.A., Ph.D., Dosen Universitas Padjadjaran, menekankan bahwa kecakapan bermedia digital juga berkaitan dengan kemampuan mengakses, mencari, menyaring, dan mengolah informasi secara bertanggung jawab.

Ia mengingatkan pentingnya verifikasi sebelum menyebarkan informasi, menjaga keamanan identitas, menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, serta berhati-hati terhadap tautan dan lampiran dari sumber yang tidak dikenal karena dapat menjadi sarana phishing.

Pada akhirnya, kecakapan digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Kecakapan digital adalah kemampuan untuk berpikir kritis sebelum percaya, berhati-hati sebelum membagikan, menjaga keamanan sebelum bertindak, dan mempertimbangkan dampak setiap aktivitas di ruang digital.

Melalui Sosialisasi Merajut Nusantara, BAKTI Komdigi bersama Komisi I DPR RI mendorong masyarakat agar tidak berhenti pada status sebagai pengguna internet, tetapi berkembang menjadi warga digital yang cerdas dalam berpikir, bijak dalam berbicara, aman dalam bertindak, dan produktif dalam berkarya.

Kegiatan yang dipandu Alyvia Putri sebagai MC dan Ayu Amelia sebagai moderator tersebut turut diisi pembacaan doa oleh M. Luqman Addzikri serta hiburan dari SC Band.

tag: #dpr  #partai-golkar  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement