
TANGERANG SELATAN (TEROPONGSENAYAN) -Ancaman siber dan kebocoran data yang terus berkembang menuntut masyarakat untuk tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan digital. Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Gavriel P. Novanto, BA., M.Sc. dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Membangun Ketahanan Digital di Tengah Ancaman Siber dan Kebocoran Data” yang digelar BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Komisi I DPR RI di Digi Studio, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Senin (10/8/2026).
Gavriel mengatakan, perkembangan teknologi telah mempermudah komunikasi, pendidikan, transaksi ekonomi, layanan publik hingga aktivitas UMKM. Namun, semakin luas aktivitas digital juga memperbesar ruang serangan siber. Karena itu, keamanan siber tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi berkaitan langsung dengan perlindungan masyarakat serta keberlangsungan pemerintahan dan perekonomian.
Ia menyebut, pada 2024 Indonesia memiliki sekitar 221,6 juta pengguna internet dengan penetrasi 79,5 persen, disertai sekitar 330,5 juta anomali trafik dan 26,77 juta aktivitas phishing. Pada 2026, jumlah pengguna internet diperkirakan mencapai 235,26 juta dengan penetrasi 81,7 persen. APJII juga mencatat 13,6 persen pengguna pernah mengalami penipuan online dan 7,8 persen mengalami pencurian data, peretasan, atau phishing.
Menurut Gavriel, ketahanan digital bukan sekadar mencegah serangan, tetapi juga mencakup kemampuan mendeteksi, merespons, memulihkan, dan belajar dari insiden. Ancaman kini semakin adaptif, termasuk penggunaan AI dalam serangan siber. Faktor manusia, kelalaian, serta rekayasa sosial juga menjadi celah yang perlu mendapat perhatian serius.
Dalam kesempatan yang sama, Plt. Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi RI Darien Aldiano menjelaskan bahwa ketahanan digital mencakup kemampuan organisasi untuk beradaptasi dan tetap beroperasi ketika menghadapi serangan siber maupun gangguan teknis. Menurutnya, penguatan tersebut perlu dilakukan melalui adaptasi sistem, pemulihan secara proaktif, dan pembangunan budaya keamanan.
Darien juga menekankan pentingnya penerapan Zero Trust Architecture, perlindungan data melalui enkripsi dan MFA, audit serta pengujian keamanan, edukasi terhadap phishing dan rekayasa sosial, hingga penyusunan Incident Response Plan dan Disaster Recovery/Business Continuity.
Ketahanan digital, menurutnya, harus dibangun dan diuji secara berkelanjutan.
Sementara itu, Pegiat Literasi Muhammad Makmun Rasyid mengingatkan bahwa ancaman di ruang digital tidak hanya menyasar sistem, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi, sikap, dan perilaku masyarakat melalui hoaks, disinformasi, propaganda digital, manipulasi visual, hingga deepfake.
Ia menekankan pentingnya memeriksa konteks dan sumber informasi serta tidak menjadikan jumlah like, komentar, atau share sebagai ukuran kebenaran. Menurutnya, ketahanan digital mencakup kesadaran digital, infrastruktur yang andal, etika dan literasi digital, perlindungan privasi, serta keamanan data.
Penguatan ketahanan digital membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat. Di tingkat individu, masyarakat didorong untuk menerapkan kebiasaan sederhana melalui konsep PAWAN, yakni menggunakan Password yang kuat dan unik, mengaktifkan 2FA/MFA, Waspada terhadap tautan dan file asing, Amankan Wi-Fi, serta menghindari over-sharing informasi pribadi seperti KTP, KK, dan tiket perjalanan di media sosial.
Kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat agar lebih aman, kritis, dan bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai risiko di ruang digital.